Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
AIR banjir bandang dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, memang telah surut. Aliran sungai kembali tenang, jalan-jalan perlahan dibersihkan dari lumpur dan puing.
Namun, bagi ribuan warga terdampak, bencana itu belum benar-benar berakhir. Luka fisik boleh saja mengering, tetapi trauma masih menetap sunyi, dalam, dan perlahan menggerogoti harapan akan masa depan.
Seperti dipantau Media Indonesia di sejumlah lokasi terdampak, Sabtu (6/12). Tampak wajah-wajah warga yang seakan tertahan di antara masa lalu yang traumatis dan masa depan yang belum pasti. Ingatan tentang malam kelam saat air bah bercampur lumpur dan batang kayu menerjang permukiman masih membekas kuat menghancurkan rumah, menyapu harta benda, dan merenggut rasa aman yang selama ini mereka miliki.
Di pengungsian, kesunyian kerap lebih dominan daripada percakapan. Banyak warga terdiam lama ketika diajak berbincang. Bukan karena enggan berbagi, melainkan karena trauma membuat kata-kata terasa berat untuk dilafalkan. Sebagian mencoba bercerita, namun kisah itu sering berujung pada tangisan yang pecah tanpa suara.
Bencana ini bukan hanya merobohkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memukul ketahanan psikologis masyarakat. Rasa waswas setiap kali hujan turun, ketakutan mendengar gemuruh air, hingga kecemasan berlebih tampak jelas, terutama pada anak-anak dan lansia yang menyaksikan langsung kedahsyatan bencana.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada pemulihan fisik semata. Pendampingan psikososial dan pemulihan kesehatan jiwa sama mendesaknya dengan pembangunan jalan, jembatan, dan rumah. Tanpa itu, warga akan terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan, meski bangunan baru kelak kembali berdiri.
BANYAK TERDIAM
Oppu Inces Simbolon, 55, warga Desa Hutagodang, Kecamatan Sibuluan Nauli, menjadi potret nyata trauma tersebut. Saat ditemui di pengungsian GOR Pandan, Sabtu (6/12), ia lebih banyak terdiam.
Tatapannya kosong, seolah masih tertuju pada kampung halamannya yang kini tinggal cerita jauh dari keramaian dan riuh tawa anak-anak.
Dengan suara lirih nyaris tak terdengar, ia menuturkan kepedihannya. “Kampung halaman saya sudah habis. Rumah yang saya bangun dengan jerih payah tertutup material longsor. Ke mana lagi kami harus pergi bersama anak-anak? Apakah masih ada yang memikirkan nasib kami,” keluhnya.
Ia mengaku kehilangan hampir segalanya. “Untuk mendirikan rumah kembali, kami tidak sanggup. Listrik dan jaringan telepon seluler yang jelas-jelas kami bayar pun belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana kami bisa bangkit?” ujarnya terbata-bata.
Bantuan makanan dan minuman, menurutnya, memang menyelamatkan mereka dari kelaparan. Namun, bantuan itu belum mampu menjawab kegelisahan yang lebih dalam tentang masa depan, tempat tinggal, dan kepastian hidup setelah bencana memporak-porandakan harapan.
“Kami bersyukur. Tapi setiap malam kami selalu bertanya, besok bagaimana,” katanya pelan, sebelum berlalu meninggalkan area pengungsian dengan langkah tertatih.
Kesaksian Oppu Inces Simbolon merupakan suara ribuan warga Tapanuli Tengah lainnya yang mungkin tak lantang, namun sarat makna. Suara yang menanti kehadiran nyata negara, bukan hanya dalam bentuk logistik, melainkan empati, keberpihakan, dan jaminan bahwa mereka tidak dibiarkan pulang ke ketidakpastian. (H-1)
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Lurah Jimbaran, I Wayan Kardiyasa mengatakan di wilayahnya ada tiga rumah warga yang masih tergenang air hujan selain juga halaman sekolah TK Kumara Sari.
Warga desa yang terbiasa hidup dengan keterbatasan dinilai lebih mudah beradaptasi saat harus kehilangan harta benda.
HINGGA malam hari ini Kota Denpasar dan Bali umumnya masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Data yang dihimpun BPBD Kabupaten Badung hingga Selasa (24/2) pukul 09.00 Wita sejak Senin (23/2) pukul 18.00 Wita, menyebutkan ada 8 kejadian banjir di Kuta dan 1 di wilayah Kuta Selatan.
Bantuan benih diberikan setelah sebanyak 1.031 petani yang terdampak banjir mengadu dan beraudiensi langsung ke Plt Bupati Asep Surya Atmaja.
Keributan baru mereda setelah sejumlah pengungsi lain turun tangan melerai kedua belah pihak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved