Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI minggu ketiga bulan April, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang masih mendominasi kejadian di berbagai wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) mencatat rentetan kejadian yang terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi sejak awal April.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa bencana pertama tercatat di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Banjir melanda dua desa di Kecamatan Bula setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis, 10 April 2025. “BPBD mencatat banjir merendam 43 unit rumah, satu di antaranya rusak berat. Selain itu, satu bangunan bronjong dan drainase di akses jalan masuk Pantai Gumumae juga terdampak,” jelas Abdul Muhari.
Bencana tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu, 13 April 2025, sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa waktu memicu longsor yang berdampak pada 11 kepala keluarga di empat kecamatan. “Kecamatan terdampak yakni Gunungguruh, Sukaraja, Parakansalak, dan Bantargadung. Tercatat 10 rumah warga mengalami rusak ringan,” ujar Abdul.
Di wilayah Sulawesi, banjir juga merendam Desa Pebounang, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 14 April 2025, sekitar pukul 17.09 WITA. “Sebanyak tujuh rumah terdampak dan dua jembatan putus akibat banjir. Tim BPBD bersama unsur gabungan langsung melakukan penanganan darurat di lokasi,” tambahnya.
Tak hanya banjir dan longsor, bencana angin kencang juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Hujan deras disertai angin kencang merusak rumah warga dan fasilitas pendidikan di Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi. “Satu warga mengalami luka ringan akibat tersengat listrik dan sudah mendapatkan penanganan di RSUD Kanjuruhan. BPBD juga melakukan pembersihan material pohon tumbang bersama tim gabungan,” jelas Abdul.
Menghadapi tren bencana hidrometeorologi yang masih tinggi, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Abdul Muhari menegaskan, “Segera lakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman jika terjadi hujan deras lebih dari satu jam dan jarak pandang kurang dari 100 meter.”
Ia juga meminta pemerintah daerah untuk aktif memeriksa kesiapan alat, personel, dan sumber daya. “Pemerintah daerah harus memastikan semua perangkat siap dalam menghadapi potensi darurat bencana,” tutupnya. (H-2)
"Bencana hidrometeorologi basah yang paling banyak terjadi adalah banjir 1.324 bencana diikuti cuaca ekstrem 575 kasus, tanah longsor 197 kasus dan gelombang pasang/abrasi 16 kasus,"
MEMASUKI pekan keempat April 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi basah yang didominasi oleh banjir.
MEMASUKI pekan pertama bulan April, BNPB melalui Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) mencatat sejumlah kejadian bencana Hidrometeorologi Basah.
Banjir Kota Gunungsitoli merendam sekitar 500 unit rumah warga, satu fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, serta 3 akses jalan.
BMKG mengumumkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan kembali dilakukan pada 11-20 Maret 2025
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 2.453 jiwa terdampak telah mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman.
BNPB akan segera menyalurkan bantuan stimulan perbaikan rumah bagi masyarakat terdampak bencana Sumatra.
BNPB mencatat telah terjadi 243 kejadian bencana di Indonesia sepanjang tahun 2026.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan tetap siaga mendampingi pemerintah daerah meski status tanggap darurat bencana di sejumlah wilayah di Sumatra telah dicabut.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved