Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJAGA kebersihan rongga mulut bukan sekadar rutinitas menyiram air dan menggosok gigi dengan cepat. Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D, menekankan bahwa durasi dan teknik penyikatan yang tepat adalah kunci utama kesehatan gigi dan gusi yang menyeluruh.
Menurut Prof. Amaliya, waktu ideal yang diperlukan untuk membersihkan seluruh bagian gigi adalah dua menit. Durasi ini dianggap cukup untuk menjangkau semua permukaan, mulai dari bagian depan hingga area dalam yang sering terlupakan.
“Jangan lupa di bagian dalam yang kena ke lidah sama yang untuk mengunyah suka lupa. Jadi dari arah belakang, tiga gigi, pindah ke depan, satu sampai sepuluh, hitung. Jadi semua kena, kalau dihitung-hitung dua menit,” ujar Amaliya, dikutip Jumat (19/12).
Penyikatan gigi sebaiknya dilakukan secara bertahap, yakni per tiga gigi secara berurutan. Alurnya dimulai dari gigi bagian belakang menuju tengah, serta mencakup bagian dalam atas maupun bawah.
Menariknya, menyikat gigi bukan hanya soal membersihkan permukaan yang keras, tetapi juga memberikan perawatan pada jaringan lunak.
“Jadi memang dari penyikatan itu, bukan hanya permukaan keras, tapi permukaan yang lunak, itu gusi ikut dipijat, jadi jangan cepat-cepat sikat giginya. Dua menit lah,” tambahnya.
Meski kebersihan itu penting, Prof. Amaliya mengingatkan masyarakat untuk tidak menyikat gigi terlalu keras atau terlalu sering (vigorous). Kebiasaan ini justru berisiko merusak lapisan gigi atau menyebabkan abrasi.
Frekuensi penyikatan yang disarankan cukup dua kali sehari: pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
Selain tekanan sikat, faktor makanan asam juga perlu diwaspadai. Prof. Amaliya menyarankan agar tidak langsung menyikat gigi sesaat setelah mengonsumsi makanan asam seperti jeruk. Sifat asam dapat melunakkan email gigi, sehingga jika langsung disikat, permukaan gigi akan lebih mudah terkikis.
“Jadi kalau sering makan makanan asam, atau nyimpen-nyimpen jeruk ya di sini (geraham), itu juga mengalami abrasi, atau erosi ya. Seperti tanah juga terkikis gitu, karena si permukaan giginya terkena asam,” jelasnya.
Kesehatan gigi tidak berdiri sendiri tanpa dukungan pola makan. Membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) adalah langkah preventif agar tidak terjadi peradangan atau karies (gigi berlubang). Prof. Amaliya merekomendasikan konsumsi real food atau makanan alami yang kaya akan Vitamin E, Vitamin C, serta Zinc.
Nutrisi tersebut berperan aktif dalam melindungi dan menjaga gusi tetap kokoh sebagai penopang gigi. Penggunaan pemanis alami seperti madu juga lebih disarankan dibandingkan gula rafinasi.
“Artinya, bila kita kembali ke makanan yang alami, mengurangi penggunaan gula, gula yang alami saja yang dipakai, misalnya madu. Kemudian, makanannya diproses dengan secara alamiah, itu ternyata meningkatkan kesehatan gusi,” tutupnya. (Ant/Z-1)
Alat ini biasanya terdiri dari dua bagian utama yakni pegangan, bagian yang dipegang saat digunakan, terbuat dari plastik, bambu, atau material lain yang nyaman digenggam.
Dengan menyikat gigi, maka bisa menghilangkan sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi setelah makan, dan menyingkirkan lapisan plak yang terbentuk dari campuran air liur
Menyikat gigi dua kali sehari belum tentu cukup. Simak empat kesalahan umum menurut ahli gigi yang bisa membuat gigi rusak meski sudah rajin sikat gigi.
Alat ini biasanya memiliki pegangan dan bulu sikat yang lembut atau sedang, yang bisa manual maupun elektrik.
Sebuah studi menunjukkan bahwa melakukan perawatan mulut harian yaitu menyikat gigi dan membersihkan gigi dapat secara drastis mengurangi risiko mengembangkan kanker kepala dan leher.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Peradangan gusi yang tidak ditangani dengan serius dapat berkembang menjadi kerusakan pada tulang penyangga gigi.
Sikat gigi yang terlalu keras atau tekanan berlebihan saat menyikat bisa melukai gusi dan menyebabkan perdarahan.
Gusi yang sakit sering kali bisa menjadi tanda masalah kesehatan mulut seperti penyakit gusi karena kurangnya kebersihan mulut.
"Kesimpulannya, bukan nikotin yang mempersempit pembuluh darah pada gusi dan menutupi tanda klinis peradangan yang normal. Melainkan TAR atau kandungan lain dari rokok."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved