Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
MENDONGENG adalah salah satu tradisi lisan tertua di dunia yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas ini bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga memiliki manfaat edukatif dan emosional, terutama bagi anak-anak.
Mendongeng dianggap sebagai bagian dari budaya lisan sekaligus sebagai literasi awal dalam proses pembelajaran, karena dongeng mencakup unsur pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), pengalaman (konatif), dan imajinasi.
Menurut Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), mendongeng dapat membantu melatih motorik anak, mempererat kedekatan emosional antara orangtua atau guru dengan anak, mengajarkan nilai-nilai penting, serta melatih ekspresi gerak dan kemampuan berbahasa.
Selain itu, mendongeng melibatkan empat komponen utama literasi: menulis, membaca, berbicara, dan menyimak, yang secara bersamaan melatih anak untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan pembelajaran mereka.
Dilansir dari beberapa sumber, berikut adalah beberapa alasan mengapa mendongeng itu penting:
1. Membangun Karakter
Melalui cerita-cerita yang penuh nilai moral, anak dapat belajar memahami konsep-konsep seperti kebaikan, kejujuran, keberanian, dan persahabatan.
Setiap tokoh dalam dongeng sering kali mewakili perilaku baik atau buruk yang menjadi contoh bagi anak.
Contoh: dalam dongeng Kancil dan Buaya, anak-anak belajar tentang kecerdikan dan keberanian Kancil dalam menghadapi tantangan, yang membentuk karakter anak menjadi lebih cerdas dan berani.
2. Meningkatkan Kemampuan Berbahasa
Cerita yang disampaikan melalui mendongeng memperkaya kosa kata anak karena mereka terpapar dengan berbagai kata baru yang digunakan dalam cerita. Selain itu, mendongeng juga melatih anak untuk berbicara dengan lebih percaya diri dan mendengarkan dengan baik.
Contoh: Kosa kata baru yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti "keris", "peri", atau "istana". Mendongeng membantu anak memahami makna kata-kata tersebut.
3. Merangsang Kreativitas
Cerita-cerita dengan elemen fantasi dan imajinasi mendorong anak untuk berpikir kreatif dan membayangkan dunia baru, yang membantu mereka mengembangkan ide-ide dan cara berpikir yang lebih inovatif.
Contoh: Dongeng Si Kancil dan Kura-Kura mengajarkan anak tentang persahabatan, namun juga memberi ruang bagi mereka untuk berimajinasi tentang dunia hewan yang bisa berbicara dan berkompetisi.
4. Meningkatkan Empati
Dalam dongeng, anak-anak belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain melalui pengalaman tokoh-tokoh cerita, yang membantu mereka mengembangkan rasa empati, menghargai perbedaan, dan lebih peka terhadap perasaan orang lain.
Contoh: Dalam dongeng Cinderella, anak-anak belajar tentang empati, kebaikan hati, dan menghargai orang lain meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, melalui perjuangan dan ketekunan Cinderella.
5. Mempererat Hubungan Orangtua dan Anak
Mendongeng memberikan kesempatan bagi orangtua atau guru untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan anak, memperkuat ikatan emosional, dan memperdalam komunikasi, serta memahami perasaan dan pikiran anak.
Contoh: Seorang ibu yang rutin mendongeng sebelum tidur, seperti bercerita tentang Malin Kundang atau Cinderella akan mempererat hubungan antara dirinya dan anaknya.
6. Melestarikan Budaya dan Membentuk Identitas
Orangtua atau guru dapat memperkenalkan dongeng daerah kepada anak-anak untuk mengajarkan nilai-nilai budaya, tradisi, dan keberagaman, dengan berdiskusi tentang pesan moral dan latar belakang budaya cerita tersebut.
Contoh: Dongeng Sangkuriang dari Jawa Barat mengajarkan anak-anak tentang legenda yang mencerminkan nilai-nilai budaya setempat, seperti hubungan manusia dengan alam dan budaya tentang asal-usul sebuah tempat.
7. Melatih Motorik dan Ekspresi Gerak
Mendongeng dapat juga melatih motorik anak, terutama saat cerita diiringi dengan ekspresi gerak tubuh atau mimik wajah. Melalui gerakan dan ekspresi yang ditampilkan, anak-anak belajar mengembangkan koordinasi tubuh dan keterampilan motorik halus mereka.
Contoh: Saat mendongeng, orangtua atau guru dapat menirukan gerakan hewan, seperti kucing atau harimau, untuk membantu anak melatih otot tubuh dan membuat pengalaman dongeng lebih menyenangkan. (berbagai sumber/Z-1)
Kelima Penulis dongeng Indonesia ini menghasilkan karya legendaris yang menghibur sekaligus mendidik.
Ilustrasi dalam dongeng memainkan peran penting dalam membantu anak memahami cerita dan pesan moral, terutama bagi anak di bawah usia 11 tahun.
Mereka tidak hanya menceritakan dongeng, para pendongeng ini juga berkontribusi besar dalam pendidikan dan kemanusiaan.
Dongeng, legenda, dan cerita rakyat sering dianggap sama, namun masing-masing memiliki ciri khas yang membedakannya.
Dongeng adalah cerita yang diwariskan secara turun-temurun dengan tujuan mendidik dan menghibur, namun sarat pesan moral.
Lima pendongeng ini tak hanya menghibur tetapi juga melestarikan tradisi lisan melalui tulisan, menjadikannya warisan lintas generasi.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved