Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Hak Asasi Manusia (KemenHAM) menegaskan penonaktifan peserta BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran atau PBI yang berujung pada terganggunya layanan cuci darah bagi pasien gagal ginjal kronik, berpotensi melanggar hak asasi manusia.
Wakil Menteri HAM Mugiyanto menyatakan, layanan hemodialisa tidak bisa diposisikan sebagai layanan kesehatan biasa karena bersifat vital dan menentukan kelangsungan hidup pasien. Oleh karena itu, menurutnya, layanan tersebut tidak boleh terhenti hanya karena persoalan administratif.
“Bagi pasien gagal ginjal kronik, cuci darah bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi syarat utama untuk bertahan hidup. Setiap keterlambatan atau penghentian layanan ini berpotensi menimbulkan risiko fatal,” kata Mugiyanto kepada wartawan, Rabu (12/2).
Mugiyanto menegaskan, persoalan ini tidak hanya menyangkut hak atas kesehatan (right to health), tetapi juga bersentuhan langsung dengan hak hidup (right to life) yang bersifat tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun (non-derogable right).
“Dalam perspektif HAM, hak hidup adalah hak yang paling mendasar dan tidak boleh dikompromikan. Layanan kesehatan yang menopang hidup seharusnya tidak boleh terganggu oleh persoalan data dan administrasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa konstitusi secara tegas mewajibkan negara hadir dalam menjamin pelayanan kesehatan. Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menyatakan setiap orang berhak hidup sejahtera dan memperoleh pelayanan kesehatan, sementara Pasal 34 ayat (3) menegaskan tanggung jawab negara dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak.
“Kesehatan adalah hak asasi manusia yang wajib dipenuhi negara, khususnya pemerintah. Ini mandat konstitusi, bukan sekadar kebijakan teknis,” tegas Mugiyanto.
KemenHAM, lanjutnya, mengapresiasi langkah cepat kementerian dan lembaga terkait termasuk Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, serta DPR merespons persoalan tersebut. Namun, ia menekankan perlunya evaluasi mendasar agar kejadian penonaktifan peserta BPJS Kesehatan tak terulang.
“Pemutakhiran dan penataan data kepesertaan memang penting, tetapi harus dilakukan dengan pendekatan kehati-hatian berbasis HAM. Jangan sampai proses administrasi justru menciptakan situasi yang membahayakan nyawa manusia,” kata dia.
Mugiyanto juga menilai pasien gagal ginjal kronik harus ditempatkan sebagai kelompok rentan yang sepenuhnya bergantung pada kesinambungan layanan kesehatan. Dalam konteks ini, negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak mereka tanpa jeda layanan. (H-4)
Kepala BGN Dadan Hindayana berharap penerima manfaat dan pekerja yang terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terlindungi dengan BPJS Kesehatan.
Selain jaminan melalui BPJS, Pemprov Kalteng juga menyiapkan jaring pengaman tambahan bagi warga tidak mampu yang belum terdaftar namun mengalami kondisi gawat darurat.
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menekankan pentingnya sistem jaminan kesehatan nasional.
Mensos Saifullah Yusuf mengatakan peserta PBI BPJS Kesehatan dari 11 juta 896 peserta PBI BPJS Kesehatan yang dinonaktifkan, sudah aktif kembali
SOSIOLOG dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Tantan Hermansah menjelaskan perlunya edukasi agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bayar iuran untuk peserta BPJS Kesehatan
Mensos Gus Ipul umumkan 869 ribu peserta PBI JKN aktif kembali setelah sempat dinonaktifkan. Simak skema reaktivasi dan syarat kelayakan terbarunya di sini.
Mensos Saifullah Yusuf mengatakan peserta PBI BPJS Kesehatan dari 11 juta 896 peserta PBI BPJS Kesehatan yang dinonaktifkan, sudah aktif kembali
WALI Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengklarifikasi soal penonaktifan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehataan penerima bantuan iuran atau PBI.
Kebijakan penghapusan tunggakan iuran bagi peserta pekerja bukan penerima upah (PBPU) yang nonaktif dan terbukti tidak mampu berpotensi rumit bahkan membebani rakyat miskin.
kekisruhan pasien gagal ginjal yang dinonaktifkan dari PBI BPJS Kesehatan merupakan muara dari politisasi angka kemiskinan.
Ajat,37 berprofesi sebagai penjual es keliling dengan penghasilan Rp30 ribu per hari. Ia dicoret dari peserta penerima PBI karena mampu oleh dinas sosial
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved