Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DISKUSI mengenai child grooming mendadak ramai di media sosial belakangan ini, setelah aktris Aurelie Moeremans merilis buku berjudul Broken Strings. Melalui karya tersebut, ia secara berani mengungkap masa lalu kelam yang dialaminya secara pribadi saat masih berusia 15 tahun.
Menanggapi fenomena ini, Kasandra Putranto, seorang psikolog klinis alumnus Universitas Indonesia, memberikan panduan mengenai langkah pencegahan melalui pola asuh dan edukasi. Kasandra mendefinisikan child grooming sebagai strategi orang dewasa dalam memanipulasi emosi anak demi tujuan eksploitasi seksual.
“Child grooming dapat terjadi melalui berbagai cara, termasuk interaksi langsung di lingkungan sosial, sekolah, atau melalui platform online seperti media sosial dan game. Pelaku sering kali membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka,” kata Kasandra, seperti dikutip dari situs Antara, Rabu (14/1).
Menurutnya, taktik ini sangat rapi karena melibatkan penipuan yang tidak hanya menyasar anak, tetapi juga berusaha mengambil hati orangtua sebelum aksi pelecehan dilakukan.
Orangtua wajib menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita. Anak perlu dibekali pemahaman mengenai batasan perilaku orang lain terhadap dirinya.
“Ajarkan anak tentang perilaku yang dapat membahayakan dirinya dan pentingnya berbagi informasi tentang barang atau pemberian dari orang lain kepada orangtua. Pentingnya mengatakan ‘tidak’ jika merasa tidak nyaman,” kata Kasandra.
Selain memantau aktivitas digital dan penggunaan media sosial anak, orangtua disarankan melakukan simulasi atau role play. Tujuannya agar anak terlatih mengenali situasi berbahaya dan berani mengambil keputusan tepat.
“Waspadai tanda-tanda perilaku mencurigakan pada anak, seperti perubahan sikap atau penarikan diri dari interaksi sosial,” tutur Kasandra.
Edukasi seksual yang tepat sasaran, terutama saat anak memasuki usia 12 tahun, menjadi benteng pertahanan yang kuat. Hal ini membekali mereka untuk mengidentifikasi risiko dan menjaga otoritas tubuhnya sendiri.
“Dorong diskusi terbuka tentang kejahatan seksual dan bagaimana cara melindungi diri, sehingga anak merasa lebih siap menghadapi situasi berisiko,” jelas Kasandra.
Di sisi lain, Kasandra menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak hanya di pundak orangtua. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi dalam memperkuat literasi hukum serta menciptakan lingkungan yang aman di sekolah.
“Pentingnya kesadaran hukum dan pendidikan terkait, seperti masyarakat perlu lebih sadar akan isu pelecehan dan eksploitasi anak, serta pendidikan tentang hak anak dan cara melindungi diri harus diperkenalkan sejak dini di sekolah,” ungkapnya.
Sejauh ini, pemerintah telah berupaya memperketat regulasi melalui sanksi berat bagi pelaku serta penyediaan fasilitas pemulihan bagi korban. Kasandra mengingatkan bahwa jika tanda-tanda grooming sudah terlihat, aspek kesehatan mental anak harus menjadi prioritas utama.
“Korban pelecehan memerlukan dukungan psikologis untuk membantu mereka pulih dari trauma. Layanan konseling dan terapi harus tersedia secara luas bagi anak-anak yang menjadi korban,” tegas Kasandra. (Nas)
KPAI menyoroti kasus guru di Sukabumi yang melakukan grooming terhadap siswinya melalui konten bernuansa romantisasi.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
FENOMENA grooming terhadap anak atau child grooming semakin menjadi ancaman serius yang kerap luput dari deteksi. Kasus-kasus yang muncul ke permukaan dinilai hanya sebagian kecil.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
SEORANG oknum konten kreator berinisial SL, warga Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, resmi dilaporkan oleh aktivis perempuan ke Polres Tasikmalaya Kota.
Pelajaran dari memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans: cara mengenali grooming, tanda hubungan tidak sehat, dan langkah pemulihan.
Pelajaran dari memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans: cara mengenali grooming, tanda hubungan tidak sehat, dan langkah pemulihan.
Psikiater Lahargo mengulas Broken Strings Aurelie Moeremans tentang child grooming, pola manipulasi, ciri pelaku dan dampak trauma dan tips orang tua era digital.
Sebagai langkah preventif, orangtua didorong untuk membangun ikatan emosional yang kuat dan konsisten, sembari menetapkan batasan perilaku yang jelas.
Meskipun pertama kali diluncurkan secara terbatas pada Oktober 2025, buku ini kembali viral dan memuncaki percakapan di awal tahun 2026 karena pesannya yang kuat dan relevan
Informasi lengkap rencana penerbitan buku fisik Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Simak perbedaan versi PDF vs fisik, jadwal PO, dan ulasan memoarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved