Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Memahami Keberagaman Ekspresi Duka: Dari Media Sosial hingga Ruang Privasi

Basuki Eka Purnama
19/3/2026 07:44
Memahami Keberagaman Ekspresi Duka: Dari Media Sosial hingga Ruang Privasi
Ilustrasi(Freepik)

SETIAP individu memiliki mekanisme yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Psikolog anak dan keluarga lulusan Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, P.Si, menjelaskan bahwa ekspresi kedukaan, baik melalui pertemuan tatap muka maupun unggahan di media sosial, merupakan pilihan personal yang sangat bergantung pada kenyamanan masing-masing orang.

Menghargai Cara Individu Berduka

Sani menilai bahwa cara seseorang mengekspresikan kesedihannya berkaitan erat dengan apa yang dirasa paling menguatkan bagi dirinya sendiri. 

Ada orang yang merasa lebih tenang dengan menemui keluarga mendiang secara langsung, namun ada pula yang memilih membagikan rasa kehilangannya melalui platform digital.

"Bagaimana cara pemenuhan atau pengekspresian rasa dukanya itu berkaitan dengan pada akhirnya diri setiap orang, jadi bahwa ada orang merasa itu lebih pas atau lebih cocok atau yang lebih menguatkan itu seperti apa tergantung orangnya," ujar Sani, dikutip Kamis (19/3).

Fenomena membagikan momen duka di media sosial sering kali bertujuan untuk menunjukkan kedekatan emosional atau rasa sayang yang mendalam terhadap almarhum. 

Menurut Sani, hal ini merupakan sesuatu yang wajar asalkan dilakukan dengan cara yang bijak.

"Selama itu baik bahkan mengingatkan orang itu baik, positif, itu menurut saya wajar dan justru malah membangun image yang lebih positif, orang yang enggak tahu jadi tahu, orang yang enggak mengagumi jadi mengagumi, dan sebagainya," tambahnya.

Hak Privasi dan Proses Grieving

Di sisi lain, Sani juga menekankan bahwa keputusan keluarga untuk tidak membagikan momen duka ke publik adalah hak sepenuhnya yang harus dihormati. 

Hal terpenting dalam situasi ini bukan pada metodenya, melainkan pada pemberian ruang bagi keluarga inti untuk menuntaskan proses *grieving* atau masa berkabung.

Proses emosional ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sani menjelaskan bahwa tahun pertama kehilangan adalah masa-masa yang berat, dengan fase paling krusial terjadi pada tiga bulan pertama.

"Diharapkan orang yang kehilangan bisa menyelesaikan dulu secara emosionalnya baru kemudian coping mekanismenya baru ke kegiatan lain, jadi ya gimana cara dia bisa menangis, bisa diberikan ruang untuk bersedih, berduka itu penting banget untuk supaya mentuntaskan kedukaannya," jelas Sani.

Saran Pemulihan Emosi

Untuk membantu mengelola emosi selama masa berkabung, Sani menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh individu yang sedang berduka, antara lain:

  • Menulis jurnal: Menumpahkan isi pikiran dan perasaan ke dalam buku.
  • Konseling: Mencari bantuan profesional jika diperlukan.
  • Teknik pernapasan: Membantu menenangkan sistem saraf.
  • Pendekatan spiritual: Melakukan langkah-langkah keagamaan untuk membantu kontrol emosi.

Melalui pendekatan yang tepat, diharapkan seseorang yang tengah berduka dapat melewati fase emosionalnya dengan sehat sebelum kembali beraktivitas normal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik