Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
SERBUAN pandemi virus korona baru (Covid-19) memupuk momen langka persatuan antara para pemimpin Israel dan Palestina. Tapi, karena tingkat keparahan wabah telah meningkat, maka tetap saja ada ketegangan.
Kerja sama tampak ketika Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah bekerja erat dengan para pejabat kesehatan Israel, termasuk mengenai pergerakan populasi dan kebijakan manajemen rumah sakit, kata para ahli.
Tindakan terkoordinasi untuk membendung wabah Covid-19 di kota Betlehem di Tepi Barat juga menuai pujian.
Namun, Rabu (1/4), Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh menuduh Israel merusak upaya pemerintahnya dalam mengekang penyebaran Covid-19 karena tidak menghentikan warga Palestina bekerja di permukiman Israel untuk sementara waktu.
Baca juga: Janjikan Masker Kain, PM Jepang Jadi Bahan Cemoohan
Ada lebih dari 5.500 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di antara hampir 10 juta orang Israel dan 122 kasus yang dikonfirmasi di Tepi Barat, rumah bagi sekitar 2,7 juta warga Palestina.
Tingkat pengujian virus pada orang-orang di Tepi Barat lebih rendah daripada di Israel.
"Kelemahan nyata dalam pertempuran Palestina melawan penyebaran virus korona adalah pendudukan (Israel)," kata Shtayyeh kepada wartawan.
Tindakan rasis?
Isu awal adalah menyangkut 70.000 warga Palestina yang memiliki izin bekerja di Israel. Bulan lalu, Israel dan Otoritas Palestina menyetujui sebuah kebijakan yang berupaya membatasi pergerakan penduduk sembari membiarkan warga Palestina tetap bekerja.
Para pekerja diberi waktu 72 jam untuk memutuskan apakah mereka akan tinggal di Israel selama krisis virus korona atau kembali ke Tepi Barat.
Kemudian muncul sebuah video yang memperlihatkan pekerja Palestina yang sakit diterlantarkan di sebuah pos pemeriksaan oleh otoritas Israel. Video itu beredar luas dan membuat warga Palestina marah.
Shtayyeh menggambarkan tindakan itu sebagai perilaku rasis oleh Israel.
Polisi Israel mengatakan pria itu telah tiba di rumah sakit memohon perawatan tetapi diketahui bekerja di Israel secara ilegal.
"Polisi mengawal pria itu ke perlintasan keamanan Maccabim," kata seorang juru bicara kepolisian, yang menekankan individu tersebut dinyatakan negatif Covid-19 sebelum dibawa ke pos pemeriksaan.
Ketegangan semakin meningkat ketika para pejabat melaporkan orang Palestina pertama yang meninggal, seorang perempuan berusia 60-an, telah melakukan kontak dengan putranya yang bekerja di dalam Israel.
Shtayyeh, sejak itu, menuntut agar semua warga Palestina yang masih bekerja di Israel kembali ke Tepi Barat.
Tetapi beberapa mengatakan warga Palestina tidak dalam posisi untuk menyerahkan penghasilan yang mereka peroleh di Israel.
Pekerja Palestina, Faraj, yang meminta agar nama lengkapnya dirahasiakan, mengatakan dia telah memutuskan berbagi kamar dengan empat rekannya di Israel daripada kembali ke rumah.
Setelah melihat video itu, pria berusia 26 tahun tersebut mengatakan dia takut akan tertular Covid-19 dan secara brutal diusir dari Israel.
"Saya lebih suka tinggal dan tidur di sini setelah melihat adegan menyakitkan di pos pemeriksaan," katanya kepada AFP.
Otoritas Palestina memiliki otonomi terbatas di Tepi Barat, yang telah berada di bawah pendudukan Israel sejak 1967.
Lebih dari 400 ribu pemukim Yahudi tinggal di daerah itu dalam komunitas yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.
Orang-orang Palestina yang tengah menjalankan pekerjaan di permukiman diperingatkan oleh pemerintah mereka tentang beban kasus yang tinggi di dalam komunitas Yahudi.
Pada Rabu (1/4), Otoritas Palestina mengatakan 15 warganya yang dipekerjakan di permukiman Israel telah dites positif terjangkit Covid-19 dan mereka menyalahkan kebijakan Israel.
"Keputusan Israel untuk mengizinkan masuknya pekerja adalah upaya untuk melindungi ekonomi Israel dengan mengorbankan nyawa para pekerja kami," kata Shtayyeh.
Terlepas dari ketegangan, kerja sama tetap diperlukan, kata Ofer Zalzberg dari International Crisis Group.
"Karena dua populasi saling terkait, membatasi virus hanya dalam satu masyarakat tidak mungkin."
Yotam Shefer dari cabang militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di Wilayah Palestina (COGAT) menegaskan kerja sama tetap kuat.
"Koordinasi dengan (PA) sangat erat dan sangat tajam," ujarnya kepada wartawan, mengutip lokakarya dan pelatihan medis bersama.
Tentara Israel terus melakukan razia di daerah-daerah Palestina dan menghancurkan rumah-rumah dan bangunan lainnya, sementara merampas tenda-tenda yang ditunjuk sebagai klinik medis, menurut LSM antipendudukan Israel B'Tselem. (AFP/OL-1)
KEPOLISIAN Israel mencegah Patriark Latin Jerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, untuk memasuki Gereja Makam Suci guna merayakan Misa Minggu Palma.
PAUS Leo XIV memperingatkan pada Minggu (29/3) bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang berperang karena konflik di Timur Tengah terus berlanjut di berbagai front.
PM Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi memberikan jaminan untuk memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan Malaysia kepada masyarakat Gaza.
PERDANA Menteri Benjamin Netanyahu terus menyatakan bahwa Israel berada dalam posisi unggul dalam konflik yang berlangsung sekitar satu bulan serta menilai Iran semakin tertekan.
Menlu Turki Hakan Fidan sebut Israel hambatan terbesar damai di Timur Tengah. Israel dinilai manfaatkan politik AS untuk agenda strategis dan perpanjang instabilitas.
Ratusan warga Israel bentrok dengan polisi saat protes antiperang Iran di Tel Aviv, Sabtu (28/3). Dukungan perang warga Yahudi capai 78%, namun tren penolakan mulai meningkat.
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Batam mengonfirmasi bahwa telah terdapat 9 kasus baru terpapar Covid-19 di kota tersebut,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved