Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK masyarakat menganggap remeh tetesan darah yang muncul saat menyikat gigi. Padahal, kondisi tersebut merupakan sinyal peringatan dini bahwa gusi sedang mengalami peradangan. Jika dibiarkan, masalah ini tidak hanya mengancam keutuhan gigi, tetapi juga menjadi pintu masuk bakteri yang memicu berbagai penyakit sistemik di seluruh tubuh.
Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D, menekankan bahwa kewaspadaan harus dimulai dari hal-hal kecil yang terlihat di wastafel kamar mandi.
“Pada saat abis sikat gigi kan kita buang ludah atau pasta giginya, itu kelihatan ada darah. Pada saat sikat gigi berdarah itu salah satu tanda bahwa gusi mengalami peradangan atau perdarahan, itu salah satu tanda. Jadi dari situ saja sudah bisa kita sadari, tapi kadang-kadang kita menganggap remeh,” ujar Amaliya dalam sebuah diskusi pakar di Jakarta, Rabu (17/12).
Peradangan gusi yang tidak ditangani dengan serius dapat berkembang menjadi kerusakan pada tulang penyangga gigi. Kondisi ini bersifat permanen dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula. Dampak paling fatalnya adalah gigi menjadi goyang hingga akhirnya lepas.
Selain hilangnya fungsi estetika, kerusakan penyangga gigi akan mengganggu aktivitas makan yang secara langsung menurunkan produktivitas harian. Lebih jauh lagi, terdapat risiko munculnya penyakit metabolik karena adanya akses kuman dari gusi yang rusak ke dalam pembuluh darah.
Kurangnya edukasi membuat masyarakat sering melewatkan tanda-tanda penyakit gusi. Selain berdarah, masyarakat diimbau untuk memperhatikan perubahan fisik pada gusi seperti:
Prof. Amaliya juga menyoroti kebiasaan merokok sebagai faktor risiko utama. Merokok menyebabkan penyempitan aliran darah ke gusi, yang sering kali menutupi gejala peradangan.
“Karena dengan merokok aliran darah gusi itu menjadi menyempit, giginya jadi hitam-hitam, gusinya menjadi pucat, enggak ada darahnya. Sehingga nutrisi ke jaringan pendukung giginya berkurang. Mungkin kalau dicabut itu enggak ada darahnya, padahal itu nanti jadi kering, lukanya kering dan tidak mengalami penyembuhan yang benar,” jelasnya.
Data menunjukkan tantangan besar dalam kesehatan gigi di Indonesia. Sebanyak 90% masyarakat diketahui tidak memeriksakan giginya ke dokter dalam satu tahun terakhir. Selain itu, hanya 6,2% penduduk yang memahami waktu menyikat gigi yang tepat, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur.
Sebagai langkah pencegahan, pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali sangat disarankan. Langkah ini efektif untuk mengatasi risiko peradangan sejak dini sekaligus menghindari risiko penyakit metabolik yang lebih berat akibat kerusakan pembuluh darah pada gusi. (Ant/Z-1)
Dengan memahami penyebab dan cara mengatasi gusi berdarah, Anda dapat menjaga kesehatan mulut dengan lebih baik dan mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Musim flu di New York tahun ini datang lebih awal dan menyebar lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved