Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Departemen Ilmu Kesehatan Anak Prof. DR. dr Rini Sekartini, SpAK mengingatkan orangtua mengenai pentingnya imunisasi pada anak sebagai kebutuhan dasar.
"Imunisasi adalah salah satu kebutuhan dasar anak yang wajib orangtua berikan pada anak. Imunisasi sangat bermanfaat untuk melindungi dan mencegah anak terpapar oleh penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi," kata Prof. Rini, Jumat (24/10).
Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu mengatakan anak yang menerima pemberian imunisasi lengkap sesuai usianya sampai 2 tahun akan memiliki perlindungan terhadap penyakit tertentu dan mencegah terjadinya komplikasi serius.
Namun, anak yang tidak mendapatkan imunisasi tidak memiliki kekebalan dalam tubuhnya sehingga rentan akan terhadap penyakit.
"Sehingga bila terkena penyakit akan menjadi berat bahkan dapat menyebabkan kematian," ujar Prof. Rini.
Prof. Rini mencontohkan reaksi tubuh yang normal setelah imunisasi campak yang diberikan pada usia 9 bulan terkadang dapat menimbulkan dampak yang disebut KIPI (kejadian ikutan pascaimunisasi), seperti demam yang tidak tinggi atau timbul ruam, biasanya ringan dan dapat
diberikan obat penurun.
Sebaliknya, anak yang tidak mendapat imunisasi campak, lanjut Rini, berisiko terkena penyakit campak yang dapat menjadi berat sakitnya, bahkan menimbulkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis) dan harus dirawat di rumah sakit.
Lebih lanjut, Prof. Rini menekankan bahwa jika ada keterlambatan pemberian imunisasi pada anak masih tetap bisa diberikan.
"Tidak ada kata terlambat untuk pemberian imunisasi. Bahkan bila sudah diberikan imunisasi pertama misalkan DPT 1 lalu terlambat lebih dari
jadwalnya, tetap dapat diberikan imunisasi selanjutnya dan tidak diulang dari awal lagi," tegas dia.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, pada tahun ini, baru empat provinsi yang cakupan imunisasinya lengkap, sedangkan sebanyak 13 provinsi selama tiga tahun terakhir tidak mencapai target cakupan minimal yakni 90%.
Anggota Satgas Imunisasi IDAI dr. Soedjatmiko mengatakan, kurangnya cakupan imunisasi tersebut berujung pada kejadian luar biasa campak dan rubella di 31 provinsi dan 181 kabupaten pada 2025, dengan total lebih dari 2.000 kasus.
Setiap tahunnya, lanjut Soedjatmiko, 20%-30% bayi dan balita Indonesia berisiko sakit berat hingga mengalami kecacatan, bahkan sampai meninggal, karena imunisasinya belum lengkap. Kemudian, hampir satu juta bayi Indonesia belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali.
"Padahal untuk bisa melindungi semua anak-anak itu minimal cakupan harus 90%, kalau bisa 95%. Artinya kalau ada 10 anak, sembilan semua imunisasinya lengkap," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved