Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Walhi: Banyak Desa di Sumut belum Tersentuh Bantuan

Ficky Ramadhan
12/12/2025 18:16
Walhi: Banyak Desa di Sumut belum Tersentuh Bantuan
Anggota Basarnas gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka,Tapanuli Tengah, Sumatra Utara(Dok. Antara)

BENCANA banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara (Sumut) belum diimbangi dengan penanganan bencana yang mumpuni. Empat daerah dilaporkan mengalami dampak paling parah, yakni Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Sejumlah wilayah lain seperti Kota Medan dan Kabupaten Langkat juga sempat terendam banjir.

Perwakilan Walhi Sumatra Utara, Maulana Sidik menjelaskan bahwa kondisi di lokasi bencana masih sangat memprihatinkan, terutama karena intensitas banjir susulan yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.

"Di Sibolga dan beberapa wilayah Tapanuli Selatan serta Tapanuli Tengah, banjir susulan masih terjadi hingga dua hari terakhir. Ini menimbulkan kepanikan baru di kalangan warga dan petugas evakuasi," kata Maulana dalam konferensi pers, Jumat (12/12).

Di Kabupaten Tapanuli Utara, dua kecamatan terdampak masih menghadapi kesulitan akses. Maulana mengungkapkan bahwa ada dua hingga empat desa yang hingga kini belum dapat dijangkau karena jalur menuju lokasi masih tertutup longsor.

"Bantuan logistik hanya bisa diambil warga dengan menerobos titik longsor. Persediaan bahan pokok di desa-desa itu benar-benar menipis," jelasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Tapanuli Tengah, di mana hampir seluruh kecamatan terdampak. Puluhan titik longsor membuat distribusi bantuan dari pemerintah maupun relawan tidak dapat menjangkau korban secara merata.

Selain longsor dan banjir bandang, Tapanuli Tengah kini juga menghadapi krisis air bersih. Infrastruktur PDAM rusak parah setelah dihantam banjir.

"Puluhan instalasi PDAM hancur. Akses air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak saat ini," ucapnya.

Pihaknya sedang berupaya mencari solusi, baik dengan pengiriman truk tangki dari Medan maupun pemasangan jaringan pipa sementara di beberapa posko pengungsian.

Sementara di Tapanuli Selatan, sebagian besar wilayah terdampak longsor parah, terutama di kawasan Batang Toru. Gelondongan kayu yang terbawa arus menghancurkan sejumlah jembatan dan pemukiman. Hingga kini, beberapa jembatan masih terputus, menghambat akses antarwilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Maulana menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya menjadi hambatan serius. Pemerintah daerah disebut kekurangan tenaga dan peralatan untuk membuka akses dan melakukan distribusi bantuan. Di sisi lain, relawan juga menghadapi tantangan besar karena kondisi medan yang rusak berat.

Hingga saat ini, banyak desa belum menerima bantuan logistik sama sekali akibat akses jalan dan jembatan yang rusak. Listrik di sejumlah wilayah Tapanuli Tengah juga belum menyala meski bencana telah berlangsung lebih dari dua minggu.

"Tenaga relawan banyak, tapi kondisi lapangan sangat menghancurkan. Dibutuhkan perlengkapan ekstra untuk bisa menjangkau warga yang terisolir," ujarnya.

Melihat skala kerusakan dan keterbatasan penanganan di tingkat daerah, Walhi Sumut mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan status bencana nasional guna mempercepat mobilisasi bantuan.

Ia menambahkan bahwa kondisi pasokan pangan, akses air bersih, dan infrastruktur dasar di banyak titik sudah berada pada tahap kritis dan memerlukan intervensi yang lebih besar.

"Situasinya sangat genting. Banyak desa belum tersentuh bantuan. Pemerintah pusat perlu turun langsung untuk memastikan penanganan lebih maksimal,” tegas Maulana Sidik. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik