Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Tanah Longsor Jadi Bencana Paling Mematikan di Indonesia Sepanjang 2025

Atalya Puspa    
01/1/2026 18:01
Tanah Longsor Jadi Bencana Paling Mematikan di Indonesia Sepanjang 2025
Anak-anak pengungsi korban bencana banjir dan tanah longsor membawa air bersih di Desa Muhajirin, Bener Meriah, Aceh, Selasa (30/12/2025).(ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan signifikan kejadian tanah longsor sepanjang 2025, baik dari sisi frekuensi maupun dampak korban jiwa. Bahkan, tanpa memperhitungkan kejadian Siklon Sinyar, tanah longsor menjadi bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang tahun 2025.

Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, peningkatan tersebut terlihat dari rangkaian peristiwa longsor besar yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. “Sekiranya tidak ada Siklon Sinyar, maka tanah longsor adalah kejadian paling mematikan sepanjang tahun 2025,” ujarnya, Kamis (1/1). 

BNPB mencatat, longsor besar terjadi beruntun sejak awal tahun. Pada Januari 2025, longsor di Petungkriyono, Pekalongan, menewaskan 25 orang. Maret, longsor di Sukabumi merenggut sembilan jiwa. April, longsor di Mojokerto menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Tragedi berlanjut pada Mei di Gunung Kuda, tambang pasir di Jawa Barat, dengan korban 21 jiwa, serta longsor di Pegunungan Arfak, Papua Barat, yang menewaskan 16 orang.

“November menjadi bulan dengan frekuensi dan dampak bencana paling tinggi di 2025,” kata Abdul Muhari. 

Pada bulan tersebut, longsor di Cilacap menewaskan 21 orang, disusul Banjarnegara dengan 17 korban meninggal dan 11 orang masih hilang. Di Papua, longsor di Induga bahkan menelan 23 korban jiwa dan 15 orang hilang.

Menurut BNPB, tingginya korban tidak semata dipicu hujan ekstrem, tetapi juga penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan. “Kondisi-kondisi kelerengan ini sudah mulai sangat rentan, sehingga kita harus melihat ulang tata ruang dan peruntukan lahan agar kejadian tanah longsor ini tidak berulang dan intensitasnya makin tinggi,” tegas Abdul Muhari.

Ia menekankan, pengurangan risiko longsor harus menjadi fokus utama kesiapsiagaan nasional ke depan. “Selain banjir, kita sudah harus menaruh atensi yang sangat tinggi, sangat fokus pada pengurangan potensi kejadian tanah longsor,” ujarnya.
(P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya