Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER anak lulusan Universitas Indonesia Piprim Basarah Yanuarso menilai kebiasaan orangtua menenangkan anak saat menangis dengan memberikan snack atau camilan manis adalah hal yang keliru.
"Itu pola makan yang keliru, orangtua harus paham masalah ini, bahwa snack itu bukannya menyehatkan anak tapi pada gilirannya dia akan tertimpa banyak masalah di antaranya obesitas sentral," kata Piprim saat ditemui usai ujian terbuka promosi doktornya, Selasa (20/5).
Dokter yang menjabat Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu menyampaikan bahwa obesitas pada anak salah satu faktornya adalah pola makan. Selain karena overnutrisi, mengonsumsi nutrisi yang tinggi gula dan tepung juga menjadi faktornya.
"Anak yang makan manis, minuman manis, makanannya yang sifatnya snack-snack itu akan memicu makan lagi, makan lagi, makan lagi," jelasnya.
Sementara, menurutnya, pemberian protein hewani pada anak bisa memberikan rasa kenyang yang mencegah makan berlebihan.
Berbeda halnya dengan mengonsumsi makanan dan minuman manis serta bertepung tinggi bisa memicu gula darah melonjak tinggi, sehingga menyebabkan anak mengalami kondisi craving atau dorongan untuk makan terus-menerus.
"Minum manis, snack-snack yang tepung tinggi itu membuat gula darah kemudian cepat turun lagi, lapar lagi, dia butuh snack lagi itu terus aja kayak gitu sehingga anak itu obesitas. Selain kurang gerak ya," ujarnya.
Ia menyampaikan kebiasaan memberikan anak dengan pola makan yang salah seperti itu bisa memengaruhi kondisi emosional anak hingga memicu berbagai penyakit kronis.
Dalam jangka pendek berdampak pada kondisi emosional anak, seperti mengalami craving, uring-uringan, sering ngamuk hingga gangguan emosi.
Sementara dalam jangka panjang, menurutnya, bisa mengalami obesitas sentral, diabetes, hipertensi hingga sindrom metabolik yang lain hingga gilirannya nanti bisa kena stroke dan serangan jantung di usia muda.
"Sekarang kan banyak remaja hipertensi, obesitas, banyak remaja diabetes. Ini kan salah satu faktor utamanya adalah faktor pilihan makanan dan kenapa dia gak bisa berhenti-berhenti makan, karena jenis makanannya yang memicu kenaikan gula darah cepat dan turunnya cepat," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Meski nampak sepele, momen makan cemilan dapat membuat anak merasa dilihat, dihargai, dan dicintai oleh orangtua.
Lemak viseral atau yang biasa disebut obesitas sentral bersifat lebih jahat dibandingkan lemak di bawah kulit karena bisa menimbulkan penyakit tambahan seperti diabetes.
Berbeda dengan lapar fisik, lapar emosi datang secara mendadak dan sering kali dipicu oleh perasaan tertentu, baik yang positif maupun negatif.
Berbuka puasa menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Jajanan sehat dapat diartikan sebagai jajanan yang segar atau bukan berasal dari makanan kemasan dan pabrikan. Salah satu contohnya adalah buah-buahan, sayuran, dan lain sebagainya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved