Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jangan Sepelekan Gusi Berdarah: Pintu Masuk Penyakit yang Sering Terabaikan

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 09:51
Jangan Sepelekan Gusi Berdarah: Pintu Masuk Penyakit yang Sering Terabaikan
Ilustrasi(Freepik)

BANYAK masyarakat menganggap remeh tetesan darah yang muncul saat menyikat gigi. Padahal, kondisi tersebut merupakan sinyal peringatan dini bahwa gusi sedang mengalami peradangan. Jika dibiarkan, masalah ini tidak hanya mengancam keutuhan gigi, tetapi juga menjadi pintu masuk bakteri yang memicu berbagai penyakit sistemik di seluruh tubuh.

Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D, menekankan bahwa kewaspadaan harus dimulai dari hal-hal kecil yang terlihat di wastafel kamar mandi.

“Pada saat abis sikat gigi kan kita buang ludah atau pasta giginya, itu kelihatan ada darah. Pada saat sikat gigi berdarah itu salah satu tanda bahwa gusi mengalami peradangan atau perdarahan, itu salah satu tanda. Jadi dari situ saja sudah bisa kita sadari, tapi kadang-kadang kita menganggap remeh,” ujar Amaliya dalam sebuah diskusi pakar di Jakarta, Rabu (17/12).

Dampak yang Tidak Bisa Kembali

Peradangan gusi yang tidak ditangani dengan serius dapat berkembang menjadi kerusakan pada tulang penyangga gigi. Kondisi ini bersifat permanen dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula. Dampak paling fatalnya adalah gigi menjadi goyang hingga akhirnya lepas.

Selain hilangnya fungsi estetika, kerusakan penyangga gigi akan mengganggu aktivitas makan yang secara langsung menurunkan produktivitas harian. Lebih jauh lagi, terdapat risiko munculnya penyakit metabolik karena adanya akses kuman dari gusi yang rusak ke dalam pembuluh darah.

Mengenali Gejala dan Faktor Risiko

Kurangnya edukasi membuat masyarakat sering melewatkan tanda-tanda penyakit gusi. Selain berdarah, masyarakat diimbau untuk memperhatikan perubahan fisik pada gusi seperti:

  • Warna gusi yang memerah atau justru pucat.
  • Tekstur gusi yang terasa lebih lunak atau terlihat membesar (bengkak).
  • Munculnya aroma tidak sedap (bau mulut).
  • Adanya sensasi gatal pada jaringan gusi.

Prof. Amaliya juga menyoroti kebiasaan merokok sebagai faktor risiko utama. Merokok menyebabkan penyempitan aliran darah ke gusi, yang sering kali menutupi gejala peradangan.

“Karena dengan merokok aliran darah gusi itu menjadi menyempit, giginya jadi hitam-hitam, gusinya menjadi pucat, enggak ada darahnya. Sehingga nutrisi ke jaringan pendukung giginya berkurang. Mungkin kalau dicabut itu enggak ada darahnya, padahal itu nanti jadi kering, lukanya kering dan tidak mengalami penyembuhan yang benar,” jelasnya.

Rendahnya Kesadaran Masyarakat

Data menunjukkan tantangan besar dalam kesehatan gigi di Indonesia. Sebanyak 90% masyarakat diketahui tidak memeriksakan giginya ke dokter dalam satu tahun terakhir. Selain itu, hanya 6,2% penduduk yang memahami waktu menyikat gigi yang tepat, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur.

Sebagai langkah pencegahan, pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali sangat disarankan. Langkah ini efektif untuk mengatasi risiko peradangan sejak dini sekaligus menghindari risiko penyakit metabolik yang lebih berat akibat kerusakan pembuluh darah pada gusi. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik