Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ruang Kelas Harus Inklusif untuk Tingkatkan Ketangguhan Anak

Rahmatul Fajri
09/12/2025 17:12
Ruang Kelas Harus Inklusif untuk Tingkatkan Ketangguhan Anak
Ilustrasi ruang kelas.(Dok. NJIS)

DI tengah perkembangan zaman yang sangat pesat, kemampuan akademik saja tidak lagi cukup. Anak-anak membutuhkan keberanian dalam berpikir, empati dalam hubungan sosial, kekuatan karakter, rasa ingin tahu, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Nilai-nilai tersebut tidak dapat dibangun dalam waktu singkat, melainkan harus ditanamkan sejak dini. Masa depan menuntut individu yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, adaptif, dan berkarakter.

Koordinator IB Diploma Programme di North Jakarta Intercultural School (NJIS), Warren Wessels, mengatakan, anak-anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat setiap hari. Misalnya, jika guru ingin menumbuhkan rasa ingin tahu, maka guru harus menunjukkan rasa ingin tahu itu. 

“Pencapaian akademik itu penting, tetapi perkembangan identitas, kepercayaan diri, ketahanan, dan kecerdasan sosial-emosional juga sama pentingnya. Pendidikan adalah perjalanan untuk menjadi pribadi yang utuh,” kata Warren, dalam keterangannya, Selasa, (9/12).

Menurutnya, guru yang terampil dapat menunjukkan kepada siswa bagaimana proses belajar sesungguhnya. Guru menjadi perwujudan filosofi IB tentang pembelajar sepanjang hayat, membantu siswa memahami bahwa perkembangan intelektual adalah perjalanan tanpa akhir.

Ia juga menjelaskan bahwa International Baccalaureate Continuum di NJIS merupakan kerangka kuat untuk membentuk pemikir mandiri. Theory of Knowledge (TOK) dan Extended Essay menjadi dua pilar penting. TOK mengajak siswa mempertanyakan hal-hal yang selama ini mereka anggap benar, serta memahami bagaimana budaya, bahasa, dan emosi memengaruhi cara mereka melihat dunia. Sementara itu, Extended Essay adalah esai akademik sepanjang empat ribu kata dengan topik pilihan siswa, menyerupai pengalaman penelitian di tingkat universitas. Siswa merancang pertanyaan penelitian, menilai sumber, membangun argumen, dan merevisi pemikiran mereka. Proses ini menantang, tetapi sangat membangun kepercayaan diri.

Warren juga menekankan pentingnya lingkungan belajar yang beragam dan inklusif. Indonesia adalah salah satu negara paling multikultural di dunia, dan NJIS mencerminkan kekayaan tersebut. Siswa berasal dari berbagai provinsi, budaya, bahasa, dan agama. Siswa neurodiverse dan neurotypical belajar berdampingan, yang memperkuat empati sekaligus pemahaman tentang berbagai gaya belajar dan kecerdasan majemuk.

“Di lingkungan seperti ini, keberagaman tidak hanya diajarkan, tetapi dialami secara langsung. Siswa tumbuh dengan melihat dunia melalui berbagai perspektif, dan hal itu membentuk mereka menjadi individu yang lebih berempati dan sadar akan isu global,” tegasnya.

Semua tujuan ini hanya dapat tercapai jika anak-anak merasa aman secara emosional. Mereka perlu merasa aman untuk menjadi diri sendiri, bertanya, berbuat salah, dan mencoba lagi. Warren percaya bahwa anak-anak berkembang ketika mereka merasa dihargai dan dilihat sebagai individu.

"Filosofi ini juga menjadi dasar program beasiswa NJIS. Program ini mencari siswa dengan karakter kuat, potensi tinggi, kemampuan kepemimpinan, serta kemauan besar untuk belajar. NJIS Excellence Scholarship diberikan kepada siswa Indonesia dan ekspatriat di kelas sembilan hingga dua belas yang menunjukkan prestasi akademik kuat, kepemimpinan, dan keselarasan dengan nilai-nilai IB Learner Profile. Beasiswa mencakup biaya sekolah dan capital charge selama satu tahun akademik, dengan peluang perpanjangan, dan penerimanya juga menjadi duta sekolah," katanya. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik