Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKTU makan ternyata memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung. Sejumlah penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa menyelaraskan waktu makan dengan ritme alami tubuh atau jam biologis dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University Agil Wahyu Wicaksono menerangkan makan terlalu malam atau saat tubuh bersiap untuk istirahat dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan gangguan metabolisme lainnya. Kebiasaan ini dapat berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular.
"Sebaliknya, makan lebih awal, terutama sarapan sehat di pagi hari dan makan malam sebelum pukul 20.00, terbukti memperbaiki proses metabolik, serta menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol," ucapnya.
Ia menambahkan, studi besar NutriNet-Santé menemukan bahwa orang yang makan pertama setelah pukul 09.00 dan terakhir setelah pukul 21.00 memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan stroke.
MI/HO--Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University Agil Wahyu WicaksonoSementara, memperpanjang durasi "puasa" di malam hari juga terbukti mengurangi risiko stroke.
Membiasakan sarapan juga ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan jantung. Sebuah tinjauan sistematis yang melibatkan hampir 200.000 orang dari AS dan Jepang menunjukkan bahwa melewatkan sarapan meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 21% dan kematian dari segala penyebab sebesar 32%.
"Tidak sarapan dapat memicu kenaikan berat badan, gangguan tekanan darah, serta masalah metabolik yang memicu penyakit jantung. Ketidakteraturan makan, terutama jika mengganggu ritme sirkadian tubuh, juga dapat memperburuk kondisi metabolik secara keseluruhan," tegasnya.
American Heart Association menyatakan makan terlalu dekat dengan waktu tidur (kurang dari dua jam sebelumnya) berisiko menyebabkan obesitas dan sindrom metabolik.
Studi eksperimental turut mengungkapkan bahwa konsumsi kalori dalam jumlah besar pada pagi hari lebih sehat dibanding makan besar di malam hari.
"Pola ini meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kadar gula darah dan trigliserida, serta mengurangi peradangan. Bahkan, membatasi waktu makan hingga pukul 6 sore dapat membantu menurunkan berat badan dan biomarker peradangan dalam tubuh," jelas Agil.
Pada pekerja malam atau mereka yang mengalami gangguan jam tidur, studi menunjukkan bahwa tidak makan berat saat bergadang dapat mencegah peningkatan tekanan darah, stres pada sistem saraf jantung, dan risiko pembekuan darah.
Fakta ini menegaskan bahwa makan di waktu yang sesuai dengan ritme alami tubuh memberikan perlindungan terhadap kerusakan jantung, bahkan bagi mereka dengan pola tidur atau aktivitas tidak biasa.
"Strategi pola makan seperti early time-restricted eating (eTRE) dan metode intermittent fasting seperti alternate-day fasting (ADF) juga terbukti bermanfaat untuk menurunkan berat badan, tekanan darah, dan memperbaiki kadar lemak darah," ungkapnya.
Secara keseluruhan, bukti ilmiah menegaskan bahwa waktu makan sama pentingnya dengan jenis makanan yang dikonsumsi dalam menjaga kesehatan jantung.
Mengatur waktu makan agar selaras dengan ritme alami tubuh adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah dan mengelola penyakit kardiovaskular. (Z-1)
Nutrisi olahraga menjadi faktor penting yang menentukan energi, performa, dan pemulihan tubuh saat berolahraga.
Studi terbaru dari Mass General Brigham menemukan bahwa pola makan berubah seiring bertambahnya usia.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved