Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Indonesia Peringkat Kedua Dunia KLB Campak, Cakupan Imunisasi Jadi Sorotan

Atalya Puspa    
22/2/2026 13:31
Indonesia Peringkat Kedua Dunia KLB Campak, Cakupan Imunisasi Jadi Sorotan
Petugas puskesmas menyuntikkan vaksin kepada seoang siswa saat kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Sekolah Madrasah, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (8/11/2025)(ANTARA/AMPELSA)

INDONESIA tercatat sebagai negara dengan jumlah kejadian luar biasa (KLB) campak terbanyak kedua di dunia. Hal ini disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Tjandra Yoga Aditama dengan merujuk pada data pemantauan global terbaru.

Ia menjelaskan, laman Global Measles Outbreaks milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tertanggal 11 Februari 2026 yang mengutip data World Health Organization (WHO) menunjukkan Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan wabah campak terbanyak di dunia.

"Harus kita sadari bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan di negara kita," ungkap Tjandra, Minggu (22/2). 

Data pengawasan bulanan sementara yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026 mencakup periode Juli hingga Desember 2025. Dalam daftar tersebut, Yaman menempati posisi pertama dengan 11.288 kasus campak, disusul Indonesia dengan 10.744 kasus.

Indonesia bahkan berada di atas India yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa dengan 9.666 kasus campak. Posisi berikutnya ditempati Pakistan dengan 7.361 kasus, Angola 4.843 kasus, Republik Demokratik Rakyat Laos 3.167 kasus, Meksiko 2.846 kasus, Nigeria 2.755 kasus, Afghanistan 2.668 kasus, dan Mongolia dengan 2.551 kasus.

Tjandra menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

Merujuk data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 27 Agustus 2025, meningkatnya kasus campak di Indonesia berkaitan erat dengan penurunan cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir.

Cakupan imunisasi rutin lengkap yang sempat mencapai 92 persen pada 2018 menurun menjadi 87,8 persen pada 2023. Sementara itu, cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama (MR1) dan kedua (MR2) masih berada di bawah target 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok.

Pada 2024, cakupan MR1 tercatat sebesar 92 persen, sedangkan MR2 hanya mencapai 82,3 persen. Tren penurunan cakupan imunisasi ini berdampak langsung pada peningkatan jumlah kasus campak dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2022 tercatat lebih dari 4.800 kasus campak terkonfirmasi. Angka ini meningkat tajam pada 2023 menjadi lebih dari 10.600 kasus. Meski sempat menurun pada 2024 menjadi lebih dari 3.500 kasus, jumlah kasus kembali meningkat pada 2025, di mana hingga Agustus tercatat lebih dari 3.400 kasus.

Selain itu, KLB campak juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Pada 2022 terdapat 64 KLB, meningkat menjadi 95 KLB pada 2023. Angka ini menurun menjadi 53 KLB pada 2024, namun kembali meningkat pada 2025 dengan 46 KLB hingga Agustus.

Menurut Tjandra, data tersebut menjadi pengingat bahwa pengendalian penyakit campak dan penyakit menular lainnya harus terus diperkuat, terutama melalui peningkatan cakupan imunisasi di masyarakat guna mencegah meluasnya wabah di masa mendatang.

"Data-data ini kembali menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak dan juga penyakit menular pada umumnya, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi kita," pungkasnya. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya