Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Apa Iya, Tinggal di Kota Bikin Manusia Gampang Sakit?

Cornelius Juan Prawira
22/11/2025 13:51
Apa Iya, Tinggal di Kota Bikin Manusia Gampang Sakit?
Ilustrasi(Freepik)

Fenomena urbanisasi telah mengubah cara hidup sebagian besar populasi dunia. Kota-kota besar menawarkan kemudahan akses dan peluang ekonomi, namun di balik hiruk pikuk modernitas tersebut, ilmuwan menemukan bahwa gaya hidup perkotaan bertentangan dengan kodrat biologis manusia. Hal ini berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Lingkungan buatan kota menciptakan stres kronis yang tidak pernah dialami oleh nenek moyang kita.

Tubuh manusia berevolusi selama ribuan tahun. Bertahan hidup di lingkungan alam yang terbuka, dengan paparan sinar matahari, gerakan fisik teratur, dan tingkat stimulasi sensorik yang lebih rendah. 

Kontrasnya, kota besar memaksa otak dan tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi yang terus-menerus menantang:

  • Stimulasi sensorik nerlebihan: Suara bising (polusi suara), lampu terang (polusi cahaya) di perkotaan secara konstan mengaktifkan sistem saraf kita.
  • Kurangnya alam: Kurangnya kontak dengan ruang hijau diketahui menghambat kemampuan otak untuk pulih dari kelelahan mental.
  • Keterbatasan gerak: Gaya hidup yang didominasi duduk  dalam perjalanan dan di kantor bertentangan dengan kebutuhan gerak alami tubuh.

Dampak stres pada fisik dan mental

Paparan stres kronis akibat lingkungan perkotaan memengaruhi sumbu HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) , yang mengatur respons stres. Aktivasi HPA yang berkelanjutan ini memicu produksi hormon stres, seperti kortisol, yang jika tinggi dalam jangka panjang dapat merusak kesehatan:

  • Kesehatan mental: Individu yang tinggal di kota memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, depresi, dan bahkan skizofrenia. Kota mengaktifkan amigdala—bagian otak yang memproses rasa takut, secara lebih intensif.
  • Kesehatan fisik: Stres kronis yang dipicu oleh kota berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, hipertensi, obesitas, dan gangguan tidur akibat polusi suara dan cahaya. Polusi udara juga menjadi faktor yang tak terhindarkan dalam meningkatkan penyakit pernapasan.

Hidup sehat di tengah kota

Meskipun kota tidak ideal secara evolusioner, para ahli menyarankan beberapa solusi untuk memitigasi dampaknya. Strategi utamanya adalah dengan merekayasa ulang lingkungan hidup kita agar lebih menyerupai alam:

  1. Akses ke ruang hijau (green space): Menghabiskan waktu secara teratur di taman, kebun, atau area hijau terbukti menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan kesehatan mental.
  2. Mindfulness dan meditasi: Latihan ini dapat membantu menenangkan amigdala yang terlalu aktif akibat stimulasi kota.
  3. Membuat Jeda Sensorik: Menciptakan momen dalam sehari untuk menjauh dari kebisingan dan cahaya buatan, seperti membatasi penggunaan gadget sebelum tidur.

(nature.com/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik