Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya sebesar 0,00017 persen dinilai tidak relevan.
Pakar kesehatan masyarakat, Hermawan Saputra mengatakan bahwa keracunan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele meskipun angkanya kecil. “Tentu keracunan adalah satu kejadian yang tidak diinginkan. Kejadian seperti ini tidak bisa dianggap wajar dan tidak bisa dikomparasi dengan angka per angka,” kata Hermawan dalam keterangannya, Selasa (30/9).
Ia menegaskan, karena program MBG menyangkut kesehatan anak-anak sekolah maka harus ada standar mutu yang ketat. “Bahwa ini berkaitan dengan kesehatan harus dilihat sebagai standar mutu untuk memberi pelayanan dan program yang sebaik-baiknya bagi masyarakat. Apalagi untuk anak-anak kita, adik-adik kita, yang menjadi masa depan bangsa,” jelasnya.
Hermawan menilai, meskipun jumlah kasus sekitar 7.000 siswa, sama sekali tidak bisa dianggap kecil karena terkait dengan hak konstitusional warga negara. “Meskipun satu orang, itu tetap berarti bermasalah. Artinya harus dilihat sebagai mutu yang tidak paripurna. Oleh karenanya harus dibuat evaluasi agar pemberian layanan makan bergizi gratis itu betul-betul memenuhi standar higienis dan mutu makanan,” tegasnya.
Berpotensi Melanggar UUD
Ia bahkan mengingatkan potensi pelanggaran konstitusi Pasal 28H ayat 1 UUD 1945, jika kualitas makanan dalam MBG tidak diperhatikan. “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Jadi hak hidup dan sumber hidup adalah makanan, itu hak setiap orang,” ungkap Hermawan.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh melihat kasus keracunan MBG hanya dari sisi kuantitatif. Satu orang di Papua, Maluku, atau Sulawesi, sama haknya dengan orang di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. “Maka dari itu, makanan harus terdistribusi secara berkualitas, dipantau, dan dijaga agar benar-benar menjamin masa depan bangsa,” tandasnya.
Hermawan berharap, kasus keracunan yang terjadi dapat dijadikan bahan evaluasi besar bagi pemerintah, terlebih lagi MBG merupakan program prioritas Presiden Prabowo. “Mudah-mudahan kita tidak menyepelekan angka, tapi melihatnya sebagai sarana evaluasi untuk menjadi lebih baik,” pungkasnya. (M-1)
BGN menargetkan peningkatan kualitas layanan Program Makan Bergizi (MBG) pada 2026 melalui penerapan akreditasi dan sertifikasi bagi seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
Fadly mengatakan, pada rapat koordinasi itu BGN mengundang pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan untuk mempersiapkan pendataan calon penerima manfaat MBG
MBG menjadi salah satu strategi efektif dalam menekan kemiskinan secara tidak langsung.
Dalam waktu singkat, Indonesia berhasil membangun sistem Makan Bergizi Gratis (MBG) berskala masif hingga menarik perhatian Jepang untuk belajar langsung ke lapangan.
Menyikapi beredarnya informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa makanan dari SPPG Karyasari Sukaresmi didistribusikan menggunakan kantong plastik, pihak SPPG buka suara.
Relawan dapur Makan Bergizi Gratis di Semarang mengaku terbantu secara ekonomi. Warga berharap program MBG terus berlanjut.
Dalam dekade terakhir, hipnoterapi klinis semakin banyak digunakan untuk penanganan trauma pada anak, termasuk trauma medis. Karena itu disebut bisa digunakan untuk pulihkan trauma pada anak
Kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) tidak hanya melukai tubuh. Bagi anak, pengalaman ini mengguncang rasa aman yang menjadi fondasi utama perkembangan psikologis.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bandung Jawa Barat (Jabar) dipastikan akan tetap berjalan. Program MBG saat ini tengah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Bandung.
SURAT pernyataan salah satu sekolah negeri di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral.
SEBANYAK 20 siswa SDN Meruya Selatan 01 Kembangan, Jakarta Barat, dilaporkan mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian dugaan keracunan MBG tersebut terjadi pada Rabu (29/10).
SEBANYAK 20 siswa SDN Meruya 01 Kembangan, Jakarta Barat, menghentikan sementara penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) usai sebanyak 20 siswanya diduga keracunan MBG.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved