Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Mercu Buana (UMB), melalui Biro Kemahasiswaan, berkolaborasi dengan dosen mata kuliah Pancasila menggelar Pameran Karya dan Lomba SDGs Mahasiswa di Selasar Gedung B, Jumat (9/1). Acara ini menjadi panggung bagi mahasiswa baru untuk menunjukkan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan global melalui aksi sosial yang relevan.
Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur Pancasila dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UMB, Irmulansati Tomohardjo, dalam sambutannya menegaskan bahwa karya yang ditampilkan bukan sekadar tugas akademik, melainkan capaian nyata yang layak mendapatkan rekognisi luas.
“Ini adalah contoh pembelajaran yang sejalan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) 7, yakni aktivitas mahasiswa yang memberi nilai tambah, relevansi, dan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Irmulansati saat membuka acara secara resmi.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini berfungsi ganda, baik sebagai penilaian akademik maupun penguatan portofolio kemahasiswaan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Kemahasiswaan UMB, Yuni Tresnawati, menyoroti aspek penguatan karakter di balik kompetisi ini.
Menurutnya, pengalaman terjun langsung ke masyarakat menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk mengasah integritas dan kepedulian.
“Lebih dari itu, kegiatan ini berperan penting dalam penguatan karakter mahasiswa. Nilai tanggung jawab, empati, kepemimpinan, integritas, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama terasah melalui pengalaman langsung,” kata Yuni.
Ia berharap karakter tersebut mampu mencerminkan profil mahasiswa Pancasila yang matang secara emosional dan kuat secara moral.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan, program SDGs kali ini diikuti oleh 64 kelompok mahasiswa baru. Masing-masing kelompok memamerkan banner program pengabdian yang telah mereka jalankan.
Berbagai inisiatif kreatif pun muncul, mulai dari pelatihan budidaya ikan lele, pembuatan tanaman pangan hidroponik, program pendidikan di panti asuhan, hingga sosialisasi kebersihan lingkungan.
Seluruh karya tersebut dinilai oleh tim juri yang terdiri dari Farida Elmi, Alana Damaris, Rani Purwanti, Suzan Bernadetha Stephani, serta Yuni Tresnawati.
Melalui pameran ini, UMB berharap dapat menciptakan ekosistem prestasi yang berkelanjutan di lingkungan kampus.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diberi ruang untuk berkarya, tetapi juga diapresiasi dan diakui atas kontribusi nyatanya bagi masyarakat,” tutup Irmulansati. (Z-1)
Kekuatan baja tidak muncul saat ia disimpan rapi, melainkan saat ia terus-menerus ditempa dengan panas dan tekanan tinggi.
Prof. Nurhayani Saragih mengukuhkan diri sebagai pakar di bidang Komunikasi Digital Antarbudaya, sementara Prof. Augustina Kurniasih mendalami bidang Manajemen Keuangan.
DOSEN dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi serta Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana berkolaborasi dengan pelaku seni Benni Krisnawardi dan Firman Hidayat Mahmud.
Mahasiswa FIKOM UMB melakukan pendampingan langsung kepada para pedagang melalui edukasi mengenai produksi konten foto dan video promosi di media sosial
Perempuan bukan sekadar figur pasif dalam sejarah seni, melainkan pusat resonansi estetika dan pemikiran
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved