Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Manusia Purba Ini Tewas, Tulangnya Menyatu dengan Struktur Dinding Gua

Cornelius Juan Prawira
20/1/2026 12:50
Manusia Purba Ini Tewas, Tulangnya Menyatu dengan Struktur Dinding Gua
Kerangka Neanderthal berusia hingga 187 ribu tahun ditemukan menyatu dengan dinding gua di Italia. Manusia Altamura menyimpan DNA purba tertua di dunia.(IFLScience)

SEBUAH penemuan arkeologi yang mengerikan sekaligus menakjubkan terus menjadi perbincangan hangat di dunia sains. Dikenal sebagai "Manusia Altamura", kerangka manusia purba ditemukan dalam kondisi yang sangat tidak biasa, terjebak dan menyatu dengan dinding gua di Italia

Melansir laporan dari IFLScience dan LADBible, kerangka ini tidak hanya terkubur. Kerangka ini telah menjadi bagian dari struktur gua akibat proses geologi selama ratusan ribu tahun.

Manusia Altamura diyakini sebagai seorang Neanderthal yang mengalami nasib sangat malang sekitar 128.000 hingga 187.000 tahun yang lalu. Berdasarkan analisis para ahli, pria ini diduga terjatuh ke dalam lubang pembuangan (sinkhole) yang sempit di sistem gua Lamalunga, dekat Altamura, Italia. 

Akibat luka-luka yang dialaminya dan kondisi lubang yang mustahil untuk dipanjat, ia diyakini tewas perlahan karena kelaparan dan dehidrasi di dalam kegelapan abadi. Seiring berjalannya waktu, sisa-sisa tubuhnya tidak membusuk dengan cara biasa.

Tetesan air yang kaya kalsit di dalam gua terus menyelimuti tulangnya. Proses ini menciptakan formasi batu kapur yang disebut "popcorn gua" (speleothem), yang perlahan-lahan membungkus kerangka tersebut hingga akhirnya menyatu dan melekat permanen pada dinding gua.

Penemuan DNA Purba 

Meskipun penemuan ini terlihat mengerikan, bagi para ilmuwan, Manusia Altamura adalah "harta karun" informasi. Melansir data dari Psyche, karena kerangka ini tertutup rapat oleh lapisan kalsit, materi genetiknya terjaga dengan sangat baik. Pada tahun 2015, peneliti berhasil mengambil sampel DNA dari tulang belikatnya, menjadikannya sampel DNA Neanderthal tertua yang pernah berhasil diekstraksi.

Para arkeolog memutuskan untuk tidak memindahkan kerangka tersebut dari dinding gua. Risiko kerusakan pada fosil yang sangat rapuh ini dianggap terlalu tinggi jika harus dipisahkan dari formasi batunya.

Sebagai gantinya, penelitian dilakukan secara in-situ (di lokasi asli) menggunakan teknologi pemindaian laser dan sensor digital untuk merekonstruksi wajah dan struktur tubuhnya tanpa harus menyentuh tulangnya secara langsung. Hingga kini, gua Lamalunga tetap menjadi salah satu situs paleoantropologi paling penting di dunia. (IFLScience/LADBible/Psyche/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya