Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT Kawasaki pada anak masih menjadi tantangan besar bagi dunia medis karena gejalanya yang sering kali menyerupai infeksi umum lainnya.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed), memperingatkan bahwa keterlambatan diagnosis dapat berisiko fatal pada kesehatan jantung anak.
Menurut Prof. Najib, penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi yang berlangsung sedikitnya lima hari.
Berbeda dengan demam biasa, kondisi ini tidak kunjung membaik meski pasien sudah mengonsumsi antibiotik. Selain demam, terdapat tanda klinis khas yang menyerang mata, mulut, kulit, hingga kelenjar getah bening.
"Gejala utamanya demam menetap. Lalu mata merah tanpa kotoran (belek), bibir merah dan pecah, lidah tampak seperti stroberi, ruam di kulit, serta telapak tangan dan kaki tampak merah dan bengkak," ujar Najib, dikutip Jumat (13/2).
Salah satu kendala utama dalam mendeteksi Kawasaki adalah kemunculan gejalanya yang tidak selalu bersamaan.
Hal ini sering membuat diagnosis awal terlewat atau salah teridentifikasi sebagai penyakit lain seperti campak, infeksi virus, hingga radang usus buntu akibat adanya keluhan nyeri perut dan diare.
"Gejalanya bisa muncul bertahap, tidak selalu sekaligus. Hari ini demam, besok muncul ruam, lalu mata merah. Karena itu perlu pemantauan," jelas Najib yang juga aktif dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Prof. Najib juga menyoroti satu tanda spesifik yang sering kali luput dari perhatian orangtua maupun tenaga medis, yaitu kondisi bekas suntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guérin) di lengan anak.
Pada fase akut Kawasaki, bekas luka tersebut sering kali tampak memerah dan meradang kembali.
"Bekas BCG bisa menjadi merah dan aktif lagi. Itu petunjuk penting yang bisa dilihat langsung tanpa pemeriksaan rumit," tegasnya.
Seiring berjalannya penyakit, pada fase berikutnya kulit di ujung jari tangan dan kaki pasien akan mulai mengelupas. Setelah fase akut dan subakut terlewati, akan muncul garis melintang pada kuku sebagai tanda bahwa anak memasuki masa pemulihan.
Prof. Najib mengimbau kepada tenaga kesehatan dan orangtua untuk selalu mempertimbangkan kemungkinan diagnosis Kawasaki jika menemukan anak dengan gejala demam tinggi disertai ruam dan mata merah tanpa kotoran.
Deteksi dini sangat krusial agar pasien segera mendapatkan pemeriksaan jantung lanjutan guna meminimalisir risiko komplikasi permanen. (Ant/Z-1)
Penyakit Kawasaki sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua karena gejalanya yang menyerupai infeksi biasa namun memiliki dampak fatal
Jendela waktu emas untuk pengobatan Penyakit Kawasaki adalah sebelum hari ke-10 sejak demam pertama muncul guna mencegah kerusakan jantung permanen.
Kunci utama menekan kematian dan kecacatan akibat penyakit ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat serta tenaga kesehatan agar diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin.
Penyakit Kawasaki adalah kondisi penyakit langka yang menyebabkan peradangan pembuluh darah, dan jika tidak segera diobati, dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk serangan jantung.
Penyakit Kawasaki adalah peradangan pembuluh darah yang umumnya menyerang anak di bawah usia 5 tahun dan dapat berkembang menjadi penyakit jantung jika tidak ditangani.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved