Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Rahasia Gigi Sehat: Sikat Gigi Berdurasi Dua Menit dan Teknik Memijat Gusi

Basuki Eka Purnama
19/12/2025 10:38
Rahasia Gigi Sehat: Sikat Gigi Berdurasi Dua Menit dan Teknik Memijat Gusi
Ilustrasi(Freepik)

MENJAGA kebersihan rongga mulut bukan sekadar rutinitas menyiram air dan menggosok gigi dengan cepat. Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D, menekankan bahwa durasi dan teknik penyikatan yang tepat adalah kunci utama kesehatan gigi dan gusi yang menyeluruh.

Menurut Prof. Amaliya, waktu ideal yang diperlukan untuk membersihkan seluruh bagian gigi adalah dua menit. Durasi ini dianggap cukup untuk menjangkau semua permukaan, mulai dari bagian depan hingga area dalam yang sering terlupakan.

“Jangan lupa di bagian dalam yang kena ke lidah sama yang untuk mengunyah suka lupa. Jadi dari arah belakang, tiga gigi, pindah ke depan, satu sampai sepuluh, hitung. Jadi semua kena, kalau dihitung-hitung dua menit,” ujar Amaliya, dikutip Jumat (19/12).

Teknik Menyikat yang Benar

Penyikatan gigi sebaiknya dilakukan secara bertahap, yakni per tiga gigi secara berurutan. Alurnya dimulai dari gigi bagian belakang menuju tengah, serta mencakup bagian dalam atas maupun bawah. 

Menariknya, menyikat gigi bukan hanya soal membersihkan permukaan yang keras, tetapi juga memberikan perawatan pada jaringan lunak.

“Jadi memang dari penyikatan itu, bukan hanya permukaan keras, tapi permukaan yang lunak, itu gusi ikut dipijat, jadi jangan cepat-cepat sikat giginya. Dua menit lah,” tambahnya.

Hindari Kebiasaan Vigorous dan Efek Asam

Meski kebersihan itu penting, Prof. Amaliya mengingatkan masyarakat untuk tidak menyikat gigi terlalu keras atau terlalu sering (vigorous). Kebiasaan ini justru berisiko merusak lapisan gigi atau menyebabkan abrasi. 

Frekuensi penyikatan yang disarankan cukup dua kali sehari: pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Selain tekanan sikat, faktor makanan asam juga perlu diwaspadai. Prof. Amaliya menyarankan agar tidak langsung menyikat gigi sesaat setelah mengonsumsi makanan asam seperti jeruk. Sifat asam dapat melunakkan email gigi, sehingga jika langsung disikat, permukaan gigi akan lebih mudah terkikis.

“Jadi kalau sering makan makanan asam, atau nyimpen-nyimpen jeruk ya di sini (geraham), itu juga mengalami abrasi, atau erosi ya. Seperti tanah juga terkikis gitu, karena si permukaan giginya terkena asam,” jelasnya.

Peran Nutrisi dan Real Food

Kesehatan gigi tidak berdiri sendiri tanpa dukungan pola makan. Membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) adalah langkah preventif agar tidak terjadi peradangan atau karies (gigi berlubang). Prof. Amaliya merekomendasikan konsumsi real food atau makanan alami yang kaya akan Vitamin E, Vitamin C, serta Zinc.

Nutrisi tersebut berperan aktif dalam melindungi dan menjaga gusi tetap kokoh sebagai penopang gigi. Penggunaan pemanis alami seperti madu juga lebih disarankan dibandingkan gula rafinasi.

“Artinya, bila kita kembali ke makanan yang alami, mengurangi penggunaan gula, gula yang alami saja yang dipakai, misalnya madu. Kemudian, makanannya diproses dengan secara alamiah, itu ternyata meningkatkan kesehatan gusi,” tutupnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya