Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Pangan Lokal Bisa Jadi Solusi Sehat dan Berkelanjutan untuk Menu Ramadan

Basuki Eka Purnama
10/3/2026 16:37
Pangan Lokal Bisa Jadi Solusi Sehat dan Berkelanjutan untuk Menu Ramadan
Ilustrasi(Freepik)

MEMASUKI bulan Ramadan, pemilihan menu sahur dan berbuka puasa menjadi kunci utama dalam menjaga stamina tubuh. Pakar Gizi IPB University, Dr. Eny Palupi, menekankan bahwa pangan lokal merupakan opsi menarik yang memiliki nilai gizi seimbang, terutama di tengah maraknya gempuran makanan instan dan produk impor.

Menurut Eny, keunggulan utama pangan lokal terletak pada kandungan nutrisi alaminya yang mampu menjaga kebugaran selama menjalankan ibadah puasa. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kelompok umbi-umbian.

"Umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas, kaya akan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama serta dapat menjaga kestabilan gula darah," jelasnya.

Hal ini menjadi krusial mengingat kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang terlalu manis saat berbuka sering kali memicu lonjakan gula darah yang tidak stabil. Jika dilakukan secara terus-menerus, pola makan tinggi gula tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes di masa depan.

Selain sebagai sumber energi, Eny memaparkan bahwa kelompok kacang-kacangan lokal seperti kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah sangat baik dikonsumsi. 

Pangan ini menyediakan protein nabati dan serat yang penting untuk memperbaiki jaringan tubuh sekaligus menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Asupan vitamin dan mineral juga bisa didapatkan secara optimal melalui sayuran lokal yang mudah ditemukan di pasar tradisional, mulai dari bayam, kangkung, kecipir, paria, bunga turi, hingga daun kelor. Deretan sayuran ini memiliki kandungan mikronutrien yang kuat untuk mendukung daya tahan tubuh.

Untuk mengembalikan energi dengan cepat setelah seharian berpuasa, buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, rambutan, mangga, dan salak menjadi pilihan bijak. Kandungan glukosa alaminya mudah dicerna oleh tubuh tanpa memberikan beban berlebih pada sistem metabolisme.

"Dengan berbagai pilihan tersebut, pangan lokal bukan hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak melainkan juga serat, vitamin, dan mineral esensial," tambah Eny.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa aspek kesegaran menjadi nilai tambah pangan lokal. Berbeda dengan produk impor yang sering kali membutuhkan bahan pengawet karena durasi transportasi dan masa simpan yang lama, pangan lokal sampai ke tangan konsumen dalam kondisi yang lebih prima.

Dari sisi ekonomi dan lingkungan, mengonsumsi pangan lokal turut mendukung kesejahteraan petani setempat dan berperan dalam mengurangi jejak karbon akibat transportasi jarak jauh.

"Dengan segala keunggulan ini, pangan lokal layak direkomendasikan untuk berbuka dan sahur bergizi seimbang," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya