Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Memperkuat Mental Remaja di Era Digital: Lebih dari Sekadar Membatasi Layar

Basuki Eka Purnama
16/12/2025 14:50
Memperkuat Mental Remaja di Era Digital: Lebih dari Sekadar Membatasi Layar
Ilustrasi(Freepik)

PEMBATASAN durasi penggunaan gawai dan akses media sosial ternyata tidak lagi cukup untuk melindungi remaja dari dampak negatif dunia digital

Psikolog dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana, menegaskan bahwa remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.

Menurut Vera, salah satu tantangan terbesar bagi perkembangan psikologis remaja adalah bagaimana media sosial mengubah cara mereka membangun identitas diri. Media sosial sering kali menjadi "cermin kedua" yang memberikan validasi instan namun semu.

"Meningkatkan self-awareness membantu remaja memahami bahwa identitas dan nilai diri tidak bergantung pada angka digital," ujar Vera, merujuk pada indikator seperti jumlah likes, komentar, maupun repost pada unggahan mereka.

Pentingnya Literasi Algoritma

Selain penguatan internal, Vera menekankan pentingnya literasi digital, khususnya pemahaman mengenai cara kerja algoritma platform. 

Dengan memahami bahwa apa yang muncul di layar adalah hasil mekanis algoritma, remaja diharapkan dapat melihat interaksi digital secara lebih objektif dan tidak mudah terbawa arus tren atau opini publik.

Lingkungan sosial juga memegang peranan krusial. Orangtua dan pendidik didorong untuk membantu remaja membangun lingkaran pertemanan yang suportif, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. 

Keberadaan ruang ekspresi yang aman dapat meminimalisir tekanan untuk tampil sempurna, yang sering kali menjadi pemicu kecemasan dan penurunan rasa percaya diri.

Menjaga Keseimbangan Hidup

Untuk menciptakan stabilitas emosi, Vera menyarankan pengaturan jadwal aktivitas yang seimbang antara dunia daring (online) dan luring (offline). 

Remaja perlu didorong untuk mengeksplorasi hobi, olahraga, dan interaksi sosial nyata agar tidak terjebak dalam penggunaan media sosial yang berlebihan.

Penggunaan yang melampaui batas tidak hanya berdampak pada psikis, tetapi juga fisik. Vera menjelaskan bahwa paparan konten berlebih dapat memicu gangguan tidur yang berujung pada risiko stres, gangguan kecemasan, hingga depresi.

"Validasi perasaan remaja, bantu mereka membangun kembali konsep diri yang sehat, kurangi paparan konten yang memicu perbandingan diri, dan dorong aktivitas offline," pesan Vera bagi para orangtua.

Jika remaja menunjukkan perubahan suasana hati yang ekstrem, menarik diri dari lingkungan, atau jika dampak media sosial sudah mengganggu fungsi harian seperti sekolah dan sosialisasi, Vera menyarankan agar orang tua segera mencari bantuan profesional.

"Berikan pendampingan profesional bila gejala sudah berat, terapi atau konseling jika dampaknya sudah mempengaruhi fungsi harian mereka," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya