Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN baru pada tikus menunjukkan oksitosin, hormon yang dikenal berperan dalam ikatan emosional, juga dapat membuat embrio dalam tahap awal perkembangan memasuki kondisi hibernasi. Proses ini, yang disebut "diapause," memungkinkan induk tikus menunda kehamilan ketika sumber daya terbatas.
"Fakta bahwa oksitosin berpengaruh pada ini cukup mengejutkan," kata Moses Chao, ahli saraf di NYU Grossman School of Medicine.
Fenomena diapause sendiri masih menjadi misteri. Proses ini terjadi secara alami pada marsupial seperti kanguru dan oposum, serta setidaknya pada 130 spesies mamalia lainnya, termasuk tikus dan kelelawar.
Bahkan, beberapa laporan menunjukkan diapause mungkin terjadi pada manusia. Meskipun sulit dideteksi dalam kehamilan manusia, laporan dari klinik fertilisasi in vitro (IVF) menunjukkan dalam kasus langka, embrio yang dipindahkan ke rahim bisa tetap tidak berkembang selama beberapa minggu sebelum akhirnya berimplantasi. Pada satu kasus yang dilaporkan pada 1996, kehamilan baru dimulai lima minggu setelah embrio ditransfer ke rahim.
Belum diketahui seberapa lama diapause dapat berlangsung, kata Chao, atau bagaimana embrio memasuki kondisi ini.
Jessica Minder, mahasiswa pascasarjana di NYU Grossman School of Medicine, tertarik pada peran oksitosin dalam diapause karena hormon ini juga terlibat dalam perkembangan embrio dan proses menyusui pada mamalia, termasuk manusia.
Dalam eksperimen awal, para peneliti memasukkan tikus jantan ke dalam kandang tikus betina yang baru melahirkan, memungkinkan mereka kawin meskipun betina masih menyusui anak-anaknya. Hasilnya, kehamilan pada tikus betina yang masih menyusui berlangsung sekitar seminggu lebih lama dibandingkan tikus yang tidak menyusui—menunjukkan adanya fase "jeda sebelum implantasi." Mengingat kehamilan tikus biasanya hanya berlangsung 19 hingga 21 hari, penundaan ini cukup signifikan.
Para peneliti kemudian menyelidiki bagaimana proses ini bisa terjadi.
Dalam kelompok tikus yang baru hamil lainnya, mereka menggunakan optogenetika untuk merangsang pelepasan oksitosin di otak tikus betina. Stimulasi ini dibuat menyerupai pola pelepasan oksitosin saat menyusui.
Setelah lima hari perawatan, rahim tikus diangkat dan diperiksa untuk melihat perkembangan embrio. Lima dari enam tikus dalam eksperimen ini memiliki embrio yang mengalami diapause, ditandai dengan tidak adanya perkembangan. Sebaliknya, tikus hamil yang tidak mengalami stimulasi oksitosin tidak menunjukkan tanda-tanda diapause.
Dalam eksperimen lain, tim menambahkan oksitosin ke embrio tikus yang dikembangkan dalam cawan laboratorium, yang juga menghasilkan perubahan seluler yang konsisten dengan diapause.
Para peneliti menemukan oksitosin menyebabkan sel embrio memperlambat proses penerjemahan gen menjadi protein. Proses ini mencakup penyalinan instruksi dari DNA ke RNA, yang kemudian dikirim ke tempat produksi protein dalam sel.
Namun, embrio tanpa reseptor oksitosin masih bisa mengalami diapause, kata Chao, yang menunjukkan ada beberapa sinyal lain yang dapat memicu jeda ini. Meski begitu, oksitosin tampaknya berperan penting dalam membantu embrio bertahan selama fase ini.
Ketika para peneliti menonaktifkan reseptor oksitosin pada embrio tikus, hanya 11% yang selamat dari diapause, dibandingkan dengan 42% embrio yang memiliki reseptor oksitosin berfungsi normal.
Penelitian ini masih dalam tahap awal dalam memahami metabolisme embrio awal, kata Chao. Namun, pemahaman lebih lanjut tentang mekanisme ini dapat membantu mengungkap penyebab keguguran dini pada manusia serta membuka peluang untuk pengembangan perawatan kesuburan baru.
Lebih banyak penelitian masih diperlukan untuk memahami langkah-langkah biokimia yang menghubungkan stimulasi oksitosin dengan diapause.
Temuan ini juga bisa membantu memahami bagaimana sel dapat bertahan hidup secara umum, tambah Chao. Sebagai contoh, dalam perkembangan awal embrio, sekitar setengah dari sel saraf mati saat sistem saraf berkembang sebelum lahir. Namun, banyak sel saraf yang terbentuk dalam kandungan tetap bertahan seumur hidup.
"Di tahap perkembangan selanjutnya, Anda tidak ingin setengah sel Anda mati," kata Chao. "Jadi, kami sangat tertarik untuk memahami apa yang membuat sel-sel ini tetap bertahan." (Live Science/Z-2)
Peneliti ciptakan replika lapisan rahim untuk pelajari proses implantasi embrio. Terobosan ini diharapkan mampu menekan angka keguguran dan meningkatkan sukses IVF.
Studi terbaru HUJI mengungkap embrio dan rahim melakukan dialog molekuler intens melalui vesikel ekstraseluler hanya dalam satu jam setelah pertemuan.
Data Sensus Penduduk 2020 mencatat angka kematian ibu mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara kematian bayi berada di angka 17 per 1.000 kelahiran hidup.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang kurang matang hingga minuman dengan kandungan kafein.
Jo Bo Ah resmi mengumumkan bahwa ia tengah mengandung anak pertamanya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved