Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menjelaskan tanda atau gejala Respiratory Syncytial Virus (RSV) yang perlu diwaspadai pada anak seperti hidung tersumbat, rinore seperti keluar ingus, demam, batuk dan terkadang susah nafas.
"Kalau pada anak kecil, bisa mengganggu proses menyusu atau makannya, berat badannya juga biasanya jadi turun," kata Ian, dikutip Senin (3/11).
Ian mengatakan infeksi RSV hampir mirip dengan gejala batuk pilek biasa. Namun, pada kelompok dengan faktor risiko lebih rentan, seperti bayi prematur dan di bawah usia 2 tahun perlu diwaspadai.
Infeksi RSV, lanjut Ian, bisa dari ringan, cuma batuk, pilek, demam biasa, namun juga bisa sampai berat menginfeksi ke paru-paru, membutuhkan oksigen, bisa menyebabkan penyakit bronkiolitis hingga berisiko mengalami asma.
"Anak di bawah usia dua tahun yang datang dengan keluhan batuk, demam, sesak nafas, didengerin pakai stetoskop bunyinya mengi atau kalau sudah parah mungkin orangtua juga bisa dengar bunyi, nafasnya gitu, kayak orang asma, itu hampir pasti penyebabnya adalah RSV," tutur dia.
Dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu menyampaikan dalam mendiagnosis RSV selain infeksi paru-paru, biasanya akan dilakukan swab PCR.
Kemudian, untuk terapi RSV tergantung kondisi klinisnya, jika dengan kondisi ringan-ringan bisa dengan rawat jalan, namun bila dengan kondisi berat diperlukan rawat inap.
Lebih lanjut, Ian membagikan cara mencegah RSV dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjalani etika ketika sedang batuk.
"Ingat, RSV bisa kena ke semua orang. Kalau kita batuk, etika batuk jangan lupa, batuknya bukan ditutup (dengan dua tangan kedepan), tapi
batuknya ke sikunya kita ditutupinnya ke sana," ujar dia.
Ian juga menekankan dalam mencegah RSV pentingnya imunisasi vaksin terutama pada ibu hamil di trimester akhir atau usia kehamilan 32-36 minggu yang bisa memproteksi ibu dan bayinya.
"Karena si vaksin tersebut membuat ibunya menghasilkan antibodi terhadap RSV dan antibodinya itu ditransfer ke bayi melalui plasenta," pungkas Ian. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved