Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SKRINING menjadi salah satu cara yang efektif untuk menekan kasus kanker serviks yang saat ini masih menjadi penyebab kematian kedua bagi perempuan Indonesia. Sayangnya, tingkat skrining nasional baru mencapai kurang lebih 7% pada 2023, jauh dari target WHO yaitu 70% cakupan pada 2030.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa pemeriksaan IVA masih banyak bergantung pada pengamatan visual secara manual, yang cenderung subjektif dan tidak konsisten.
Hal tersebut mengemuka pada acara BrightHer Talkshow yang digelar Herlens, sebagai penutup rangkaian program selama 2025. Talkshow menghadirkan sejumlah pembicara antara lain Dr. dr. Gatot Purwoto, Sp.OG, Subsp. Onk MPH (Obstetrician-Gynecologic Oncology, RSCM FKUI), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (Director of Non-Communicable Disease, Ministry of Health Indonesia), Syahda Maulida P (Associate from Angin Advisory) dan Nidya Anifa (Co-Founder from HerLens).
Acara ini dihadiri oleh tenaga kesehatan, pemangku kebijakan, sektor swasta, mahasiswa, dan publik. Melalui forum ini, HerLens menampilkan perjalanan HerLens selama setahun, mulai dari pengembangan teknologi, pelatihan tenaga kesehatan, roadshow skrining, hingga kolaborasi regional di Jakarta dan Bengkulu.
Dalam paparannya, dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI mengungkapkan penyebab kanker itu hampir semuanya tidak diketahui, kecuali kanker serviks yang 90% disebabkan oleh virus HPV. Oleh karena itu, skrining menjadi cara paling efektif untuk mengetahui ada tidaknya kanker serviks pada seorang perempuan. “Jangan ragu-ragu, yuk kita ajak perempuan di sekeliling kita, teman kita, sahabat kita, ibu kita, tante kita, untuk mau melakukan skrining dengan co-testing HPV DNA dan IVA,” ujar dr Siti Nadia.
Melindungi setiap perempuan dari kanker serviks menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh siapapun. Karena ketika seorang perempuan terutama ibu menderita sakit maka seluruh keluarga akan merasakan sakit yang sama.
“Perempuan adalah setengah dari jiwa kita. Ketika seorang ibu atau istri sakit, suami dan anak-anaknya ikut merasakan sakit yang sama. Hari ini mereka tampak sehat, namun besok bisa tiba-tiba harus dirawat. Karena itu, menjadikan eradikasi kanker serviks sebagai cita-cita bersama adalah langkah yang wajib kita perjuangkan,” tegas dr. Gatot Purwoto, Obgyn RSCM/FKUI.
Untuk memperluas cakupan skrining kanker serviks, HerLens bekerja sama dengan Female Cancer Program Jakarta dan FKUI–RSCM menginisasi program BrightHer. Inisiasi ini bertujuan untuk memperluas akses skrining kanker serviks berbasis teknologi AI melalui pelatihan, kegiatan lapangan, dan edukasi publik, baik di wilayah urban maupun rural.
Melalui teknologi AI, HerLens berupaya meningkatkan akurasi interpretasi IVA, membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih cepat, tepat, dan merata, baik di fasilitas urban maupun daerah dengan akses terbatas.
Teknologi inklusif ini kata Nidya Anifa, Co-Founder HerLens diharapkan dapat menjembatani kesenjangan layanan antara daerah kota dan rural. Melalui inisiasi BrightHer 2025, HerLens telah melakukan skrining IVA-DoVIA berbasis AI secara gratis di 3 daerah yakni Jabodetabek, Bengkulu, dan Bojonegoro.
“Data dari Bojonegoro dan Bengkulu menunjukkan bahwa perempuan dan tenaga kesehatan merasa lebih percaya diri untuk melakukan skrining ketika layanan lebih mudah dan lebih akurat,” kata Nidya Anifa.
Hal ini menjadi bukti bahwa komersialisasi inovasi kesehatan penting agar solusi yang dibangun dapat berkelanjutan. “Banyak inovasi sosial yang tumbuh menjadi bisnis, dan justru melalui model tersebut dampaknya bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas.” ujar Syahda Maulida P, Associate dari ANGIN Advisory.
Pada kesempatan tersebut, HerLens bersama mitra seperti Female Cancer Program FKUI – RSCM, Puskesmas, Poltekkes, dan jaringan komunitas juga menyampaikan sejumlah capaian program sepanjang tahun 2025. Pertama, melakukan skrining IVA-DoVIA berbasis AI secara gratis bagi 391 perempuan di Jabodetabek, Bengkulu dan Bojonegoro.
Rinciannya, untuk Jabodetabek yang digelar di RSCM Kintamani dan Rumpun Ilmu Kesehatan UI, berhasil diperiksa 150 klien, di Bengkulu yang digelar di RSKJ Soepeakto dan Puskesmas Nusa Indah berhasil diperiksa 68 klien. Dan di Bojonegoro yang digelar di balau desa Ngiringinrejo berhasil memeriksa 173 klien.
Kedua, peningkatan kapasitas bagi sekitar 75 tenaga kesehatan melalui pelatihan yang digelar di Kampus UI, Depok dan Bengkulu. Tenaga kesehatan dibekali keterampilan VIA–DoVIA dan penggunaan AI HerLens dengan materi mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta quality assurance.
Ketiga, Pre-seed Investment dari 22 Health Venture melalui NUS School of Medicine Digital Health Accelerator. Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi HerLens secara global. HerLens berhasil mendapatkan pre-seed investment dari 22 Health Venture, sebuah venture fund yang berfokus pada inovasi teknologi kesehatan di Asia Pasifik. Investasi ini difasilitasi melalui keterlibatan HerLens dalam NUS School of Medicine Digital Health Accelerator, salah satu akselerator digital health paling kompetitif di kawasan.
Dukungan ini menegaskan bahwa solusi HerLens relevan secara global dalam meningkatkan deteksi dini di negara berkembang, teknologi AI HerLens memiliki potensi untuk di-scale dan diintegrasikan ke sistem kesehatan nasional dan ekosistem internasional percaya pada kemampuan HerLens mempercepat eliminasi kanker serviks di Indonesia.
Keempat, pengembangan modul edukasi & materi pelatihan. Bekerja
sama dengan doses.id, Program BrightHer menghasilkan dua modul edukasi yakni Modul Edukasi Publik (kanker serviks & pencegahannya) dan modul Pelatihan Tenaga Kesehatan (VIA–DoVIA & penggunaan HerLens AI). Modul ini telah digunakan selama acara di Jakarta, Bojonegoro, dan Bengkulu, serta telah tersedia untuk dibaca di Perpustakaan DKI Jakarta, Perpustakaan Taman Literasi, dan Foreword Library, Jakarta.
Kelima, mendapatkan hibah internasional & nasional. Tahun ini, HerLens menerima dukungan hibah dari dua program bergengsi yakni YSEALI Seeds for the Future – U.S. Department of State. Selain itu HerLens terpilih sebagai salah satu penerima hibah kompetitif regional untuk menjalankan program BrightHer, yang berfokus pada perluasan akses skrining kanker serviks melalui teknologi, pelatihan tenaga kesehatan, dan edukasi komunitas di daerah Jabodetabek dan Bojonegoro.
Selain itu, HerLens juga menerima hibah nasional dari Yayasan BUMN melalui program Pikiran Terbaik Negeri, yang mendukung inovasi sosial berdampak.. Hibah ini memungkinkan BrightHer memperluas aktivitas edukasi, pelatihan, dan skrining, serta memperkuat kolaborasi dengan jaringan Puskesmas dan komunitas lokal di kota Bengkulu.
Keenam, kolaborasi lintas sektor. Tahun ini HerLens memperkuat kemitraan dengan mitra seperti FKUI – RSCM, Female Cancer Program Jakarta, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Kementerian Kesehatan RI, Yayasan BUMN, ANGIN Advisory, Puskesmas & Dinas Kesehatan daerah, U.S. Embassy Jakarta & @america, NUS School of Medicine dan 22 Health Venture.(H-2)
“Cakupannya yang tahun lalu dilakukan di puskesmas dan sekolah, tahun ini kita mau lakukan di tempat kerja. Termasuk DPR RI,”
Indonesia masih menghadapi ribuan kasus kusta tiap tahun. Empat strategi kunci dari deteksi dini hingga anti-stigma dinilai penting menuju target Zero Leprosy.
Prioritaskan kunjungan antenatal sejak trimester pertama, meskipun ibu hamil merasa sehat.
Di sisi lain, lebih dari 20% kasus rawat jalan dan biaya klaim rawat jalan di Indonesia disebabkan infeksi saluran pernapasan atas akut.
Kota Bogor menargetkan 2.500 orang/ peserta pemeriksaan HPV-DNA yang akan diselesaikan pada periode 8–15 Desember 2025.
Radioterapi merupakan satu dari tiga pilar utama terapi kanker, berdampingan dengan prosedur pembedahan dan terapi sistemik.
PT Bio Farma (Persero) berkolaborasi dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyelenggarakan kegiatan Vaksinasi HPV Massal untuk mencegah kanker serviks
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan Indonesia.
“Hampir 90% kanker serviks dapat dicegah. Karena itu, vaksinasi 500 perempuan hari ini merupakan langkah strategis dalam melindungi kesehatan perempuan Indonesia,”
TINGGINYA angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya deteksi dini untuk tes HPV DNA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved