Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Deteksi Dini Dipermudah, Pemerintah Andalkan Skrining Mandiri untuk Tekan Kanker Serviks

N Apuan Iskandar
28/1/2026 07:19
Deteksi Dini Dipermudah, Pemerintah Andalkan Skrining Mandiri untuk Tekan Kanker Serviks
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono (tengah)(MI/N Apuan Iskandar)

PEMERINTAH terus mempercepat upaya pencegahan kanker leher rahim melalui perluasan skrining berbasis tes DNA Human Papillomavirus (HPV), menyusul masih tingginya angka kasus dan kematian perempuan akibat penyakit tersebut. 

Kanker leher rahim tercatat sebagai kanker kedua terbanyak pada perempuan di Indonesia, dengan kondisi mayoritas pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, dalam acara Diseminasi Hasil Studi Implementasi Skrining DNA HPV yang digelar di Kementerian Kesehatan, Selasa (27/1). Ia menegaskan bahwa situasi kanker serviks di Indonesia masih memprihatinkan dan membutuhkan terobosan kebijakan.

“Kondisinya saat ini sangat menyedihkan. Sekitar 70% perempuan yang terdiagnosis kanker leher rahim sudah masuk stadium lanjut, dan 50% di antaranya meninggal dunia. Penyebab utamanya karena tidak dilakukan skrining,” ujar Dante.

Dalam pilot study yang dilaksanakan di Surabaya dan Sidoarjo, pemerintah menguji pendekatan skrining inovatif melalui pengambilan sampel mandiri atau self-sampling. 

Program ini dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menekan beban kanker serviks yang hingga kini masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat.

Dante menjelaskan, pemerintah mengacu pada target global eliminasi kanker leher rahim dengan pendekatan 90–75–90. 

“Sembilan puluh persen anak di bawah usia 15 tahun harus divaksinasi HPV, 75% perempuan usia 30 sampai 65 tahun harus menjalani skrining, dan 90% perempuan yang sudah teridentifikasi lesi prakanker harus diobati,” katanya.

Ia menegaskan kanker leher rahim sejatinya dapat dicegah dan diobati jika terdeteksi dini. 

“Ini adalah kanker yang bisa dicegah karena sudah ada imunisasinya, dan bisa diobati kalau ditemukan pada stadium awal. Karena itu, program ini akan menjadi program nasional,” ujar Dante.

Saat ini, cakupan skrining nasional menunjukkan peningkatan signifikan. Dante menyebut, jumlah perempuan yang telah menjalani skrining kini telah melampaui 600 ribu orang. 

“Dulu hanya sekitar 100 ribuan. Sekarang sudah lebih dari 600 ribu perempuan yang diskrining. Dengan cek kesehatan gratis, kita bisa melakukan skrining yang jauh lebih masif lagi,” katanya.

Salah satu terobosan utama dalam program ini adalah penerapan metode self-sampling. Berbeda dari Pap smear konvensional, metode ini memungkinkan perempuan mengambil sampel sendiri secara mandiri dan lebih privat. 

“Banyak perempuan merasa malu jika harus diperiksa langsung. Dengan swab mandiri, mereka bisa melakukan deteksi dini dari rumah masing-masing,” ujar Dante.

Hasil pilot study di Jawa Timur menunjukkan metode ini memiliki tingkat keandalan tinggi. Angka sampel tidak valid tercatat hanya 1,1%. 

“Dengan edukasi yang lebih baik, swab mandiri ini bisa menjadi salah satu alat penting untuk mengidentifikasi kanker leher rahim di seluruh Indonesia, terutama di daerah dengan keterbatasan tenaga kesehatan,” kata Dante.

Selain skrining, pemerintah juga menekankan pentingnya vaksinasi HPV sejak dini. Prioritas vaksinasi saat ini difokuskan pada anak perempuan di bawah usia 15 tahun sebelum menikah, mengingat salah satu faktor risiko utama kanker serviks adalah infeksi HPV yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Dengan kombinasi vaksinasi, skrining masif, dan inovasi layanan berbasis komunitas, pemerintah berharap angka kanker leher rahim di Indonesia dapat ditekan secara signifikan dan bergerak menuju target eliminasi dalam beberapa dekade mendatang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya