Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DI balik setiap langkah maju dalam respons global terhadap HIV dan AIDS, terdapat lembaga, organisasi, dan komunitas yang berdedikasi. Mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah infeksi baru, memberikan dukungan bagi yang terinfeksi, dan memastikan akses terhadap pengobatan. Berikut adalah beberapa organisasi kunci yang memainkan peran vital dalam upaya global mengakhiri epidemi HIV/AIDS.
1. Global Fund
Sejak berdirinya pada 2002, Global Fund telah berkomitmen untuk mengakhiri AIDS, TBC, dan malaria sebagai ancaman kesehatan masyarakat.
Organisasi ini menginvestasikan lebih dari US$4 miliar setiap tahun dan bekerja dengan berbagai mitra, termasuk pemerintah dan sektor swasta, untuk mengatasi hambatan dalam penanggulangan penyakit.
Dengan 30% dana internasional untuk program HIV, Global Fund telah menyuntikkan lebih dari US$24,2 miliar untuk memerangi HIV/AIDS dan memperkuat sistem kesehatan global.
2. International AIDS Society (IAS)
Didirikan pada 1988, International AIDS Society (IAS) adalah asosiasi profesional terbesar di dunia yang berfokus pada HIV.
IAS menyatukan para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan aktivis untuk memajukan riset, pendidikan, dan advokasi HIV.
Setiap tahun, IAS menggelar konferensi besar yang menjadi ajang pertukaran pengetahuan tentang pencegahan dan pengobatan HIV.
Organisasi ini berperan penting dalam merancang respons ilmiah terhadap HIV dan meningkatkan solidaritas global untuk mereka yang terdampak.
3. UNAIDS
UNAIDS adalah organisasi internasional yang memimpin upaya global untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.
Menyatukan 11 organisasi PBB, termasuk WHO dan UNICEF, UNAIDS mengkoordinasikan respons global terhadap HIV, dengan memberikan dukungan teknis, advokasi, dan data epidemiologi yang penting.
Melalui berbagai laporan dan analisis, UNAIDS memantau kemajuan dunia dalam menanggulangi HIV dan AIDS serta membantu negara-negara untuk mencapai target global.
4. WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berperan besar dalam merancang pedoman global untuk pengendalian HIV dan penyakit terkait.
WHO mendukung negara-negara dalam mengembangkan kebijakan kesehatan yang berbasis bukti dan memperkenalkan strategi untuk mengurangi dampak penyakit menular seksual, termasuk HIV.
WHO juga menyediakan dukungan teknis untuk mengatasi tantangan yang dihadapi sistem kesehatan dalam menangani HIV.
5. Kaiser Family Foundation (KFF)
Sebagai organisasi nirlaba, Kaiser Family Foundation (KFF) menyediakan data dan informasi terkini mengenai kebijakan kesehatan, termasuk HIV, baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia.
KFF menganalisis respons pemerintah AS terhadap epidemi HIV dan memonitor kemajuan negara-negara dalam mencapai target global PEPFAR (Program Pendanaan Darurat Presiden untuk AIDS).
Selain organisasi besar, peran komunitas lokal juga sangat penting dalam memperjuangkan kesadaran, pencegahan, dan pengobatan HIV.
Banyak kelompok berbasis komunitas yang mendukung orang yang hidup dengan HIV, mengedukasi masyarakat tentang pencegahan, serta memberikan ruang bagi mereka yang terdiskriminasi karena status HIV mereka.
Melalui upaya kolaboratif dari lembaga internasional, pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal, respons global terhadap HIV dan AIDS terus berkembang.
Meskipun tantangan masih ada, kemajuan signifikan dalam pencegahan, pengobatan, dan dukungan sosial menunjukkan bahwa kita semakin dekat untuk mengakhiri epidemi HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat global. (hiv.gov/Z-1)
Lebih dari 34 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia.
Selain faktor teknis, hambatan sosial berupa stigma masih menjadi tembok tebal bagi ODHIV.
Seorang pria yang berasal dari Jerman tercatat sebagai orang ketujuh yang tampaknya telah disembuhkan dari HIV, menurut laporan para peneliti.
WAKIL Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat penanggulangan HIV di Indonesia.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Indonesia disebut telah mengambil langkah besar melalui pendekatan primary healthcare.
Edukasi publik harus diperluas, terutama mengenai cara penularan, pencegahan, dan manfaat terapi, agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar.
Stigma negatif tidak hanya merugikan secara sosial, tetapi juga menghambat akses ODHA terhadap hak kesehatan
Total kasus HIV/AIDS di Pati mencapai 3.217 kasus sejak tahun 1996 atau sehari rata-rata muncul kasus HIV/AIDS baru.
Tema Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Denpasar tahun ini sendiri bertajuk “Bergerak Bersama, Bersuara: Ayo Kolaborasi”.
TREN kasus HIV di Kota Bontang, Kalimantan Timur, tercatat menurun dalam tiga tahun terakhir.
Melalui Peringatan Hari AIDS Sedunia, banyak negara berusaha untuk mengubah perilaku berisiko, serta menghentikan stigma dan juga diskriminasi kepada Orang Dengan HIV (ODHIV).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved