Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, terletak di pertemuan lempeng tektonik aktif, berada di jalur Ring of Fire, serta menghadapi tantangan iklim seperti hujan ekstrem dan kenaikan muka air laut. Berkaca dari kondisi itu, setiap bencana alam seharusnya tidak dilihat semata sebagai peristiwa alam, melainkan juga sebagai ujian bagi pemerintahan, terutama kepala daerah yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap masyarakat dan wilayahnya.
Peneliti senion NAISD Lalu Niqman Zahir mengatakan, dalam situasi bencana, kepala daerah menjadi aktor kunci, yang perannya bisa menentukan selamat-tidaknya banyak warga, dan seberapa cepat daerah bisa pulih.
"Kondisi di mana sistem pemerintahan, regulasi, dan infrastruktur tidak memadai bisa membuat kepala daerah tersandera oleh keterbatasan, bukan karena ketidakmauan, namun karena ketiadaan dukungan struktural dan kelembagaan yang memadai," ujar Lalu.
Serangkaian bencana yang melanda Sumatera akhir November dan Desember ini menjadi ilustrasi nyata akan krisis besar yang menuntut kepemimpinan efektif. Menurut data terkini, korban tewas di tiga provinsi (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) lebih dari 900 jiwa, dengan ratusan hilang, ribuan luka-luka dan ratusan ribu mengungsi. Kerugian material sangat besar: ribuan rumah rusak/hancur, akses jalan dan jembatan terputus, fasilitas kesehatan rusak, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal serta layanan dasar.
Tantangan ini menunjukkan bahwa bencana bukan hanya fenomena alam, tetapi juga fenomena tata kelola yang menguji kapasitas kepemimpinan daerah. Studi-studi tentang manajemen bencana menegaskan bahwa efektivitas respons sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan, bukan hanya oleh besarnya ancaman fisik.
Sejarah bencana di Indonesia menunjukkan berbagai kejadian ketika kepala daerah terlihat tidak berdaya menangani krisis, bukan semata karena kurangnya niat, tetapi karena kondisi struktural yang rapuh, kapasitas daerah yang terbatas, dan regulasi serta persiapan yang tidak memadai.
Contoh monumental adalah tsunami Aceh tahun 2004 yang dipicu gempa magnitudo 9,2-9,3 SR. Korban tewas dan hilang mencapai ratusan ribu jiwa. Infrastruktur pemerintahan dan komunikasi lumpuh total, permukiman, jalan, fasilitas publik dan sistem administrasi musnah. Kepala daerah, meskipun ingin bergerak cepat, tidak memiliki sarana minimal untuk bertindak dan koordinasi penyelamatan berjalan sangat lambat. Peristiwa serupa terjadi pada gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang menimbulkan ribuan korban jiwa dan kerusakan besar. Banyak laporan menyebutkan distribusi bantuan berjalan lambat karena birokrasi kewalahan dan koordinasi antar-lembaga tidak efektif.
"Berbagai bencana lain menunjukkan pola serupa, kerusakan masif, respons lambat, dan ketergantungan pada bantuan luar daerah. Kapasitas kelembagaan lokal seperti BPBD, rencana kontingensi, sistem pendukung keputusan, dan rantai logistik darurat sering terbukti tidak cukup," tuturnya.
Dalam penanganan krisis, dibutuhkan pemimpin yang memiliki sense of crisis. Ciri-ciri pemimpin yang berjiwa kepemimpinan krisis yang efektif yaitu memiliki kesadaran situasional, empati, komunikasi terbuka, dan pengambilan keputusan cepat, fleksibilitas adaptif, dan kemampuan membangun ketahanan jangka panjang. Jika pemimpin tidak memiliki sense of crisis, maka muncul: dampak negatif berupa kekacauan, keterlambatan respons, kerusakan reputasi, dan turunnya moral organisasi, serta hilangnya peluang untuk memperkuat ketahanan.
Menurutnya, pemimpin dalam situasi krisis harus memainkan tiga peran kunci yakni:
Kegagalan atau tidak berdayanya kepala daerah dalam penanganan krisis dan bencana sering kali disebabkan bukan karena kurangnya anggaran atau peralatan, tetapi karena problem struktural dalam system kepemimpinan, yaitu:
Manajemen krisis menuntut pemimpin yang hadir, cepat, tegas, dan empatik. Ada empat elemen utama kepemimpinan dalam bencana, yakni:
Dalam konteks global, kegagalan kepemimpinan dalam penanganan Hurricane Katerina di AS dikaitkan dengan penempatan pejabat yang tidak kompeten dalam struktur FEMA (U.S. Senate, 2006; GAO 2009). Pelajaran dari Katrina menunjukkan bahwa kompetensi pemimpin jauh lebih penting daripada apiliasi politik atau relasi personal. Dalam konteks di Indonesia, penanganan bencana terhambat oleh birokrasi panjang dan politisasi jabatan. Banyak kepala daerah naik dengan modal popularitas, bukan kompetensi kepemimpinan kebencanaan. Padahal, pemimpin yang tidak siap akan menghasilkan keputusan yang terlambat, dan keterlambatan dalam bencana berarti kehilangan nyawa.
Salah satu akar masalah utama lemahnya kepemimpinan krisis di Indonesia adalah proses rekrutmen dan seleksi pimpinan daerah yang tidak berbasis kompetensi, melainkan didominasi oleh politik elektoral dan transaksional. Pemimpin tidak dipilih berdasarkan kapabilitas manajemen, kemampuan teknokratis, pengalaman penanganan bencana, maupun integritas public, tetapi oleh popularitas, identitas kelompok, dan dukungan modal politik.
Hal inilah yang menyebabkan banyak kepala daerah tidak memiliki kompetensi teknis dalam manajemen krisis dan kebencanaan. Orientasi pembangunan lebih berfokus pada seremonial dan pencitraan, bukan kesiapsiagaan jangka panjang. Leadership selection tidak menciptakan pemimpin yang kuat secara teknokratis, tetapi pemimpin yang kuat secara elektoral. Maka ketika krisis datang, pemimpin panik, defensif, dan lamban, karena sistem pembekalan dan pelatihan kepemimpinan bencana juga minim. Tidak heran dalam beberapa kasus, publik melihat pemimpin menghilang, sibuk membela diri, memanipulasi data korban, bahkan menggunakan bencana sebagai ajang citra politik.
Dalam rangka memperkuat kepemimpinan krisis dan bencana ke depan, maka beberapa langkah transformasi sangat penting dilakukan yakni:
Bencana yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah pengingat bahwa tantangan besar tidak bisa dihadapi hanya dengan keberanian personal, tetapi dengan kesiapsiagaan, ketahanan, dan kepemimpinan sistemik. Indonesia harus mengubah paradigma dari responsif menjadi antisipatif, dari pencitraan menjadi profesionalisme, dari kepala daerah sebagai simbol kekuasaan menjadi komandan krisis yang siap di garis depan.
"Tidak boleh lagi kita mendengar pemimpin yang berkata bencana hanya di medsos, pemimpin yang menunda tindakan karena menunggu pencitraan, atau pemimpin yang meninggalkan rakyat demi umroh di saat bencana menimpa. Jika tidak, Indonesia bukan lagi korban alam, tetapi korban kesalahan manusia dalam pemerintahan," tandasnya. (E-3)
Dari total lahan terdampak bencana tersebut, sebagian besar mengalami kerusakan berat.
MENTERI Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan duka cita mendalam dari pemerintah Republik Indonesia atas jatuhnya pesawat ATR 42-500 dan sejumlah bencana di Tanah Air.
Penataan ulang tata ruang, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan alam harus menjadi prioritas, bukan sekadar slogan.
KEMENTERIAN Sosial (Kemensos) terus mengintensifkan upaya pemulihan pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Perusahaan pertambangan didorong untuk mengadopsi standar internasional yang memiliki kriteria lebih ketat guna meminimalkan risiko kerusakan lingkungan, termasuk potensi bencana.
Karena itu jutaan korban banjir di lebih separuh kawasan Provinsi Aceh dan tetangga Sumatra Utara serta Sumatra Barat untuk yakin di balik cobaan Allah ada rahasia luar biasa bagi mereka.
Tidak lagi sekadar respons darurat yang bersifat sementara, zakat diarahkan menjadi pilar sistem perlindungan sosial umat yang bekerja secara lintas fase.
Pemerintah harus mengomunikasikan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang dalam penanganan bencana secara jelas.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan terus bersatu dengan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan dan bencana alam, termasuk pemulihan bencana Sumatra
Koordinasi lintas sektoral ini dinilai berhasil mempercepat pengambilan keputusan strategis di titik-titik terdampak.
PRESIDEN Prabowo Subianto menekankan agar penanganan bencana di Indonesia tidak berubah menjadi ajang pencitraan pejabat dan tokoh publik.
Keterlibatan Polri dalam penanganan bencana Sumatra membuka diskusi yang lebih luas tentang peran kepolisian dalam menghadapi kejahatan lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved