Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Forum Nasional Dorong Kepemimpinan Perempuan untuk Transisi Energi dan Keadilan Iklim

Media Indonesia
04/2/2026 17:05
Forum Nasional Dorong Kepemimpinan Perempuan untuk Transisi Energi dan  Keadilan Iklim
Ilustrasi(Dok Istimewa)

UN Women, Women’s Research Institute (WRI) dan mitra konsorsium, menyelenggarakan Forum Nasional “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim”. Forum ini mempertemukan perempuan pemimpin aksi iklim di komunitas dengan pemerintah, mitra pembangunan, dan organisasi masyarakat sipil dengan tujuan memperkuat kolaborasi dan komitmen untuk aksi iklim yang berkelanjutan. 

Forum ini menyoroti kontribusi perempuan dalam mendorong resiliensi di komunitasnya, sekaligus memberikan wadah bagi multipihak untuk berdiskusi, saling menginspirasi, dan memperkuat komitmen untuk menggaungkan suara perempuan dalam aksi iklim, transisi energi berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih yang membuka yang membuka Forum Nasional, menyorot tentang komitmen pemerintah dalam aksi iklim, serta memberikan gambaran peran kunci perempuan dalam mendorong perubahan nyata. 

“Kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi sangat penting, tidak hanya dalam terlibat dalam penyusunan kebijakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan implementasi kebijakan dilaksanakan. Diperlukan kolaborasi bersama untuk mendorong program penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan dalam energi terbarukan dan diplomasi perubahan iklim, tidak hanya untuk diplomasi ke luar, tetapi juga di dalam rumah,” kata dia. 

Pemerintah Indonesia sendiri telah memperkuat komitmen iklim, salah satunya dengan menerbitkan kebijakan yang mendorong aksi iklim yang lebih inklusif seperti Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI).

Indonesia sebagai negara kepulauan rentan terhadap risiko dan dampak perubahan iklim. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 3.233 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia di tahun 2025. Dari data tersebut, banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi (1.652 kejadian), diikuti dengan cuaca ekstrem (714 kejadian). 

Bencana dan perubahan iklim memberikan dampak berbeda bagi perempuan dan anak perempuan. Data UN Women dan UN DESA menunjukkan bahwa dalam skenario terburuk, perubahan iklim dapat mendorong 158,3 juta perempuan dan anak perempuan di dunia ke dalam kemiskinan ekstrem. Di beberapa negara, perempuan juga harus berjalan dengan jarak yang lebih jauh untuk mengambil air di saat terjadi kelangkaan air dan kekeringan akibat krisis iklim.

Forum Nasional “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak” menghadirkan perwakilan komunitas dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Aceh yang telah berkontribusi langsung pada solusi iklim melalui integrasi pengetahuan lokal, pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas, serta inovasi sosial dan studi. 

"Kami bekerja berkelompok, berusaha menanam sayur, pangan lokal, dan melakukan konservasi mata air. Di saat kami melihat debit air berkurang, kami menanam beragam jenis pohon lokal, supaya debit air bertambah," ucap Imakulata F. Jedia dari Kelompok Tani Mandiri NTT saat berbicara tentang aksi iklim perempuan di desanya. 

Melalui dialog dan berbagi praktik baik komunitas, Forum Nasional diharapkan dapat mendorong partisipasi yang lebih besar dari perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Forum ini merupakan bagian dari proyek regional “EmPower: Women for Climate-Resilient Societies Phase 2” yang dilaksanakan oleh UN Women bersama UNEP dan didukung oleh Pemerintah Jerman, Selandia Baru, Swedia, dan Swiss. Di Indonesia, UN Women bermitra dengan Konsorsium WRI yang terdiri dari Gema Alam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari, dan Aceh Climate Change Initiative dengan fokus pada penguatan aksi iklim responsif gender, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan lingkungan, serta pengembangan mata pencaharian tangguh iklim. 

“Perempuan bukan hanya kelompok yang paling terdampak. Perempuan adalah aktor kunci perubahan,” ucap Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia. “Jika kita ingin solusi iklim yang transformatif, perempuan harus diberdayakan sebagai pemimpin komunitas, pengelola pengetahuan, dan berada di meja pengambilan keputusan”.

“Keberlanjutan dan skalabilitas yang perlu dijawab melalui kolaborasi multi pihak. Krisis iklim tidak dapat diselesaikan oleh 1 organisasi atau 1 sektor. Diperlukan kolaborasi strategis yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, akademisi, filantropi, sektor privat, pemerintah dan organisasi internasional untuk membangun ekosistem dukungan yang kokoh bagi kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim.” ujar Sita Aripurnami, Executive Director Women Research Institute. 

Forum Nasional juga menghadirkan diskusi tentang ekosistem kolaborasi penguatan peran perempuan pada aksi iklim. Acara diakhiri dengan penyusunan agenda bersama untuk tindak lanjut kolaborasi ke depan, serta deklarasi kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam menghadapi perubahan iklim di Indonesia. 

Penyelenggaraan Forum Nasional “Women’s Leadership and Climate Justice” menegaskan komitmen UN Women, WRI, dan para mitra untuk terus mendorong aksi iklim dan transisi energi yang adil dan inklusif, sejalan dengan prioritas nasional Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan dan penguatan ketahanan iklim responsif gender. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya