Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Banglades Laporkan Kematian akibat Nipah Pertama di 2026

M Iqbal Al Machmudi
08/2/2026 15:52
Banglades Laporkan Kematian akibat Nipah Pertama di 2026
Ilustrasi virus nipah.(Dok. Freepik)

DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada lima hal yang harus diwaspadai dari kasus kematian akibat nipah itu.

Pertama, kasus kematian pertama akibat virus nipah di 2026 tersebut adalah perempuan berusia antara 40-50 tahun, tinggal di distrik Naogaon, Divisi Rajshahi, daerah Timur Laut Banglades. 

"Jadi bukan dari India yang banyak dibahas belakangan ini, jadi sudah lebih dari negara walaupun kasusnya tidak berhubungan langsung satu dengan lainnya. Artinya memang ini memerlukan perhatian dunia termasuk kita," kata Tjandra dalam keterangannya, Minggu (8/2).

Laporan ke WHO disampaikan oleh National Focal Point - International Health Regulation (IHR-NFP) Banglades pada 3 Februari 2026. Setiap negara memang mempunyai IHR NFP.

Poin kedua yakni perjalanan penyakit pasien cukup cepat memburuk sampai meninggal, hanya dalam waktu seminggu saja. Pasien mulai mengalami gejala pada 21 Januari 2026, dengan demam, sakit kepala, kejang otot, hilang nafsu makan, badan lemas, muntah, lalu diikuti dengan hipersalivasi , disorientasi dan kejang. 

Pada 27 Januari 2026 pasien menjadi tidak sadar diri, pada 28 Januari diambil sampel usap tenggorok dan darah, dan pasien meninggal di hari yang sama dengan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoriumnya itu.  

"Cepatnya proses penyakit menunjukkan beratnya penyakit virus Nipah ini, yang angka kematiannya memang tinggi," ujar eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut.

Ketiga adalah peran penting pemeriksaan laboratorium. Banglades mengonfirmasi kasus meninggal tersebut terinfeksi virus Nipah (NiV infection) berdasar pemeriksaan  Polymerase Chain Reaction (PCR) dan deteksi antibodi anti-Nipah IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan laboratorium juga dilakukan pada kontak yang bergejala. 

Keempat, pasien dilaporkan beberapa kali minum jus manis yang kaya sukrosa yang diekstrak dari tangkai bunga atau batang pohon kurma, yang mentah, tidak direbus. 

"Ini memang merupakan salah satu cara penularan infeksi virus Nipah, selain dari kontak langsung dengan kelelawar dan buah yang terkontaminasi. Jadi ini menegaskan upaya penyuluhan kesehatan perlu dilakukan dengan luas dan baik," ungkapnya.

Kelima, sesudah ada kasus ini maka pemerintah Banglades melakukan investigasi kontak dan investigasi wabah yang dilakukan oleh tim investigasi wabah mereka. 

Rinciannya ada 35 yang kontak dengan pasien meninggal tersebut yang ditelusuri, 6 orang diantaranya memiliki gejala dan keluhan tertentu, 3 orang kontak rumah tangga, 2 di masyarakat dan satu petugas kesehatan. Semuanya sudah diperiksa mendalam dan hasilnya negatif. 

Tjandra menjelaskan setiap negara harus memerlukan sedikitnya tiga tim untuk penanganan virus nipah tersebut. Tim pertama melakukan investigasi wabah Nipah yang handal dan kerja cepat dan nyata di lapangan pada keadaan seperti ini, tim kedua berada di klinik dan rumah sakit yang menangani pasiennya.

Dan tim ketiga merupakan tim laboratorium yang terjamin posisinya, semuanya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai. 

"Dengan adanya kasus kematian tersebut sepertinya semua negara, termasuk Indonesia tentunya perlu mengambil langkah yang diperlukan, guna melindungi masyarakat," pungkasnya. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya