Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemampuan Bahasa Inggris Indonesia Masih Rendah di Tengah Gempuran AI

Basuki Eka Purnama
16/12/2025 18:41
Kemampuan Bahasa Inggris Indonesia Masih Rendah di Tengah Gempuran AI
Ilustrasi(MI/HO)

DI era digital yang kian kompetitif, penguasaan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar. Namun, laporan terbaru EF English Proficiency Index (EF SET) 2025 menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia belum mengalami peningkatan signifikan. Indonesia masih tertahan di peringkat 80 dari 116 negara dunia, masuk dalam kategori Low Proficiency (kemampuan rendah).

Kondisi ini cukup kontras dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya memudahkan akses informasi global. Laporan tersebut mencatat bahwa meski kebutuhan akan bahasa internasional meningkat, kemampuan bahasa Inggris secara global justru mengalami stagnasi, bahkan penurunan skor di lebih dari 60% negara yang disurvei.

Tantangan Domestik dan Kesenjangan Daerah

Di Indonesia, tantangan utama terletak pada distribusi kemampuan yang tidak merata. Kualitas pengajaran dan akses pembelajaran masih terpusat di kota-kota besar, sementara wilayah non-kota besar seringkali tertinggal. 

Kesenjangan ini menjadi faktor utama mengapa posisi Indonesia dalam pemeringkatan global belum menunjukkan lompatan besar, meski tuntutan pasar tenaga kerja modern semakin mendesak.

Peran AI dalam Pembelajaran Bahasa

Mengusung tema English in the Age of AI, EF EPI 2025 menyoroti bagaimana teknologi mengubah peta pembelajaran. Tahun ini, EF memperbarui metode pengukurannya dengan menilai kemampuan berbicara dan menulis menggunakan teknologi AI milik EF EFEKTA.

Operations Director EF Fanno Hendriawan menjelaskan bahwa meski AI mempermudah proses belajar, kehadiran teknologi ini justru membuat kemampuan bahasa Inggris manusia menjadi semakin bernilai.

“AI saat ini sedang mengubah cara kita belajar dalam menggunakan bahasa Inggris. Namun, justru karena hal itu, nilai kemampuan berbahasa Inggris menjadi semakin penting," ujar Fanno.

Ia menekankan bahwa ada aspek manusia yang tidak bisa diproduksi oleh mesin. “AI memang bisa menerjemahkan kata, tapi belum bisa menggantikan spontanitas dan empati manusia,” ungkapnya.

Fokus pada Kemampuan Produktif

Senada dengan hal tersebut, Academic Operations Manager EF EFEKTA English for Adults Yunita Yanti menyatakan bahwa kemajuan teknologi menuntut fokus yang lebih besar pada kemampuan produktif, yakni berbicara dan menulis.

“AI membuka peluang baru dalam pembelajaran yang lebih personal, tetapi kemajuan teknologi ini menuntut fokus lebih besar pada kemampuan produktif,” jelas Yunita.

Sebagai solusi atas tantangan ini, integrasi antara kecerdasan buatan dan interaksi manusia dianggap sebagai jalan keluar terbaik. Melalui sistem belajar yang menggabungkan kelas tatap muka dengan fitur digital seperti AI Conversation, proses belajar diharapkan menjadi lebih natural, personal, dan efektif dalam mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing di kancah global. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik