Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBATASAN durasi penggunaan gawai dan akses media sosial ternyata tidak lagi cukup untuk melindungi remaja dari dampak negatif dunia digital.
Psikolog dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana, menegaskan bahwa remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.
Menurut Vera, salah satu tantangan terbesar bagi perkembangan psikologis remaja adalah bagaimana media sosial mengubah cara mereka membangun identitas diri. Media sosial sering kali menjadi "cermin kedua" yang memberikan validasi instan namun semu.
"Meningkatkan self-awareness membantu remaja memahami bahwa identitas dan nilai diri tidak bergantung pada angka digital," ujar Vera, merujuk pada indikator seperti jumlah likes, komentar, maupun repost pada unggahan mereka.
Selain penguatan internal, Vera menekankan pentingnya literasi digital, khususnya pemahaman mengenai cara kerja algoritma platform.
Dengan memahami bahwa apa yang muncul di layar adalah hasil mekanis algoritma, remaja diharapkan dapat melihat interaksi digital secara lebih objektif dan tidak mudah terbawa arus tren atau opini publik.
Lingkungan sosial juga memegang peranan krusial. Orangtua dan pendidik didorong untuk membantu remaja membangun lingkaran pertemanan yang suportif, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Keberadaan ruang ekspresi yang aman dapat meminimalisir tekanan untuk tampil sempurna, yang sering kali menjadi pemicu kecemasan dan penurunan rasa percaya diri.
Untuk menciptakan stabilitas emosi, Vera menyarankan pengaturan jadwal aktivitas yang seimbang antara dunia daring (online) dan luring (offline).
Remaja perlu didorong untuk mengeksplorasi hobi, olahraga, dan interaksi sosial nyata agar tidak terjebak dalam penggunaan media sosial yang berlebihan.
Penggunaan yang melampaui batas tidak hanya berdampak pada psikis, tetapi juga fisik. Vera menjelaskan bahwa paparan konten berlebih dapat memicu gangguan tidur yang berujung pada risiko stres, gangguan kecemasan, hingga depresi.
"Validasi perasaan remaja, bantu mereka membangun kembali konsep diri yang sehat, kurangi paparan konten yang memicu perbandingan diri, dan dorong aktivitas offline," pesan Vera bagi para orangtua.
Jika remaja menunjukkan perubahan suasana hati yang ekstrem, menarik diri dari lingkungan, atau jika dampak media sosial sudah mengganggu fungsi harian seperti sekolah dan sosialisasi, Vera menyarankan agar orang tua segera mencari bantuan profesional.
"Berikan pendampingan profesional bila gejala sudah berat, terapi atau konseling jika dampaknya sudah mempengaruhi fungsi harian mereka," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga talenta digital.
MAHASISWA dan dosen Program Magister (S2) Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (UMB) menggelar kegiatan social volunteering bagi pelajar di SMA Negeri 1 Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
POLITIK uang atau money politics di Indonesia telah menjadi masalah sistemis yang merusak kualitas demokrasi dan mengancam integritas pemilu.
SASE dapat dianalogikan sebagai “penjaga pintu digital” perusahaan.
Pelaksanaan pilkades tahun ini merujuk pada Surat Edaran Gubernur Jawa Barat terkait fasilitasi pelaksanaan pilkades serentak secara replik atau digital.
Penguatan literasi digital merupakan investasi strategis jangka panjang bagi masa depan bangsa.
MENANGGAPI kasus bunuh diri seorang anak SD di NTT, psikolog anak, Mira Damayanti Amir, mengatakan bahwa kondisi ini mungkin dapat disebabkan oleh learned helplessness, ini penjelsannya.
Stres sebenarnya tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam kadar tertentu, stres justru diperlukan untuk menjaga performa kerja agar tetap optimal.
Paparan berita negatif berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental. Psikolog menjelaskan risiko vicarious trauma dan cara mencegahnya.
RESOLUSI tahun baru sebaiknya dimulai dari target yang masuk akal agar proses menjalaninya terasa lebih ringan dan tidak berubah menjadi tekanan atau hukuman atas kekurangan pribadi.
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved