Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Perlunya Deteksi Dini Diabetes di Indonesia Sebagai Pencegahan

Abi Rama
16/11/2025 08:51
Perlunya Deteksi Dini Diabetes di Indonesia Sebagai Pencegahan
Direktur RS Puri Cinere, Putri Nadya saat meresmikan layanan Wellnes and Diabetes Hub, Sabtu (15/11/2025).(MI/Abi Rama)

INDONESIA kini menghadapi ancaman serius terkait diabetes. Lebih dari 20,4 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia menurut IDF Diabetes Atlas 2025. Lonjakan ini menunjukkan penyakit ini tak lagi hanya menyerang usia lanjut, tetapi juga kelompok produktif yang kian rentan akibat pola hidup tidak sehat.

Kondisi ini diperburuk minimnya pemeriksaan rutin, sehingga banyak kasus baru ditemukan ketika komplikasi sudah muncul. Hal tersebut selaras dengan pengalaman tenaga kesehatan di lapangan yang sering menemukan pasien datang pada tahap lanjut.

Penyakit Diabetes Sulit Untuk Dideteksi

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Herry Nursetiyanto, menjelaskan pemaparannya mengenai penyakit kadar gula darah tinggi ini. Hadir dalam kegiatan edukasi di RS Puri Cinere, dirinya mengingatkan diabetes bukan hanya penyakit kronis biasa, tetapi memiliki karakter yang sulit disadari sejak awal.

“Diabetes dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala hingga terjadi komplikasi serius," jelas Herry dalam pemaparannya, Sabtu (15/11/2025).

Risiko Diabetes Kian Meningkat

Peringatan ini sejalan dengan penjelasan dokter spesialis gizi klinik, dr Kartika Soekarahmita. Kartika menyoroti bagaimana kasus diabetes terus meningkat. Ia menyebutkan hasil penelitian nasional menunjukkan kenaikan signifikan, termasuk tingginya prevalensi hingga 11,7% tahun 2023, yang menandakan risiko diabetes semakin meluas bahkan pada kelompok usia muda.

“Salah satunya tadi, berat badan yang berlebih… lalu kalau makan yang tidak baik dan tidak suka bergerak atau tidak aktif,” ujarnya saat menghadiri acara yang sama. 

Dr. Kartika menjelaskan faktor risiko tidak hanya datang dari konsumsi gula berlebihan. Pola makan tinggi karbohidrat sederhana, kurang aktivitas fisik, obesitas, dan kualitas tidur yang buruk juga berpengaruh. 

“Kalau kita makan makanan yang indeks glikemiknya tinggi… gula darahnya tetap naik. Dan kalau dikonsumsi jangka panjang akhirnya terjadi resistensi insulin,” ujarnya.

Resistensi insulin merupkan kondisi di mana sel-sel tubuh (otot, lemak, hati) menjadi kurang responsif atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Sedangkan insulin, merupakan salah satu hormon pada tubuh manusia yang berfungsi untuk mengatur kadar gula darah. Sehingga, apabila resistensi insulin ini terjadi glukosa dari darah sulit masuk ke dalam sel untuk dijadikan energi, sehingga kadar gula darah meningkat. Ini yang menjadi pemicu diabetes. 

Deteksi Dini Bisa Dilakukan Dengan Konsultasi Ke Layanan Diabetes

Salah satu pencegahan diabetees ialah deteksi dini. Deteksi dini bisa dilkakukan di Rumah Sakit atau layanan kesehatan lainnya. Di RS Puri Cinere melalui layanan Wellness and Diabetic Hub, bisa melakukan pemeriksaan. 

Wellness and Diabetic Hub merupakan sebuah pusat layanan terpadu yang menawakan pemeriksaan dan edukasi kesehatan. Beberapa layanan yang dapat diakses di antaranya: 

  • Skrining dan pemeriksaan metabolik.
  • Konsultasi gizi dan gaya hidup sehat, dipandu tenaga kesehatan.
  • Pendampingan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh.
  • Edukasi berkelanjutan bagi pasien, keluarga, dan masyarakat umum .

Setiap hari 50 pasien bisa memeriksa gula darah secara gratis. “Di sana bapak ibu setiap harinya boleh berkonsultasi dengan tenaga kesehatan secara gratis, dan boleh melakukan pengecekan gula darah gratis setiap harinya,” ujar Direktur RS Puri Cinere, dr. Putri Nadia.

Program ini terbuka bukan hanya untuk pasien dengan diabetes, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin mencegah, memantau kondisi kesehatan, atau melakukan deteksi dini. (Diabetes Atlas/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik