Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

BMKG :  Curah Hujan dan Pergerakan Tanah Picu Longsor di Cilacap

Media Indonesia
16/11/2025 10:46
BMKG :  Curah Hujan dan Pergerakan Tanah Picu Longsor di Cilacap
Suasana tanah longsor sepanjang 500 meter menimbun rumah warga di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025(ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/agr)

BENCANA longsor di Majenang, Cilacap, Jawa Tengah menurut  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akibat kondisi tanah yang basah di lereng dan curah hujan tinggi.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menjelaskan curah hujan cukup tinggi di wilayah Majenang yakni masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari pada 10–11 November 2025. Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga akhirnya terjadi pergerakan tanah yang memicu longsor.

“Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ujar Guswanto di Jakarta, dikutip Minggu (16/11).

BMKG mencatat hujan dengan intensitas tinggi di Cilacap dan sekitarnya,  terjadi sejak Kamis (13/11) sehingga meningkatkan kondisi rentan dan berkontribusi pada terjadinya tanah longsor di lokasi tersebut.

Sementara dari faktor cuaca, ia menyebut beberapa hari terakhir ada awan hujan di wilayah Jawa Tengah yang merupakan dampak dari fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) sedang melintas serta gelombang atmosfer lain di kawasan yang sama ikut memperkuat proses pembentukan awan tersebut. Pada skala yang lebih luas, kata dia, peningkatan hujan juga dipengaruhi adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa yang membuat pertumbuhan awan semakin intens.

“Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengataka kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besa  sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.

Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem yang menyebutkan bahwa wilayah Cilacap, termasuk Kecamatan Majenang, berpotensi mengalami cuaca ekstrem pada periode 11–20 November 2025.

 “Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025,” ujar Andri. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya