Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AI Didorong Jadi Penopang Guru, Bukan Pengganti

Haufan Hasyim  Salengke
03/12/2025 17:49
AI Didorong Jadi Penopang Guru, Bukan Pengganti
Menko PMK Pratikno.(dok.Istimewa)

PEMERINTAH menegaskan bahwa transformasi pendidikan berbasis kecerdasan artifisial (AI) hanya dapat berjalan efektif apabila dibangun di atas kesiapan sumber daya manusia, terutama tenaga pendidik.

 

Penekanan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam agenda Talk Show MAXY Academy bersama Robotic Explorer dan Masyarakat Teknologi Cerdas Indonesia (IS-SMART) dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025 di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (3/12).

“AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi memperkuat kapasitas mereka dalam membimbing dan membangun karakter peserta didik. Kunci utamanya adalah kesiapan manusianya, bukan sekadar teknologinya,” ujar Pratikno.

Menurut dia, arah pengembangan teknologi harus selalu berpijak pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan inklusivitas sosial. Pemerintah, lanjutnya, mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial sebagai solusi atas berbagai persoalan bangsa—mulai dari mitigasi bencana hingga layanan dasar bagi kelompok rentan.

Pratikno mencontohkan penggunaan teknologi dalam membantu korban bencana, baik pada fase tanggap darurat maupun pencegahan melalui sistem pemantauan berbasis AI. Ia menekankan bahwa kelompok disabilitas, masyarakat pinggiran, dan warga dengan keterbatasan akses pendidikan maupun kesehatan harus menjadi pihak yang turut menikmati manfaat inovasi ini.

“Teknologi harus bekerja untuk kemanusiaan. Itu pesan utamanya. Pemanfaatannya harus bijak, adil, dan menyentuh mereka yang selama ini sulit terjangkau,” katanya.

Dukungan terhadap pengembangan ekosistem teknologi pendidikan juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan bahwa Jakarta berkomitmen menjadi contoh kota yang mengedepankan pemanfaatan teknologi pendidikan secara inklusif.

“Guru harus diberi ruang, pelatihan, dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman. Jakarta mendorong ekosistem pendidikan yang modern, tetapi tetap berkeadilan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut dia, era kecerdasan artifisial menuntut pendidikan dasar dan menengah untuk tidak hanya membekali peserta didik dengan literasi digital, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, karakter kuat, dan kreativitas.

“AI harus hadir sebagai alat bantu pembelajaran yang kritis dan etis. Pendidikan kita harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya,” kata Abdul Mu’ti.

Dengan penekanan tersebut, pemerintah berharap ekosistem AI di Indonesia tumbuh tidak hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai instrumen penguatan kualitas manusia dan perluasan akses keadilan sosial.

Senada, Co-Founder dan CEO MAXY Academy, Isaac Munandar, menilai pendidikan berbasis teknologi cerdas harus memberi dampak nyata bagi upaya menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas-lembaga untuk membangun ekosistem pendidikan berbasis AI.

Ketika pemerintah, industri, komunitas, dan sekolah bergerak bersama, masa depan pendidikan Indonesia dapat dicapai lebih cepat,” ujarnya. (Hym/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik