Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Jangan Panik saat Anak Demam, Dokter: Paracetamol Hanya jika Anak Rewel

Basuki Eka Purnama
22/1/2026 09:30
Jangan Panik saat Anak Demam, Dokter: Paracetamol Hanya jika Anak Rewel
Ilustrasi(Freepik)

ORANGTUA sering kali merasa khawatir saat suhu tubuh anak meningkat dan langsung memberikan obat penurun panas seperti paracetamol. Padahal, demam tidak selalu menjadi sinyal bahaya yang harus segera diredam dengan obat-obatan.

Dokter Spesialis Anak RSUD Pasar Rebo, dr. Arifianto, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami fungsi alami demam. 

Menurutnya, obat pereda demam hanya diperlukan pada kondisi tertentu, terutama jika kondisi fisik anak mulai terganggu secara kenyamanan.

"Diberikan paracetamol atau ibuprofen, hanya bila demam dan anak (dalam kondisi batuk dan pilek) tidak nyaman atau rewel terus," ujar Arifianto dalam sebuah siniar bertema kesehatan yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Demam Sebagai Mekanisme Pertahanan

Menariknya, Arifianto menekankan bahwa angka pada termometer bukan satu-satunya tolok ukur. Bahkan jika suhu tubuh anak menyentuh 40 derajat Celcius, pemberian obat tidak bersifat darurat selama anak masih menunjukkan aktivitas normal.

"Jika anak demam sampai 40 derajat tapi dia masih jalan-jalan, sebenarnya tidak perlu buru-buru diberikan paracetamol," jelasnya.

Hal ini karena demam merupakan respons alami tubuh saat virus masuk. Saat suhu tubuh naik, virus-virus penyebab selesma (common cold) maupun influenza justru menjadi tidak berdaya. 

"Jadi demam itu tujuannya satu, yakni ingin agar sistem imun bekerja optimal dan mencegah virus untuk berkembangbiak," tambah dr. Arifianto.

Batas Toleransi dan Tanda Bahaya

Dalam kasus influenza yang disertai batuk dan pilek, demam masih dapat ditoleransi hingga sekitar tujuh hari. Selama anak tetap aktif, tidak mengalami sesak napas, tidak dehidrasi, dan tidak kejang, orangtua diimbau untuk tetap tenang sambil terus melakukan pengawasan.

Namun, orangtua harus waspada jika demam berlanjut lebih dari satu minggu. 

"Tapi kalau 7 hari lebih masih demam maka hal itu tidak wajar. Harus dicari tahu ada-tidak kemungkinan infeksi lain yang membuat demamnya bertahan," tegasnya.

Langkah Penanganan di Rumah

Selama masa perawatan di rumah, fokus utama orangtua adalah memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi untuk mencegah dehidrasi. Namun, Arifianto mengingatkan agar segera membawa anak ke rumah sakit jika muncul tanda-tanda kegawatdaruratan seperti sesak napas atau kejang.

"Karena kalau, misalnya, sesak napas, tidak ada cara lain, harus diberikan oksigen. Harus dipasang infus, karena sudah tidak bisa lagi untuk minum dengan jumlah yang cukup," pungkasnya. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya