Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KESEHATAN rongga mulut sering kali dianggap remeh dan terpisah dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Padahal, gangguan pada gusi dan gigi dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit metabolik mematikan.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Dicky Levenus Tahapary Sp.PD-KEMD, Ph.D, memperingatkan bahwa peradangan gusi akibat gangguan pembuluh darah berisiko memicu berbagai penyakit tidak menular (PTM). Menurutnya, infeksi di rongga mulut setidaknya membawa dua dampak buruk bagi tubuh.
“Kalau ada infeksi di rongga mulut, memang bisa dua. Satu, menimbulkan peradangan yang lebih berat, jadi kalau pasien-pasien sudah dengan faktor risiko misalkan dengan obesitas, pola hidupnya makan fast food banyak, jarang olahraga, dia meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” ujar Dicky, dikutip Jumat (19/12).
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Dicky menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memperparah penyakit seperti diabetes, stroke, hingga serangan jantung melalui mekanisme disfungsi endotel—kerusakan pada lapisan dinding pembuluh darah—serta percepatan pembentukan plak atau kerak di pembuluh darah.
Menariknya, infeksi mulut juga berkontribusi pada peradangan kronis derajat ringan. Artinya, risiko penyakit metabolik kini tidak lagi murni hanya disebabkan oleh faktor tunggal seperti kolesterol tinggi, gula darah, atau hipertensi saja, tetapi juga dipicu oleh infeksi yang ada di mulut.
Dalam beberapa kasus, infeksi ini bahkan dapat mengakibatkan limfadenopati atau munculnya benjolan kelenjar getah bening di area leher.
Salah satu tantangan terbesar dalam menangani masalah ini adalah gejalanya yang sering tidak disadari. Radang gusi, serupa dengan penyakit metabolik lainnya, sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda khusus pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru mencari pertolongan medis saat kerusakan sudah menjalar.
Dicky mengungkapkan bahwa pemeriksaan gigi sering kali menjadi momen krusial untuk mendeteksi penyakit lain yang tersembunyi.
“Dan sering kali memang, masalah gigi geligi sering kali menjadi titik masuk, ternyata ketahuan ada penyakit yang lain, misalkan ada masalah gigi, ternyata ada diabetes juga, karena gigi banyak yang jarang merawat, diabetes juga sama lah, diabetes 86 persen orang enggak tahu ada diabetes atau enggak, kalau enggak diperiksa. Jadi makanya memang harus dua sisi,” tegasnya.
Mengingat keterkaitan yang erat ini, Dicky menyarankan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit metabolik untuk lebih disiplin menjaga kesehatan mulut. Hal ini bertujuan agar mulut tidak menjadi sumber peradangan yang memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara dokter spesialis penyakit dalam dan dokter gigi. Penanganan secara holistik atau menyeluruh sangat diperlukan agar pasien mendapatkan perawatan yang tepat, baik untuk kesehatan mulutnya maupun kendali penyakit metaboliknya. (Ant/Z-1)
Durasi dan teknik penyikatan yang tepat adalah kunci utama kesehatan gigi dan gusi yang menyeluruh.
Peradangan gusi yang tidak ditangani dengan serius dapat berkembang menjadi kerusakan pada tulang penyangga gigi.
Sikat gigi yang terlalu keras atau tekanan berlebihan saat menyikat bisa melukai gusi dan menyebabkan perdarahan.
Gusi yang sakit sering kali bisa menjadi tanda masalah kesehatan mulut seperti penyakit gusi karena kurangnya kebersihan mulut.
"Kesimpulannya, bukan nikotin yang mempersempit pembuluh darah pada gusi dan menutupi tanda klinis peradangan yang normal. Melainkan TAR atau kandungan lain dari rokok."
Studi terbaru mengungkap diabetes bukan sekadar masalah kesehatan, tapi ancaman bagi GDP dunia. Temukan mengapa pencegahan dini menjadi kunci stabilitas ekonomi.
Pada penderita diabetes, infeksi ini dapat berkembang lebih cepat, sulit disembuhkan, dan berpotensi menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani secara tepat.
Langkah pertama dalam merawat luka diabetes adalah menjaga kebersihan luka setiap hari. Luka harus dibersihkan menggunakan air mengalir dan sabun
Diabetes tipe 5 atau maturity onset diabetes of the young (MODY), merupakan variasi diabetes yang biasanya muncul pada usia muda biasanya kurang dari 25 tahun.
Ubi jalar tetap bermanfaat bagi penderita diabetes jika dikonsumsi dengan porsi tepat dan cara pengolahan yang sesuai. Simak penjelasan gizinya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved