Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
AMNETSY International Indonesia menyoroti aksi teror, kekerasan, dan intimidasi yang dialamatkan kepada aktivis, mahasiswa, maupun jurnalis saat unjuk rasa terkait penolakan pengesahan Revisi Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) pada Kamis (20/3).
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid berpendpat, rangkaian kekerasan itu adalah cara yang melanggar hak asasi manusia (HAM), bahkan menunjukkan penguatan praktik otoriter atas suara kritis di ruang sipil.
Berdasarkan catatan Amnesty, kekuatan berlebihan yang dilakukan oleh aparat kepolisian berlangsung di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Manado. Hal itu ditandai dengan penggunaan pentungan, gas air mata, meriam air, dan intimidasi serta kekerasan fisik yang dinilai tidak perlu saat menghadapi massa aksi.
"Melihat apa yang terjadi di hari pertama ini, maka bukan hanya posisi-posisi sipil akan banyak ditempati oleh militer aktif dengan RUU TNI tersebut, tapi juga ruang sipil akan berpotensi diwarnai dengan cara-cara militeristik yang tidak mengindahkan kaidah hukum sipil. Ini awal yang kurang baik," kata Usman lewat keterangan tertulis, Jumat (21/3).
Selain kekerasan yang ditujukan kepada pengunjuk rasa, Usman juga menyoroti teror berupa pengiriman paket berisi kepala babi yang dialamatkan untuk perempuan jurnalis dari media Tempo berinisial FCR. Baginya, paket kepala babi itu merupakan bukti nyata serangan terhadap pers yang merupakan pilar keempat demokrasi.
"Amnesty mendesak kepolisian agar segera mengusut kejadian ini dan mengumumkan ke publik pelaku maupun dalangnya," jelas Usman.
Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) sendiri sudah melaporkan teror pengiriman paket kepala babi itu ke Bareskrim Polri, hari ini. Bagi KKJ, teror tersebut merupakan serangan dan pembunuhan simbolik bagi jurnalis dan media yang kritis merespon isu terkait kepentingan publik. (Tri/M-3)
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Seorang mahasiswa UIN Suska Riau dibacok sesama rekan menggunakan kapak saat menunggu sidang proposal. Simak kronologi dan dugaan motif asmaranya.
Papua Connection menyerukan penghentian kekerasan bersenjata di Tanah Papua, khususnya yang menyasar warga sipil, guru, dan tenaga kesehatan.
Insiden viral pengeroyokan guru oleh wali murid di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, menjadi alarm keras darurat kekerasan di dunia pendidikan Indonesia.
UNISA Yogyakarta menyampaikan keprihatinan atas dugaan kasus kekerasan yang melibatkan dua mahasiswa UNISA Yogyakarta.
Dinas terus berkoordinasi dengan lintas instansi untuk memastikan ketersediaan layanan pengaduan yang mudah diakses oleh seluruh warga hingga tingkat kelurahan.
Ketua Divisi Riset dan Dokumentasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Hans Giovanny Yosua mengingatkan agar Polri tidak disalahgunakan.
ANGGOTA Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah, mendukung penuh instruksi pihak Istana kepada Polri untuk menginvestigasi rangkaian teror yang menimpa sejumlah aktivis dan influencer.
Pihak dari pemerintah atau yang merasa diri bagian dan penguasa? Itulah yang harus diungkap oleh jajaran pemerintahan Prabowo Subianto. Mampukah mereka?
Kritik pemerintah soal bencana Sumatra berujung teror. Konten kreator dan aktivis alami ancaman hingga doxing.
Dua aktivis di Kota Semarang, Adetya Pramandira (26) dan Fathul Munif (28) ditahan Polrestabes Semarang diduga berkaitan dengan unggahan di media sosial terkait aksi pada Agustus 2025 lalu.
Imbauan ditulis tangan disebarkan aktivis Pati yang menjenguknya dan ditujukan kepada warga Pati dan pendukungnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved