Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Diabetes Diprediksi Ancam Ekonomi Global hingga Rp2.637 kuadriliun

Thalatie K Yani
13/1/2026 09:29
Diabetes Diprediksi Ancam Ekonomi Global hingga Rp2.637 kuadriliun
Ilustrasi(freepik)

DIABETES bukan lagi sekadar krisis kesehatan publik. Penyakit kronis ini telah bertransformasi menjadi beban ekonomi yang sangat berat bagi berbagai negara. Sebuah studi global komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine mengungkapkan betapa besarnya kerugian ekonomi yang ditimbulkan diabetes terhadap GDP dunia hingga tahun 2050.

Studi yang mencakup 204 negara ini menggunakan model ekonomi berbasis kesehatan untuk membandingkan kondisi riil dengan skenario imajiner tanpa diabetes. Hasilnya mengejutkan, tanpa menghitung perawatan keluarga (non-bayar), kerugian global mencapai US$10 triliun (sekitar Rp173 kuadriliun) atau 0,2% dari GDP global setiap tahun. Namun, angka ini melonjak drastis hingga US$152 triliun (sekitar Rp2.637kuadriliun) jika faktor perawatan keluarga yang tidak dibayar dimasukkan dalam kalkulasi.

Produktivitas yang Hilang dan Beban Pengasuh

Diabetes melumpuhkan pertumbuhan ekonomi melalui pengurangan kapasitas kerja secara masif. Kematian dini memperkecil jumlah angkatan kerja, sementara penyakit jangka panjang menurunkan produktivitas dan meningkatkan angka absensi.

Sektor perawatan keluarga menjadi penyumbang terbesar kerugian, yakni sekitar 85-90% dari total kehilangan ekonomi. Banyak anggota keluarga yang harus mengurangi jam kerja atau berhenti bekerja sepenuhnya demi merawat kerabat yang sakit.

"Pengasuh sering kali keluar dari pasar tenaga kerja, setidaknya sebagian, yang menciptakan biaya ekonomi tambahan," jelas Klaus Prettner, pakar ekonomi dari WU sekaligus salah satu penulis studi tersebut.

Ketimpangan Global dalam Akses Kesehatan

Model ekonomi ini juga menyoroti perbedaan tajam antara negara kaya dan miskin. Di negara berpenghasilan tinggi, sekitar 40% kerugian ekonomi berasal dari belanja medis karena perawatan canggih yang mudah diakses. Sebaliknya, di wilayah berpenghasilan rendah, belanja perawatan hanya mencakup 14% dari total kerugian.

Michael Kuhn, salah satu penulis studi dari IIASA, mencatat bahwa Republik Ceko memikul beban tertinggi terhadap persentase GDP (0,5%), diikuti oleh Amerika Serikat dan Jerman (0,4%). Sementara itu, beban per kapita terbesar dialami oleh Irlandia (US$18.000), Monako (US$12.000), dan Bermuda (US$8.000).

"Ini adalah ilustrasi nyata bagaimana rezim pengobatan medis untuk penyakit kronis seperti diabetes hanya dapat diakses oleh negara-negara berpenghasilan tinggi," kata Kuhn.

Dampak Pandemi yang Memperburuk Keadaan

Kehadiran covid-19 semakin memperkeruh situasi. Diabetes meningkatkan risiko infeksi parah, sementara penyintas covid-19 justru berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 setelah pulih. Selama tahun-tahun pandemi, negara-negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman mengalami peningkatan kehilangan GDP yang terukur akibat kaitan antara kedua penyakit ini.

Pencegahan Adalah Solusi Utama

Dibandingkan kanker atau penyakit Alzheimer, diabetes menciptakan kerusakan ekonomi jangka panjang yang jauh lebih besar. Para peneliti sepakat bahwa pencegahan adalah jalan keluar yang paling efektif. Aktivitas fisik rutin, diet seimbang, dan menjaga berat badan ideal dapat menurunkan risiko secara signifikan.

Langkah-langkah tersebut sangat relevan bagi negara berpenghasilan rendah, di mana tingkat diagnosis yang rendah sering kali memicu kematian akibat komplikasi penyakit menular. Deteksi dini melalui skrining dapat mencegah komplikasi sebelum muncul, sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dan produktivitas nasional. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya