Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Radioterapi: Harapan Baru Penanganan Kanker Serviks yang Presisi dan Efektif

Basuki Eka Purnama
05/1/2026 11:26
Radioterapi: Harapan Baru Penanganan Kanker Serviks yang Presisi dan Efektif
Ilustrasi--Petugas menyiapkan alat untuk radioterapi di Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Surabaya (RS Kemenkes Surabaya), Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/11/2025)(ANTARA/Didik Suhartono)

KANKER serviks tetap menjadi tantangan besar bagi kesehatan perempuan di Indonesia, dengan laporan mencapai 36.000 kasus baru setiap tahunnya. Namun, perkembangan teknologi medis kini memberikan harapan baru. Radioterapi muncul sebagai salah satu pilar utama pengobatan yang menawarkan tingkat presisi tinggi serta keamanan bagi pasien.

Radioterapi merupakan satu dari tiga pilar utama terapi kanker, berdampingan dengan prosedur pembedahan dan terapi sistemik. 

Menurut dr. Fauzan Herdian, Sp.Onk.Rad, Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di Primaya Hospital Bekasi Barat, peran radioterapi sangat krusial dalam perjalanan penyembuhan pasien.

“Sekitar 50%–60% pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari rangkaian pengobatannya. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker serviks, semakin banyak pasien yang terdeteksi pada stadium yang masih dapat ditangani secara optimal dengan radioterapi, khususnya pada stadium II dan III,” ujar Fauzan melalui rilis pers, dikutip Senin (5/1).

Mengenal Dua Metode Utama

Dalam praktiknya, radioterapi terbagi menjadi dua pendekatan utama yang saling melengkapi:

  1. Radioterapi Eksternal: Metode yang paling umum digunakan. Alat ini mengarahkan sinar pengion berenergi tinggi ke area tumor dari luar tubuh. Sesi ini biasanya berlangsung singkat, sekitar 10–30 menit, dan dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit.
  2. Brakiterapi: Berbeda dengan eksternal, metode ini dilakukan dengan menempatkan aplikator secara langsung ke area tumor. Prosedur ini menjadi komponen wajib dalam terapi kanker serviks untuk memastikan dosis radiasi diterima secara optimal oleh sel kanker.

Teknologi Presisi untuk Kenyamanan Pasien

Salah satu hambatan psikologis pasien dalam menjalani radioterapi adalah kekhawatiran akan efek samping. Namun, Fauzan menjelaskan bahwa teknologi terbaru seperti Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT) dan Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) telah meminimalisir risiko tersebut.

Teknologi ini memungkinkan dokter mengatur dosis radiasi dengan sangat akurat. Hasilnya, sinar hanya menyasar sel kanker dan meminimalkan paparan pada jaringan sehat di sekitarnya. 

“Dengan teknik modern seperti IMRT dan VMAT, radioterapi kini semakin aman dan nyaman. Tingkat keberhasilan terapi meningkat, sementara efek samping dapat lebih terkontrol,” tambahnya.

Deteksi Dini: Kunci Kesembuhan

Meski teknologi sudah sangat maju, efektivitas pengobatan tetap bergantung pada kecepatan deteksi. Jika ditemukan pada tahap pra-kanker atau stadium awal, peluang kesembuhan pasien bahkan bisa mendekati 100 persen.

Untuk itu, para ahli sangat menganjurkan skrining rutin melalui Pap smear setiap 3–5 tahun bagi perempuan yang sudah menikah, atau melalui tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sebagai langkah awal yang lebih mudah diakses.

“Radioterapi bukan lagi terapi yang menakutkan. Dengan teknologi modern dan deteksi dini, radioterapi bahkan menjadi solusi yang memberi harapan besar bagi pasien kanker untuk sembuh dan kembali menjalani hidup secara produktif,” tutup Fauzan.

Saat ini, layanan radioterapi modern dengan fasilitas komprehensif telah tersedia di beberapa pusat kesehatan, di antaranya Primaya Hospital Tangerang dan Primaya Hospital Bekasi Barat. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya