Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Perkuat Kemandirian Alat Kesehatan dengan Transfer Teknologi

M Iqbal Al Machmudi
28/1/2026 17:49
Perkuat Kemandirian Alat Kesehatan dengan Transfer Teknologi
(DOK Philips Indonesia)

KERJA sama transfer teknologi tinggi sangat dibutuhkan untuk mendukung kemandirian alat kesehatan (alkes) nasional.Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lucia Rizka Andalusia, Senin (26/1) dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Produksi Dalam Negeri, di Jakarta.

Kemenkes bekerja sama dengan Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia sepakat untuk melakukan transfer teknologi dan produksi alkes berteknologi tinggi secara lokal. Dengan kerja sama dan transfer teknologi maka Indonesia bukan hanya memproduksi alkes teknologi rendah saja, tapi juga teknologi tinggi. "Benar-benar melakukan produksi di Indonesia untuk sustainability dari suatu produk," kata Rizka, Senin (26/1).

Selain itu, efek ekonomi juyga dapat meningkatkan penyerapan sumber daya manusia untuk bekerja memproduksi alat kesehatan berteknologi tinggi. Rizka menyebut untuk saat ini alkes dengan teknologi tinggi, Indonesia masih 80% impor. Tetapi untuk teknologi rendah dan menengah, Indonesia sudah 80% produksi lokal. 

Selain itu, dengan transfer teknologi juga jika terjadi lockdown dan pandemi Indonesia tidak lagi bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan alat kesehatan sederhana."Sekarang dengan produksi dalam negeri, supply chain itu dapat berkelanjutan tidak akan ada kekosongan, kekurangan, dan mendukung investasi di Indonesia. Dan investasi bukan hanya uang tetapi juga kualitas juga value added-nya," ungkapnya.

"Sehingga bisa menumbuhkan sektor industri yang lain yang ada di Indonesia, termasuk juga peningkatan jumlah SDM atau tenaga kerja yang akan terserap dengan adanya industri di sini," pungkasnya.

Presiden Direktur PT PHC Indonesia, Yuji Okada, mengatakan dengan memproduksi alkes ultrasound di dalam negeri, akses terhadap teknologi tersebut dapat menjadi lebih luas sehingga memungkinkan diagnosis yang lebih cepat dan pengambilan keputusan akan perawatan juga menjadi lebih tepat.

“Dengan berfokus pada produksi lokal dan alih teknologi, kami ingin mendukung prioritas nasional di bidang kesehatan sekaligus memperluas akses terhadap solusi diagnostik yang andal bagi para penyedia layanan kesehatan di seluruh Indonesia,” katanya. 

Untuk patient monitor, Philips bermitra dengan PT Graha Teknomedika untuk memproduksi sistem pemantauan pasien rumah sakit secara lokal. Solusi patient monitor dari Philips dapat memantau tanda-tanda vital seperti detak jantung, saturasi oksigen, dan tekanan darah.

Dilengkapi dengan alarm pintar, teknologi canggih yang dapat membantu memberikan keputusan klinis, serta kemampuan analitik yang terintegrasi, alat monitor pasien ini membantu tenaga medis untuk mendeteksi secara proaktif perubahan dini pada kondisi pasien dengan akurat. Konektivitas antarsistem di lingkungan rumah sakit juga memungkinkan pemantauan berkelanjutan, pengambilan keputusan klinis yang tepat waktu, serta peningkatan hasil klinis.

Dengan memproduksi alat monitor pasien di dalam negeri, diharapkan dapat memperluas ketersediaan dan adopsi solusi ini di berbagai fasilitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia. “Kemitraan dengan Philips memungkinkan kami untuk mempercepat adopsi teknologi patient monitor canggih di Indonesia,” ujar Masrizal Achmad Syarief, Direktur Utama PT Graha Teknomedika. (H-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya