Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KRITIK terhadap skema pendanaan iklim global kembali mencuat di tengah pelaksanaan Conference of the Parties COP30 Brasil. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai negara-negara maju belum menunjukkan komitmen nyata dalam membantu negara berkembang menangani krisis iklim. Sebaliknya, pola pendanaan yang berjalan dinilai justru memperbesar beban utang.
“Selama ini komitmen pendanaan itu banyak yang melenceng. Negara maju hanya memberi akses, bukan pendanaan. Padahal beberapa negara berkembang ruang fiskalnya sangat terbatas,” ujar Bhima dalam agenda bertajuk Utang Ekologis dan Keadilan Pendanaan Iklim, Selasa (18/11).
Ia menjelaskan bahwa negara maju seharusnya memenuhi tanggung jawab historis terhadap kerusakan lingkungan sejak revolusi industri. “Mereka memiliki dosa iklim yang harus ditebus atau dibayar,” katanya.
Tidak sedikit negara maju yang disebut memanfaatkan isu krisis iklim untuk memperoleh keuntungan finansial. “Begitu ada isu perubahan iklim, banyak negara maju yang programnya justru mencari profit. Salah satu yang paling pasti adalah membeli utang negara berkembang dengan imbal hasil tinggi,” ujarnya.
Temuan itu senada dengan laporan internasional yang menunjukkan praktik recycle finance, yakni hibah yang diberikan dengan syarat penggunaan teknologi dan konsultan dari negara donor. “Seolah mereka memberi, tetapi uangnya kembali dinikmati lembaga-lembaga di negara maju,” ucapnya.
Mekanisme pasar karbon juga menjadi sorotan. Ia menilai skema tersebut masih menyisakan kontradiksi. “Pasar karbon ini problematis karena memberi ruang bagi pencemar untuk terus mencemari tanpa melakukan perubahan nyata dalam dirinya,” katanya.
Dalam konteks hukum internasional, ia menyebut adanya perkembangan penting. International Court of Justice (ICJ) mengeluarkan opini yang menegaskan bahwa negara yang terbukti merusak lingkungan wajib melakukan reparasi. “Dasarnya makin kuat. Kita bisa menagih utang iklim melalui opini ICJ,” ujarnya.
Dorongan agar Indonesia mengambil sikap lebih tegas juga menguat, termasuk melalui renegosiasi dan penghapusan sebagian utang. “Utang ekologis negara maju harusnya dibayar, bukan justru menambah beban utang negara berkembang,” katanya.
Ia juga menyinggung hubungan dengan mitra-mitra utama Indonesia, termasuk Jepang dan Tiongkok. “Jepang tidak merasa punya utang ekologis, padahal masih mendanai proyek-proyek yang menambah krisis iklim. Begitu juga investasi ekstraktif dalam kerangka Belt and Road Initiative yang meninggalkan kerusakan besar,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu berani menggunakan basis ilmiah dan hukum internasional untuk menagih kerugian ekologis tersebut.
“Kita butuh keberanian politik. Kalau tidak ditekan, negara maju tidak akan mengubah cara pandangnya, apalagi membayar utang ekologis secara layak,” pungkas Bhima. (H-3)
"Tagih utang iklim kepada negara maju. Bukan dagang karbon. Karena negara-negara maju punya utang iklim, mereka sudah pakai fosil duluan,"
KOREA Selatan memiliki persoalan pada negara yang cukup serius yaitu mengenai jumlah populasi warganya. Jumlah penduduk Korsel mengalami penyusutan tajam akibat menurunnya angka kelahiran
Peran pemerintah daerah sangat krusial untuk mendukung pencapaian Indonesia menjadi negara maju. Optimalisasi peranan daerah dapat mempercepat Indonesia keluar dari middle income trap.
Jejak emisi yang ditinggalkan negara maju juga dipandang belum sejalan dengan komitmen yang disampaikan
Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya peluang Indonesia menuju negara maju, namun juga mengingatkan akan tantangan besar di bidang kesehatan.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved