Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Luruskan Simpang Siur Gerakan BDS, KPIPA Gelar Edukasi Boikot Tepat Sasaran

Basuki Eka Purnama
21/12/2025 18:59
Luruskan Simpang Siur Gerakan BDS, KPIPA Gelar Edukasi Boikot Tepat Sasaran
Talkshow bertajuk "Salah Paham Boikot, Mana yang Benar dan Mana yang Hoaks", Minggu (21/12) di Jakarta. (MI/HO)

KOALISI Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) menggelar talkshow bertajuk "Salah Paham Boikot, Mana yang Benar dan Mana yang Hoaks", Minggu (21/12) di Jakarta. 

Agenda ini dihadiri 150 peserta secara hybrid untuk membedah strategi gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) agar lebih efektif dan tidak disalahgunakan.

Sekretaris Jenderal KPIPA, Lissa Malike, menjelaskan bahwa edukasi ini penting dilakukan agar semangat masyarakat dalam membela Palestina tidak terjebak pada informasi hoaks atau persaingan usaha yang tidak sehat.

"Talkshow ini bertujuan untuk mengokohkan perjuangan saudara kita di Palestina dengan cara yang semua orang pasti bisa lakukan, yaitu dengan boikot. Gerakan ini paling ampuh untuk melemahkan semua sendi kekuatan zionis. Jika semua umat Islam di dunia sepakat dan konsisten melakukannya bersama-sama, maka boikot akan berhasil," ujar Lissa.

Landasan Moral dan Peran Strategis Perempuan

Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, kembali mengingatkan relevansi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 83 Tahun 2023. 

Ia menekankan bahwa boikot adalah kontribusi nyata yang paling memungkinkan dilakukan oleh masyarakat sipil di tengah keterbatasan akses bantuan ke Gaza.

"Kita tidak dapat menawarkan apapun kepada Gaza dan rakyatnya yang terkepung dan dibunuh setiap hari. Memboikot produk dari negara-negara yang mendukung pendudukan Israel adalah hal terkecil yang dapat kita lakukan. Bagaimana mungkin kamu berdoa untuk kemenangan Palestina dengan kedua tangan, sedangkan dengan tangan yang sama kamu membayar dengan uangmu untuk Israel yang melakukan pembunuhan rakyat Gaza?" tegas Nurjanah.

Ia juga memetakan empat peran sentral perempuan dalam gerakan ini: melakukan edukasi, mengelola gerakan secara kolektif, memprioritaskan belanja rumah tangga pada produk alternatif, serta mendorong para pengusaha untuk menyediakan gerai bebas produk terafiliasi Israel.

Strategi Boikot yang Terukur

Senada dengan hal tersebut, Co-founder BDS Indonesia, Muhammad Syauqi Hafiz, menjelaskan bahwa gerakan BDS merupakan bentuk tekanan nonkekerasan agar Israel patuh pada hukum internasional. 

Namun, ia menekankan pentingnya skala prioritas. Masyarakat diminta fokus pada daftar target utama yang telah diriset agar dampak ekonomi yang dihasilkan lebih maksimal dan terukur.

Melengkapi perspektif hukum, Guru Besar FHUI sekaligus Direktur Eksekutif MINDA, Prof. Heru Susetyo, mengingatkan agar boikot tetap mengedepankan akurasi data untuk menghindari praktik monopoli. 

Ia membagikan tiga langkah praktis dalam ber-BDS: mengikuti daftar terfokus agar kesuksesan lebih realistis, menyesuaikan kebiasaan belanja dengan penjelasan yang sopan kepada lingkungan sekitar, serta melibatkan institusi seperti kampus atau toko lokal untuk meninjau kembali stok produk mereka.

"Berhentilah membeli merek yang menjadi target boikot. Dan jelaskan pilihan Anda dengan sopan kepada keluarga, teman, dan bisnis lokal sehingga mereka memahami dasar hak asasi manusia, bukan permusuhan etnis atau agama," pungkas Heru. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik