Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBATASAN durasi penggunaan gawai dan akses media sosial ternyata tidak lagi cukup untuk melindungi remaja dari dampak negatif dunia digital.
Psikolog dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana, menegaskan bahwa remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.
Menurut Vera, salah satu tantangan terbesar bagi perkembangan psikologis remaja adalah bagaimana media sosial mengubah cara mereka membangun identitas diri. Media sosial sering kali menjadi "cermin kedua" yang memberikan validasi instan namun semu.
"Meningkatkan self-awareness membantu remaja memahami bahwa identitas dan nilai diri tidak bergantung pada angka digital," ujar Vera, merujuk pada indikator seperti jumlah likes, komentar, maupun repost pada unggahan mereka.
Selain penguatan internal, Vera menekankan pentingnya literasi digital, khususnya pemahaman mengenai cara kerja algoritma platform.
Dengan memahami bahwa apa yang muncul di layar adalah hasil mekanis algoritma, remaja diharapkan dapat melihat interaksi digital secara lebih objektif dan tidak mudah terbawa arus tren atau opini publik.
Lingkungan sosial juga memegang peranan krusial. Orangtua dan pendidik didorong untuk membantu remaja membangun lingkaran pertemanan yang suportif, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Keberadaan ruang ekspresi yang aman dapat meminimalisir tekanan untuk tampil sempurna, yang sering kali menjadi pemicu kecemasan dan penurunan rasa percaya diri.
Untuk menciptakan stabilitas emosi, Vera menyarankan pengaturan jadwal aktivitas yang seimbang antara dunia daring (online) dan luring (offline).
Remaja perlu didorong untuk mengeksplorasi hobi, olahraga, dan interaksi sosial nyata agar tidak terjebak dalam penggunaan media sosial yang berlebihan.
Penggunaan yang melampaui batas tidak hanya berdampak pada psikis, tetapi juga fisik. Vera menjelaskan bahwa paparan konten berlebih dapat memicu gangguan tidur yang berujung pada risiko stres, gangguan kecemasan, hingga depresi.
"Validasi perasaan remaja, bantu mereka membangun kembali konsep diri yang sehat, kurangi paparan konten yang memicu perbandingan diri, dan dorong aktivitas offline," pesan Vera bagi para orangtua.
Jika remaja menunjukkan perubahan suasana hati yang ekstrem, menarik diri dari lingkungan, atau jika dampak media sosial sudah mengganggu fungsi harian seperti sekolah dan sosialisasi, Vera menyarankan agar orang tua segera mencari bantuan profesional.
"Berikan pendampingan profesional bila gejala sudah berat, terapi atau konseling jika dampaknya sudah mempengaruhi fungsi harian mereka," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Micro decision fatigue adalah situasi ketika otak lelah karena terus-menerus membuat keputusan kecil, sehingga kita menjadi lebih reaktif dan kurang waspada.
Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya.
Sistem pengawasan internet yang diterapkan suatu negara dapat memengaruhi bagaimana konten digital beredar serta seberapa besar ruang anonimitas yang tersedia bagi pengguna.
Dengan bantuan platform online video, pengguna dapat mengedit klip, menambahkan teks, memasukkan musik, hingga membuat video profesional langsung dari browser.
Saat ini, sekitar 62 persen masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan.
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Psikolog Rose Mini ingatkan orang tua untuk jadi contoh kurangi gawai. Tanpa keteladanan, aturan pembatasan akses digital anak tidak akan efektif.
Jangan abaikan! Psikolog ungkap tanda krisis emosional yang sering luput dari perhatian sebelum memicu tindakan kekerasan dan perilaku impulsif.
Saat seseorang berada dalam puncak emosi, baik itu rasa senang yang meluap, kesedihan mendalam, hingga kemarahan yang memuncak, mereka cenderung menjadi lebih impulsif.
Psikolog klinis Anna Aulia mengungkap mengapa warga desa lebih cepat bangkit pascabencana banjir dibanding warga kota. Simak analisis daya tahan psikologisnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved