Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM rangka membagun karakter positif, Universitas Syiah Kuala (USK) terus melakukan berbagai upaya untuk membidani mahasiswa dan sivitas akademika yang berakhlak mulia. Antara lain yaitu menggelar Sosialisasi Pembinaan Karakter bertema “Membangun Kampus Aman dan Berkarakter; Sinergi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan USK”.
Sosialisasi yang berlangsung di gedung AAC Dayan Dawood, pada Kamis (13/11) itu juga merupakan wujud komitmen USK dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, berintegritas, dan bermartabat.
Rektor USK Prof Marwan melalui Media Indonesia, Minggu (16/11) menyampaikan, berupaya membangun kampus yang aman dan berkarakter tidak hanya diwujudkan melalui aturan. Tetapi juga melalui kesadaran moral dan budaya saling menghormati di seluruh unsur civitas akademika.
“Kampus yang aman dan berkarakter bukan hanya dibangun melalui regulasi, tetapi melalui kesadaran moral. Semua dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kampus ini dari segala bentuk kekerasan dan penyimpangan perilaku" tutur Rektor Marwan.
Dikatakannya, peningkatan kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi menjadi perhatian serius. USK telah mengambil langkah nyata dengan membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Unit Pembinaan Karakter (UPK), serta Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling (UPBK).
Apalagi kini, sudah ada landasan hukum yang jelas melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan Peraturan Rektor Nomor 33 Tahun 2025 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan USK. Menurutnya aturan saja tidak cukup, tapi paling penting adalah dibutuhkan komitmen moral dan budaya saling menghargai.
“Kecerdasan tanpa karakter adalah kekosongan, sedangkan karakter tanpa kecerdasan adalah ketertinggalan. USK ingin melahirkan lulusan yang unggul dalam ilmu, santun dalam perilaku, dan kuat dalam nilai moral serta spiritualnya" kata Profesor Marwan yang merupakan Doktor jebolan Birmingham Universiti Inggris tersebut.
Sosialisasi ini juga diisi dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh perwakilan civitas akademika, sebagai simbol tekad menolak segala bentuk kekerasan dan pelanggaran etika di lingkungan USK. Penandatanganan yang disaksikan Rektor dan jajaran pimpinan menandai dimulainya Gerakan Kampus Berintegritas di USK.
Adapun Ketua Panitia Aditya Rivaldy, mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena kekerasan dan lemahnya pembinaan karakter di lingkungan kampus.
Dikatakannya, dari survei singkat terhadap 101 mahasiswa, ditemukan lebih dari 25 tanggapan yang menyoroti perilaku tidak pantas, pelanggaran etika, dan kekerasan verbal. Beberapa mahasiswa bahkan mengaku mengalami tindakan bernuansa pelecehan dari pihak yang memiliki posisi akademik.
“Urgensi kegiatan ini tidak bisa ditunda. Kita perlu memperkuat kesadaran karakter di semua lini kampus, agar mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dapat menjaga diri dan lingkungan dari tindakan yang merugikan" kata Aditya.
Menurutnya, hasil pemetaan karakter menunjukkan sekitar 60% dari lebih 200 mahasiswa laki-laki perlu mendapatkan pendampingan dalam hal pemahaman peran sosial dan moral. Kondisi ini menjadi alarm penting bagi USK untuk memperkuat sistem pembinaan karakter secara berkelanjutan.
Sosialisasi ini juga menghadirkan tiga unit utama sebagai narasumber, yaitu Unit Pembinaan Karakter (UPK) yang diwakili oleh Dr Zahratul Idami. Dia menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai karakter dalam perkuliahan dan budaya akademik. Lalu Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling (UPBK) oleh Dr Fajriani. Fajriani memaparkan hasil pemetaan kesehatan mental mahasiswa dan strategi intervensi psikologis adaptif.
Kemudia Unit Satgas PPKPT USK, yang menjelaskan mekanisme pelaporan kekerasan dan sistem pendampingan korban secara profesional dan rahasia. (H-2)
Ketidakjelasan ini disebut menyebabkan warga negara tidak dapat memprediksi secara rasional apakah kritik atau pendapatnya dapat dipidana.
Posisi Turki sangat strategis sebagai lokasi belajar bagi pemuda dunia. Menurutnya, negara tersebut merupakan laboratorium hidup di mana peradaban bertemu dan berkolaborasi secara nyata.
Selain mahasiswa Polstat STIS yang terdiri dari 227 mahasiswa dan 283 mahasiswi, BPS juga mengerahkan 50 pegawai BPS Pusat, serta pegawai BPS di kabupaten/kota terdampak.
mitigasi bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku serta penguatan kesiapan mental masyarakat
Guru dan mahasiswa dilibatkan dalam pendidikan gizi di sekolah penerima MBG untuk meningkatkan kesadaran nutrisi dan mengoptimalkan konsumsi makanan siswa.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
Dinas terus berkoordinasi dengan lintas instansi untuk memastikan ketersediaan layanan pengaduan yang mudah diakses oleh seluruh warga hingga tingkat kelurahan.
Tidak ada zona tertentu yang bisa dikategorikan rawan secara absolut karena potensi kekerasan dapat terjadi di mana saja.
Ia menjelaskan, koordinasi melibatkan berbagai unsur aparat penegak hukum.
Kemendikdasmen meluncurkan Gerakan Rukun dengan Teman yang merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto
Direktur Senior Amnesty International untuk Riset, Advokasi, Kebijakan, dan Kampanye, Erika Guevara-Rosas mengecam keras pola penindakan yang dinilai sistemik tersebut.
kultur kekerasan yang masih melekat dalam tubuh Kepolisian menunjukkan bahwa reformasi kepolisian pasca-pemisahan dari ABRI belum berjalan tuntas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved