Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Anemia pada Ibu Hamil Jadi Penghambat Utama Kualitas Kesehatan Ibu dan Anak

Basuki Eka Purnama
09/1/2026 20:36
Anemia pada Ibu Hamil Jadi Penghambat Utama Kualitas Kesehatan Ibu dan Anak
Ilustrasi(MI/RAMDANI)

IKATAN Bidan Indonesia (IBI) memperingatkan bahwa kasus kehamilan dengan anemia masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan reproduksi di Indonesia. Ketua Umum IBI, Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan salah satu faktor utama yang menghambat upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak secara nasional.

Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Jumat (9/1), Ade menjelaskan bahwa anemia bukan sekadar masalah kekurangan darah biasa, melainkan pemicu berbagai komplikasi serius. 

Jika tidak ditangani, dampaknya akan sangat fatal, baik bagi keselamatan ibu maupun perkembangan bayi yang dikandungnya.

“Faktor yang dapat memperburuk kondisi kehamilan dengan anemia baik itu terkait dengan buah konsepsinya, di mana ibu yang dengan anemia ini bisa melahirkan bayi yang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), prematur, bahkan mungkin juga punya kelainan kongenital,” ujar Ade.

Dari sisi sang ibu, Ade melanjutkan bahwa anemia meningkatkan risiko perdarahan hebat, baik sebelum persalinan (antepartum) maupun sesudah persalinan (postpartum). Risiko medis ini menjadi ancaman nyata karena dapat berujung pada kematian ibu.

“Itulah yang terjadi saat ini, kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia salah satunya masih tingginya angka kematian ibu, tingginya angka kematian bayi dan juga masalah stunting,” tuturnya.

Pentingnya Pendampingan Sejak Dini

Guna memutus rantai masalah ini, IBI menekankan bahwa pencegahan anemia harus dimulai jauh sebelum masa kehamilan. Persiapan idealnya dilakukan sejak usia remaja hingga masa calon pengantin. Tujuannya agar kondisi fisik perempuan sudah berada pada level optimal saat memasuki fase pembuahan.

Dalam proses ini, bidan memegang peran krusial sebagai pendamping. Bidan bertugas melakukan observasi mendalam terkait pemenuhan gizi dan deteksi dini risiko kesehatan. 

Jika ditemukan komplikasi yang memerlukan tindakan lebih lanjut, bidan akan segera berkolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn).

“Begitu juga pada saat persalinan, pada saat kehamilan bagaimana memastikan ibu hamil ini bukan hanya rutin memeriksakan kehamilannya tapi asupan nutrisinya pun itu harus terpenuhi dengan makronutriennya, mikronutriennya,” kata Ade.

Skrining dan Intervensi Nutrisi

Data menunjukkan bahwa sekitar 70% kasus anemia pada ibu hamil dipicu oleh kekurangan zat besi. Oleh karena itu, IBI mendorong penggunaan teknologi sederhana seperti kalkulator besi untuk mempercepat deteksi dini.

Metode skrining ini tidak hanya menyasar ibu hamil, tetapi juga diperluas hingga ibu menyusui dan balita. Dengan deteksi yang cepat, intervensi nutrisi dapat diberikan lebih efektif.

“Dengan menggunakan kalkulator besi pada ibu hamil itu juga salah satu upaya untuk mendeteksi adanya anemia bukan hanya ibu hamil saja, ibu menyusui pun kita lakukan skrining bahkan bayi balita. Yang paling utama, kita dapat mengetahui dan juga dapat melakukan penanganan secara dini,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya