Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam penentuan awal bulan Hijriah, elongasi hilal memegang peranan vital sebagai parameter fisik visibilitas bulan sabit. Tanpa sudut elongasi yang memadai, hilal secara optik tidak akan mampu memantulkan cahaya yang cukup untuk menembus pendaran cahaya matahari terbenam (syafaq).
Elongasi adalah jarak sudut antara Bulan dan Matahari sebagaimana terlihat dari Bumi. Dalam konteks rukyatul hilal, elongasi menentukan ketebalan sabit bulan. Semakin besar sudut elongasi, semakin tebal hilal yang tampak, dan semakin besar peluangnya untuk teramati oleh perukyat.
Berdasarkan kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), syarat minimal hilal dapat dinyatakan masuk bulan baru adalah:
Terdapat dua cara dalam menghitung sudut elongasi yang sering menjadi bahan diskusi para ahli falak:
| Jenis Elongasi | Titik Acuan | Karakteristik |
|---|---|---|
| Geosentrik | Pusat Inti Bumi | Nilai lebih besar; digunakan untuk standardisasi kalender nasional. |
| Toposentrik | Permukaan Bumi (Pengamat) | Nilai lebih kecil; dianggap lebih akurat untuk simulasi pandangan mata (rukyat). |
Elongasi 6,4 derajat dipilih bukan tanpa alasan. Angka ini merujuk pada batas Danjon Limit, di mana secara fisik sabit bulan mulai terbentuk dan bisa memantulkan cahaya. Jika elongasi di bawah angka tersebut, meskipun bulan sudah berada di atas ufuk (tinggi positif), secara sains hilal dianggap belum "wujud" untuk dapat dilihat oleh mata manusia (imkanur rukyat).
Angka ini didasarkan pada data empiris pengamatan global yang menunjukkan bahwa hilal dengan elongasi di bawah 6,4 derajat terlalu tipis dan cahayanya kalah oleh cahaya latar belakang langit senja.
Ketinggian adalah jarak vertikal hilal dari garis ufuk (cakrawala), sedangkan elongasi adalah jarak sudut langsung antara Bulan dan Matahari. Keduanya harus terpenuhi agar hilal dianggap visibel.
Sangat sulit. Jika ketinggian terlalu rendah (di bawah 3 derajat), gangguan atmosfer dan cahaya syafaq yang masih terang akan menutupi penampakan hilal yang sudah tebal sekalipun.
Memahami elongasi hilal membantu kita menyadari bahwa penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia dilakukan dengan pendekatan sains yang sangat presisi. Perpaduan antara data hisab (perhitungan) dan verifikasi rukyat (pengamatan) memastikan bahwa ibadah umat Muslim dimulai pada waktu yang tepat secara astronomis maupun syar'i.
Kemenag Maluku melaporkan hilal 1 Syawal 1447 H gagal terlihat di Negeri Wakasihu karena posisi hilal masih di bawah 2 derajat.
Kemenag melaporkan posisi hilal 1 Syawal 1447 H di seluruh Indonesia belum memenuhi kriteria MABIMS. Simak analisis astronomis selengkapnya.
Simak kriteria MABIMS terbaru 2026 untuk penentuan Ramadan dan Idulfitri. Pahami parameter tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat secara lengkap.
Kemenag menetapkan awal puasa 1 Ramadan 2026 jatuh pada Kamis, 19 Februari. Keputusan Sidang Isbat diambil berdasarkan kriteria MABIMS dan hasil hilal.
Simak alasan mengapa kriteria MABIMS menjadi acuan utama dalam Sidang Isbat 2026 untuk menentukan awal Ramadan 1447 H secara saintifik dan legal.
Kenapa harus ada sidang isbat untuk menentukan lebaran? Simak penjelasan lengkap dari sisi hukum negara, syariat agama, hingga sains astronomi.
Jika dilihat ilustrasi posisi hilal di ufuk barat maka seluruh ibu kota provinsi di Indonesia berada di bawah kriteria MABIMS.
IKN untuk pertama kalinya menjadi lokasi rukyatul hilal penentuan 1 Ramadan 1447 H. BMKG Kaltim menyebut hilal belum terlihat karena masih di bawah ufuk.
Tim pemantau hilal dari BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang melaporkan bahwa fenomena hilal tidak terlihat di wilayah Malang, Jawa Timur, pada sore hari, Selasa (17/2).
Lokasi pengamatan dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan keterbukaan ufuk barat, minim polusi cahaya, kondisi atmosfer yang baik, serta aksesibilitas dan keamanan lokasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved