Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMENUHI kebutuhan gizi seimbang bagi anak sering kali dianggap sebagai beban biaya tinggi bagi sebagian orangtua. Namun, Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), Luthfianti Diana Mauludiyah SGz, RD, menekankan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah penghalang untuk menyediakan makanan berkualitas bagi buah hati.
Menurut Diana, kunci utama dalam menyiasati keterbatasan biaya adalah dengan mengoptimalkan bahan makanan lokal dan musiman yang lebih terjangkau. Selain harganya yang ramah di kantong, bahan-bahan ini umumnya lebih mudah ditemukan di pasar tradisional.
“Bahan lokal, dan musiman sehingga mendapatkan harga yang lebih terjangkau atau bahan makanan yang selalu tersedia dan murah seperti telur, tempe, tahu, ikan, sayur dan buah lokal,” kata Diana, dikutip Kamis (8/1).
Diana menjelaskan bahwa menu harian tidak perlu mewah untuk dikatakan sehat. Kombinasi sederhana yang terdiri dari nasi, sayur bening, protein seperti telur atau tempe goreng, serta buah-buahan lokal sudah cukup untuk memenuhi standar gizi seimbang bagi anak.
Agar anak tidak merasa bosan dengan menu yang itu-itu saja, orang tua disarankan untuk lebih kreatif dalam melakukan variasi. Strategi yang bisa diterapkan adalah dengan mengganti jenis bahan dalam kelompok gizi yang sama atau mengubah teknik pengolahan.
“Mencegah anak bosan, variasi makanan bisa dikenalkan dengan mengganti jenis bahan dalam kelompok gizi yang sama, misalnya protein dari telur, ikan, ayam, tempe, atau kacang-kacangan,” tuturnya.
Selain variasi bahan, mengganti teknik memasak—misalnya dari digoreng menjadi dikukus atau ditumis—juga menjadi kunci agar anak tetap antusias saat waktu makan tiba.
Lebih lanjut, Diana mengingatkan bahwa keberhasilan pola makan anak sangat bergantung pada peran orang tua sebagai teladan. Kebiasaan mengonsumsi makanan sehat harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Ia juga menyarankan pengenalan konsep "Isi Piringku" secara menarik agar anak paham mengenai komposisi nutrisi di piringnya.
Proses pengenalan makanan baru pun sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dalam suasana yang menyenangkan.
Diana menegaskan pentingnya menghindari paksaan saat anak mencoba makanan baru, karena kenyamanan saat makan akan membentuk kebiasaan jangka panjang.
“Sebaiknya orangtua paham dan mengerti makanan apa yang aman untuk anak sehingga dapat memilih dan memberikan makanan yang sehat dan gizi seimbang, dapat pula mengenalkan konsep dan prinsip ‘Isi Piringku’ dengan cara yang menarik,” ujarnya.
Sebagai penutup, Diana mengimbau orangtua untuk rutin memantau pertumbuhan anak melalui pengukuran berat dan tinggi badan secara berkala. Indikator kecukupan gizi juga dapat dilihat dari kondisi fisik sehari-hari.
“Mengamati nafsu makan, tingkat aktivitas, dan daya tahan tubuh anak. Anak yang gizinya cukup umumnya aktif dan jarang sakit,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Riset terbaru University of Bristol mengungkap makanan tanpa proses (unprocessed) membantu tubuh mengatur porsi makan secara alami dan mencegah obesitas.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Asupan energi yang seimbang di pagi hari berperan dalam mendukung proses berpikir, daya ingat, serta kesiapan fokus anak saat belajar.
Nutrisi olahraga menjadi faktor penting yang menentukan energi, performa, dan pemulihan tubuh saat berolahraga.
Orang tua disarankan lebih cermat menyiasati pemenuhan gizi anak di rumah, terutama bagi anak yang lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved