Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KENAIKAN berat badan tidak hanya ditentukan oleh pola makan, tetapi juga oleh faktor genetik. Pesan itu muncul dari sebuah studi besar di Estonia yang melibatkan lebih dari 200.000 orang untuk menelusuri bagaimana DNA memengaruhi berat tubuh seseorang.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan mencari “gen obesitas”, namun hasilnya tak pernah konsisten. Penelitian terbaru menunjukkan bukan satu gen yang berperan, melainkan kombinasi banyak gen yang bekerja bersama, dipengaruhi pula oleh lingkungan, gaya hidup, dan usia.
Penelitian ini menganalisis data Indeks Massa Tubuh (BMI) dari 204.747 orang dewasa di Estonia. Para ilmuwan memfokuskan pada catatan BMI paling awal setiap individu, karena pengaruh gen biasanya paling kuat di usia muda.
“Seiring bertambahnya usia, faktor lingkungan seperti pola makan, penyakit, dan gaya hidup mulai berperan lebih besar,” ujar Erik Abner, peneliti genomik fungsional dari University of Tartu, penulis utama studi tersebut.
Dengan metode genome-wide association study (GWAS), para ilmuwan memindai jutaan penanda genetik untuk mengidentifikasi variasi DNA yang berkaitan dengan BMI. Berbeda dari studi global sebelumnya, penelitian ini menggunakan data genetik khas populasi Estonia, memungkinkan deteksi pengaruh gen yang lebih halus.
Salah satu temuan menarik melibatkan gen MC4R. Versi tertentu dari gen ini, yang dimiliki sekitar 3,5 persen penduduk Estonia, terkait dengan BMI yang lebih rendah. Orang dengan varian ini cenderung merasa kenyang lebih cepat dan makan lebih sedikit.
Sebaliknya, varian gen POMC, yang ditemukan pada sekitar 0,85 persen penduduk, memiliki efek sebaliknya. Gen ini memengaruhi produksi hormon penekan nafsu makan di otak. Pemilik varian ini cenderung merasa kenyang lebih lambat, sehingga makan lebih banyak. Pada perempuan, hal ini bisa menambah berat sekitar 3 kilogram, sementara pada pria sekitar 1 kilogram.
Abner membandingkan temuan itu dengan anjing Labrador Retriever, yang memiliki varian gen serupa dan dikenal sangat termotivasi oleh makanan. Efek yang sama tampak terjadi pada manusia dengan varian POMC ini.
Peneliti juga menemukan kaitan antara BMI dan dua gen lain, yaitu ADGRL3 dan PTPRT, yang berperan dalam transmisi sinyal otak. Sebelumnya, kedua gen ini dikaitkan dengan gangguan perhatian dan pembelajaran. Kini, mereka juga tampaknya berpengaruh terhadap pengaturan rasa lapar di otak.
Temuan ini membuka peluang untuk pengembangan terapi obesitas berbasis genetik. Jika benar gen-gen tersebut memengaruhi hormon lapar, obat-obatan di masa depan dapat dirancang lebih spesifik untuk individu tertentu.
Para peneliti kini tengah mempelajari bagaimana obat penurun berat badan modern, seperti semaglutide bekerja pada orang dengan variasi gen tertentu.
Dengan tingkat obesitas yang terus meningkat di seluruh dunia, penelitian ini menunjukkan bahwa solusi masa depan mungkin bukan lagi “satu resep untuk semua”, melainkan pendekatan personal berdasarkan DNA masing-masing. (Earth/Z-2)
Kerangka Neanderthal berusia hingga 187 ribu tahun ditemukan menyatu dengan dinding gua di Italia. Manusia Altamura menyimpan DNA purba tertua di dunia.
Selain upaya pencarian fisik dan forensik, Kemenag juga memastikan hak-hak administratif jemaah tetap terjaga.
Keluarga Alvaro Kiano Nugroho masih menunggu hasil tes DNA dari RS Polri sebelum memakamkan bocah 6 tahun yang menjadi korban pembunuhan ayah tirinya, Alex Iskandar
Studi terbaru menemukan perbedaan tiga huruf genetik dalam “genom gelap” yang membuat wajah neanderthal lebih besar dan kuat dibanding manusia modern.
James Watson, ilmuwan Amerika peraih Nobel yang menemukan struktur DNA, meninggal pada usia 97 tahun.
Penelitian terbaru menunjukkan Neanderthal bukan manusia gua bodoh seperti anggapan umum. Ini fakta tentang Neanderthal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved