Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan intensitas hujan lebat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan berangsur menurun pada 10 hari pertama (dasarian I) Januari 2026. Penurunan tren ini dipengaruhi oleh melemahnya sejumlah faktor iklim global yang sebelumnya memicu pembentukan awan hujan ekstrem.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Afriyas Ulfah, menjelaskan bahwa meskipun tren melandai, wilayah Pulau Lombok bagian utara dan selatan masih memiliki potensi diguyur hujan deras.
Data BMKG menunjukkan probabilitas curah hujan di atas 50 milimeter per dasarian masih cukup tinggi, yakni mencapai 70 hingga 90 persen di seluruh Pulau Lombok dan sebagian besar Kabupaten Sumbawa Besar. Namun, untuk intensitas yang lebih ekstrem, peluangnya menipis.
"Peluang terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian sebesar 30 sampai 40 persen," ungkap Afriyas Ulfah di Mataram, Jumat (2/1).
Menyusutnya curah hujan pada pergantian tahun ini dipicu oleh dinamika atmosfer global. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat berada di level minus 0,83 dan bergerak menuju netral, yang mengurangi suplai uap air dari Samudra Hindia ke wilayah tengah Indonesia.
Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) saat ini dalam kondisi tidak aktif, menyebabkan kondisi cuaca cenderung lebih kering dan menghambat pertumbuhan awan konvektif skala besar. Anomali suhu muka laut juga menunjukkan kondisi La Nina lemah (indeks -0,77), yang tidak memberikan dampak signifikan pada penambahan curah hujan dibandingkan fase moderat.
Sebagai catatan, penurunan tren ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak akhir Desember 2025. Saat itu, curah hujan tertinggi tercatat di pos hujan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, sebesar 342 milimeter per dasarian.
Kendati data menunjukkan grafik penurunan, BMKG menegaskan bahwa NTB masih berada dalam periode puncak musim hujan. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal tetap mengintai jika hujan turun dengan durasi singkat namun intensitas tinggi.
"Meski ada pengurangan curah hujan pada akhir Desember 2025, masyarakat tetap harus mewaspadai potensi curah hujan di dasarian mendatang pada periode puncak musim hujan," pungkas Ulfah. (Ant/Z-10)
Akan tetapi, katanya, mulai Kamis ini, kondisi atmosfer menunjukkan peningkatan pertumbuhan awan yang berpotensi memicu hujan di wilayah Cilacap dan sekitarnya.
BMKG Semarang peringatkan potensi bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah dalam 3 hari ke depan. Cek daftar 10 daerah yang wajib waspada cuaca ekstrem!
PRAKIRAAN cuaca Jakarta 26-29 Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah DKI Jakarta dan kepulauan seribu
Keunggulan dari penggunaan sensor VIIRS dan MODIS adalah kemampuannya dalam memantau wilayah yang sulit dijangkau secara langsung.
Gempa dangkal M 4,9 guncang Konawe Kepulauan, Sultra, Kamis (26/3). Getaran terasa kuat hingga Kendari dan Konsel dipicu aktivitas Sesar Naik Tolo.
Jakarta ditetapkan masuk dalam kategori Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat memicu gangguan aktivitas masyarakat serta risiko bencana hidrometeorologi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved