Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rentan Trauma, Negara Wajib Merawat Mental Siswa Korban Keracunan MBG

Despian Nurhidayat
16/11/2025 19:20
Rentan Trauma, Negara Wajib Merawat Mental Siswa Korban Keracunan MBG
Siswa mendapatkan perawatan akibat keracunan MBG.(Dok. Antara)

PEMERHATI pendidikan dan isu kesehatan mental di sekolah sekaligus asesor kompetensi hipnoterapi BNSP RI, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, mengatakan bahwa kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) tidak hanya melukai tubuh. Bagi anak, pengalaman ini mengguncang rasa aman yang menjadi fondasi utama perkembangan psikologis.

“Tubuh mereka mungkin pulih dalam beberapa hari, tetapi ketakutan, kecemasan, dan memori menegangkan dapat menetap jauh lebih lama. Ironisnya, penderitaan batin ini berjalan dalam diam, tidak diperiksa, tidak dirawat, dan sering kali tidak dipahami,” ungkapnya, Minggu (16/11).

Dalam konteks perlindungan anak, seluruh pihak dikatakan harus berani memperluas perspektif yaitu kesehatan mental yang merupakan bagian dari keselamatan anak. Menurutnya, memulihkan luka psikologis anak korban keracunan MBG sama pentingnya dengan mengobati luka fisiknya.

“Dalam psikologi klinis, pengalaman keracunan tergolong pemantik trauma (traumatic stressor). Anak mengalami gejala ekstrem seperti muntah hebat, nyeri perut, pusing, hingga sesak yang membuat mereka percaya hidup mereka terancam. Di saat bersamaan, kepanikan orang dewasa dan suasana gawat darurat rumah sakit memperkuat rasa takut,” tegas I Dewa Gede.

“Tidak sedikit anak mengalami reaksi stress akut (acute stress reaction), yaitu kondisi sulit tidur, mimpi buruk, menangis tanpa sebab, atau ketakutan kembali makan makanan tertentu. Namun karena anak tidak memiliki kemampuan verbal emosional yang matang, mereka jarang bisa menjelaskan perasaan takut itu dengan jelas. Mereka hanya merasa tidak aman,” sambungnya.

Dari sudut psikologi perkembangan, peristiwa keracunan dapat mengganggu rasa percaya dasar (basic sense of trust) pada anak. Mereka menjadi waspada berlebih terhadap makanan, takut makan di luar rumah, atau mencurigai semua minuman sebagai potensi racun. Bila dibiarkan, kecemasan ini dapat berkembang menjadi kecemasan terkait makanan (food-related anxiety) yang menghambat tumbuh kembang.

Di tingkat kognitif, pengalaman itu dapat membentuk pola keyakinan yang merugikan (maladaptive schema) seperti “makan itu berbahaya” atau “aku bisa mati kalau salah makan”. Keyakinan negatif ini bukan hanya menakutkan, tetapi juga memengaruhi perilaku sehari-hari.

Semua ini menunjukkan bahwa memulihkan kesehatan mental bukan pekerjaan spontan. Ia membutuhkan pendekatan ilmiah dan dukungan sistemik.

Pemulihan dimulai dari rumah. Anak membutuhkan validasi emosional berupa pengakuan bahwa ketakutannya masuk akal dan dapat dibicarakan. Kalimat sederhana seperti, “Kamu boleh takut, Ibu di sini menemani,” dapat menurunkan intensitas kecemasan.

Pendekatan menghadapi ketakutan secara bertahap (gradual exposure) juga penting. Anak diperkenalkan kembali pada makanan dalam suasana aman dan ceria, bukan penuh tekanan. Pengalaman positif berulang membangun kembali rasa percaya diri mereka untuk makan.

Selain itu, terapi naratif berbasis cerita (storytelling therapy) yakni membiarkan anak menceritakan ulang kejadian sesuai versinya, membantu menata kembali memori traumatis. Dengan bimbingan orang tua atau guru, anak belajar memahami bahwa peristiwa itu telah berlalu.

Namun, dalam beberapa kasus, trauma sudah terlanjur melekat kuat. Anak mengalami ketakutan menetap, gangguan tidur, atau menghindari makan dalam waktu lama. Pada tahap inilah intervensi profesional dibutuhkan. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik